Ummat Islam 4.0: Selamat menunaikan ibadah ngabubuREAD


David Efendi
@pekerjaliterasi
@serikattamanpustaka

Bentuk bentuk Ibadah anak muda sekarang pada bulan puasa kali ini makin banyak kreatifnya. Semoga amalan kreatif juga bernilai indah maksimal di mata sang Pencipta Kalam (yang maha literated). Karena Allah itu mencintai keindahan. Ngabuburead, tentu tidak bertendensi mengalahkan kata “post-truth” ala kamus Oxford itu, namun dalam praktik kebudayaan literasi, kata ngabubuRead telah hidup disemai dalam semesta literasi kita. Entah, KBBI akan mengamuskannya atau tidak juga bukan soal prinsipil. Saya pernah mengisi form usulan kata ekoliterasi di KBBI online setahun lalu. Belum ada respon dan jluntrungnya.

Kembali ke topik ngabuburead. Suatu komunitas literasi, rumah baca komunitas tahun 2015 membuat poster ngabuburead dan melapak di alun alun kidul juga di tahun 2016 ngabuburead RBK ditayangkan di net TV serasa masih belum se dahsyat sekarang peristiwa ngabuburead ada di berbagai sudut jalan. Ini kebudayaan literasi yang bergerak dengan kekuatan sentripetal dan sentrifugal serta spontan sporadis bahkan anarkis.

Para jihadis dan radikalis gerakan literasi terutama yang dari kalangan muslim muda dan muslim millenial saya sebut sebagai ummat islam 4.0 nek pengen sebut 5.0 juga silakan. Seingat saya capitalisme juga baru sampai 4.0, belum lama ini, pakar Marketing Hermawan Kertajaya yang berusia 70 tahun terbitkan buku citizen 4.0 pula. Jadi, penomeran ini baik sebagai identitas kebaruan, kemajuan dan disrupsi. Bagi saya, disrupsi tak melulu soal teknologi dan robotisasi atau “terbaik dan murah” dalam konteks industri jasa. Tapi sebagai kaum taqwa hunter, barangkali amalan ibadah tak bisa hanya konvensional biasa biasa saja. Menggerakkan pengetahuan, ibadah ngabuburead adalah disrupsi dalam keimanan kita terhadap ayat Iqro’. Selalu terjaga di jalanan dan merawat teologi berbagi ilmu adalah penanda ummat islam 4.0.

Ibadah kreatif yang rutin dan ajeg harus menjadi daya tawar muslim muda yang akrab dengan barisan pejuang literasi. Amalan muslim zaman old yang baik kita ambil dengan kebaruan kebaruan yang tak perlu direcoki dengan bid’ah. Bagi saya sebagai ummat islam konservatif, bidah terbesar adalah soal kegagalan ummat islam meyakini postulat bahwa ilmu pengetahuan tak terpisah dari keimanan. Ummat Islam 4.0 selain hightech (terlibat disrupsi) juga jenis kaum beriman yang memecahbelah ilmu menjadi ilmu agama dan non agama, duniawi dan ukhrowi. Upaya pemisahan ini yang layak diganjar sebagai ummat islam sekuler alias ummat islam seleron yang perlu tindakan super upgrade atau rebooth jika tidak di CTRL DEL.

Ngabuburead adalah peristiwa literasi yang rata rata dilahirkan oleh praktik sosial literasi keseharian. Momentum puasa direspon secara kreatif dengan ngabuburead. Istilah kawin silang bahasa dan suara ini nampak agak latah tapi sangat diperbolehkan. Selain ngabuburead atau ngabubookread ada banyak jug peristiwa lainnya seperti pesantren literasi, literacy camp, kemah literasi, kopdar literasi, dan jambore literasi. Ummat islam 4.0 harus lebih kerja keras lagi agar serentetan peristiwa budaya literasi ini punya daya ubah dan daya ledak yang super maka perlu ada quantum di dalam upaya upaya kreatif tersebut. Quantum ngabubuRead, pesantren quantum literasi, dll.

Mengapa quantum? Bangsa ini kekuatannya dahshat, ummat islam ini wow to know yang bisa juga from zero to be hero, sehingga dengan spirit quantum zaman majoe potensi raksasa ini meledak untuk menjadikan bangsa yang berdaulat, benar benar kuat sejahtera dan mulia.

Prakondisi quantum literasi ini apa sebenarnya saya pun masih meraba raba apa dan bagaimananya. Hemat saya, jika ummat islam 4.0 itu golongan manusia yang ‘tahu banyak hal tentang sedikit hal’ (keahlian spesialis), atau tahu banyak tentang banyak hal’ dan bukan tipe tahu serba sedikit tentang banyak hal maka itu pra kondisi yang menggembirakan. Separah parahnya ya kita itu tahu kalau diri kita ndak tahu lalu meletupkan hasrat belajar, will to learn dan will to improve yang juga berarti will to power.

Jangan mengaku ummat islam 4.0 atau ummat baginda Nabi Muhammad jika tidak tahu kalau diri kita tidak tahu, atau tahu sedikit hal tentang sedikit hal. Para pemimpin islam tedahulu telah menunjukkan militansinya menggerakkan pengetahuan, kita bagaimana?

Tentu saja kita sedang mengupayakan peran peran islam transformasi dari banyak aspek, meminjam Mbah Kuntowijoyo, baik humanisasi, emansipasi, liberasi dan transendensi kita ujikan semua secara proporsional.

Amalan ibadah ngabuburead juga sama dengan amaliyah jihad lainnya yang dimuliakan Allah. Sesungguhnya kaum jihadis literasi yang masuk bagian ummat islam 4.0 adalah memiliki fisi profetik lahir dan bathin. Secara ilustratif posisi pelaku ngabuburead atau perpustakaan jalanan bisa di terangkan begini:

Jadilah penulis buku
Jika tak mampu, jadilah pembaca buku.

Jika tak mampu, jadilah pendengar buku. Jika tak mampu, jadilah orang yang mengantarkan buku (jadi penggerak buku ke jalanan). Jika tak mampu? Jadilah orang yang senang melihat semua jenis manusia di atas. Jika masih tak mampu? Mungkin iman telah padam. Lalu hastag #nyalakanIman #nyalakanapiliterasi.

Saudara semua yang budiman. Masih ada banyak hari ngabuburead ramadhan kali ini. Masih terbuka amalan perpustakaan jalanan beserta kreatifitas di dalamnya. Artinya, setiap kita punya peluang menjadi ummat islam 4.0 yang tekun, tanggap, ulet, inovatif dalam mengamalkan ajaran agama. Lazismu dan dompet dhuafa yang serius mensuport akrifisme literasi di seantero negeri itu jelas penghuni ummat islam 4.0 yang perlu kita sambut gayungnya cepat cepat. Ingat, di zaman disrupsi amal maka yang berlaku adalah: the time is ibadah (good deeds), sehingga menunda perbuatan baik sebagai sifat murtad dari pasukan ummat islam 4.0. Karena menunda pergerakan adalah sifat anti disrupsi dan anti kemajuan.

Selamat menunaikan ibadah ngabubuREAD, semoga menjadi ummat islam 4.0 yang dimuliakan di dunia dan kelak di akherat. Wallahu alam bi ashowab.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *