Tradisi Riset di Kalangan Generasi Milenial Muhammadiyah


Oleh: Hanapi*

Tradisi research memang agak langka dikalangan anak-anak millenial namun bukan berarti basis pengetahuan kaum muda ini tidak bagus akan persoalan publik yang berskala nasional maupun internasional. Anak-anak muda millenial memiliki akses informasi yang luas dan beragam yang mereka dapatkan melalui media-media online baik alternatif maupun mainstream tetapi akses akan sumber pengetahuan yang berlimpah tidak menjadikan daya kritis itu lahir. Di dalam membangun daya kritis itu sangat dibutuhkan komunitas epistemik yang mendiskusikan wacana-wacana progressif dan membangun tradisi penelitian transformatif untuk generasi muda millenial, dengan alasan bahwa anak-anak muda ini harus menjadi ‘produsen pengetahuan’ meminjam istilah Prof. Purwo Santoso, yang bisa menghasilkan pengetahuan yang transformatif sekaligus emansipatif (Santoso, Purwo, 2015:1-23).

Upaya-upaya untuk mewujudkan generasi muda menjadi ‘agen ilmu pengetahuan transformatif’ secara historis telah dilakukan oleh KH. Ahmad Dahlan yang mengintepretasikan teks-teks Al-Qur’an secara progressif yang mampu menuntaskan persoalan umat secara langsung. Misalnya, mengajarkan surat Al-Maun kepada murid- muridnya secara praksis yang manfaatnya bisa dirasakan oleh anak yatim dan kaum miskin, dengan cara menyantuni mereka. Apa yang telah dirintis KH. Dahlan memang tidak secara langsung menghasilkan produsen pengetahuan tetapi model ilmu sosial transformatif telah diajarkan kepada murid-muridnya. Pembangunan wacana keilmuwan progressif dengan pengajaran modern setidaknya ini usaha awal membangun generasi muda menjadi produsen pengetahuan ataupun agen pengetahuan transformatif.

Kalau generasi awal muda Muhamamdiyah yang di didik KH. Dahlan bukanlah termasuk generasi millenial maka generasi yang disebut millenial ini adalah mereka yang dilahirkan pada tahun 1995-2000 an yang secara konseptual ditafsir secara beragam oleh ahli-ahli berdasarkan kategori generasi y, z dan alpha. Namun karakteristik yang membedahkan generasi millenial dengan older generation dapat dilihat secara umum dari ketergantungan mereka akan teknologi yang tinggi (Smith dan Nichols, 2015:40). Hal Ini disebabkan oleh kondisi ekonomi keluarga mereka yang berada dalam kondisi baik maupun mapan ketika mereka dilahirkan sehingga daya akses akan dunia digital itupun tinggi.

Generasi y, z dan alpha ini memiliki perbedaan yang berdasarkan usia kelahiran, karakteristik dan ruang sosial, yang secara konseptual anak-anak millenial atau generasi y dilahirkan pada tahun 1981-1999 yang secara aktif berkontribusi di dalam dunia digital melalui aktivitas interaksi, sharing/upload, search, konsumsi konten dan menggunakan media sosial untuk belajar sekaligus bekerja (Bolton dan dkk, 2013: 245-246). Ini berbeda dengan generasi z yang dilahirkan di pertengahan tahun 1990 sampai 2000 an dalam konteks Indonesia dimana internet secara komersial baru masuk di tahun 1994. Kalau generasi ini lahir pada tahun 1995 berarti mereka sudah berusia 21 tahun yang sudah terlibat dalam pemilihan umum, bekerja, dan lainnya (tirto, 28/04/17). Generasi ini memiliki karakteristik yang melek digital, tidak lebih fokus pada generasi millenial, mudah beradaptasi atau belajar sesuatu yang baru, memiliki pikiran yang inklusif, cenderung kosmopolitan, dan kreatif secara ekonomi (tirto, 29/04/17).

Pasca dua generasi ini McCrindle dan Wolfinger (2009:201-203) mengembangkan teori generasi baru. Ini mereka sebut sebagai generasi alpha, yang lahir pada tahun 2010 disaat dunia mengalami krisis pangan, air, perubahan iklim dan tantangan lainnya. Para generasi ini akan menghadapi realitas global yang baru dikarenakan mereka dilahirkan di awal abad ke 21 tetapi generasi ini hidupnya sangat dekat dengan teknologi dari sejak kecil yang dapat kita lihat dari anak-anak generasi millenial yang sejak umur 5 tahunan sudah mengakses gadget Tiga generasi inilah yang akan mewarnai peta demografi dunia di masa depan khususnya di Indonesia, ini menjadi tantangan yang besar bagi organisasi pelajar khususnya IPM untuk melakukan dakwah pelajar yang kreatif, kontekstual namun tidak melupakan dimensi transformatif. Generasi ini lebih sukak bergerak di ranah-ranah yang tidak kaku, fleksibel dan menyenangkan.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai rumah inspiratif pelajar Indonesia hendaklah membangun budaya research di kalangan pelajar karena budaya ini akan menjaga nalar kritis dan keberpihakan sosial pelajar terhadap persoalan kebangsaan yang kompleks yang dimana realitas sosial menjadi kabur, kalau basis pengetahuan pelajar tidak kuat maka pelajar hanya akan menjadi objek pengetahuan bukan produsen pengetahuan yang menghasilkan karya- karya keilmuwan dari alam sosial Indonesia.
Posisi objek dan produsen sangat menentukan peta pertarungan kepentingan politik di Indonesia dimana setiap wacana yang diproduksi tidak pernah netral dari kepentingan, semua memiliki misi politik yang hegemonik ketika pelajar berkemajuan tidak menjadi produsen pengetahuan maka di masa depan pengetahuan tentang dunia pelajar hanya akan terus diteoritisasi oleh aktor-aktor intelektual global yang belum tentu memiliki keberpihakan terhadap kondisi sosial kita di Indonesia. Purwo Santoso mengatakan:

“ilmu seharusnya tidak dibatasi oleh nasionalisme. Terhadap tepisan ini saya hanya perlu mengingatkan bahwa ilmu sosial di negeri ini adalah ilmu tentang kita. Teori- teori yang dibangun orang asing tentang kebersamaan kita, merupakan ketidaksadaran kita akan arti penting masa depan kita. Pengetahuan orang asing tentang kita, pada dasamya adalah kesempatan lebih pada mereka untuk menguasai kita. Penguasaan akan ketidaksadaran kita, adalah pintu penjajahan ataupun dominasi. Apa yang terjadi kalau kendali pengembangan ilmu tidak ada pada diri kita? Ketidaksadaran tentang keseharian kita yang secara diam-diam telah mereka teorisasikan, memungkinkan mereka mengendalikan diri kita melalui ilmu pengetahuan” (2015: 2).

Penguasaan orang luar tentang kita melalui penelitian mereka, telah melahirkan teori- teori keilmuwan yang besar. Misalnya, Benedict Anderson tentang konsep kekuasaan dalam masyarakat Jawa, politik aliran oleh Herberh Feith, dual society ditulis oleh Booke. Setiap karya kelimuwan ini belum tentu memiliki projek sosial untuk mendorong proses demokratisasi kita ke arah lebih baik dengan mendayagunakan hasil research mereka sebagai cara untuk menjaring aktivis pro demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, pengalaman kami selama berkolaborasi dengan intelektual global, mereka sangat bersemangat dalam menghasilkan laporan research yang baik dan karya yang berkualitas tetapi tidak ada dimensi aksiologis untuk memperkuat gerakan pro demokrasi di akar rumput (Ibid, 2015: 3).

Generasi millenial inlah menjadi tumpuan masa depan ilmuwan Indonesia agar setiap alam sosial “kita mampu kita teoritisasikan namun kita tetap melakukan kerja-kerja advokatif bukan hanya menjadi produsen pengetahuan yang memproduksi ilmu tetapi tidak mendidikasikan ilmu untuk masyarakat. Kita harus berusaha untuk mewujudkan realitas sosial yang baik sebagaimana yang telah kita teoritisasikan” (Santoso, 2015: 9-10).Kesadaran akan situasi keilmuwan inilah yang seharusnya membuka mata generasi millenial di IPM untuk membangun budaya research di dalam organisasi yang bisa dilakukan dengan beragam cara untuk melahirkan ilmuwan muda di masa depan. Meskipun IPM memiliki banyak kader ilmuwan muda yang tersebar dalam beragam spektrum keilmuwan. Misalnya, ada David Efendi dan Ridho Al hamdi di dalam bidang politik, ada Azaki Khoirudin untuk tafsir Al-Qur’an dan keagamaan, ada Mas Muzakkir untuk sosiologi pendidikan dan lainnya. Ini hanya sedikit ilmuwan muda IPM yang penulis kenal namun yang terpenting tradisi penelitian yang hendak kita bangun dalam rangka mempelopori big data IPM di masa depan sebagaimana amanat Muktamar Sidoarjo kemarin yang merekomendasikan pembangunan big data IPM.

Di dalam membangun big data itu, kita perlu membangun budaya research sebagai pijakan awal untuk melahirkan peneliti pelajar yang mampu mendetailkan realitas sosial ke dalam tulisan secara metodelogis, kalau peneliti pelajar ini tidak menjadi agenda utama di dalam pergerakan IPM maka visi keilmuwan kita belum jelas walaupun kader IPM se- Indonesia mampu menulis tentang pelajar sendiri yang diterbitkan di dalam setiap buku-buku. Kita sangat mengapresiasi setiap karya pelajar terutama kader IPM karena dengan mereka menulis maka mereka sedang melakukan kerja-kerja keilmuwan tetapi level budaya keilmuwan kita hendaklah menuju tradisi research yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan persoalan pelajar dan membangun wacana alternatif ditengah variatifnya diskursus-diskursus yang berkembang. Pembangunan big data ini telah dilakukan oleh PP IPM sebelumnya yang memulai research agenda aksi IPM secara nasional yang menunjukkan bahwa literasi masih menjadi agenda utama yang secara kuantitatif sekitar 57, 7% dan ekologi masih sekitar 28 %. LaPSI PP. IPM juga melakukan research terhadap gerakan ekologi IPM secara nasional khususnya di PD. IPM Surabaya yang melihat bagaimana anak-anak muda Muhammadiyah Surabaya mengorganisir gerakan ekologis yang advokatif di masyarakat pesisir. Tradisi research ini

bukanlah ahistoris di dalam organisasi pelajar berkemajuan melainkan ada jejak keilmuwan yang panjang sebagaimana visi IPM membangun masyarakat ilmu namun usaha membangun big data IPM membutuhkan teknologi yang canggih yang secara struktural bisa dilakukan oleh PP. Muhamamdiyah untuk membangun data organisasi yang secara finansial memiliki kemampuan untuk membeli teknologi dan membangun sistem big data bagi kepentingan dakwah Islam berkemajuan di Indonesia.
Komunitas Literasi: Epistemic Community of IPM.

Beberapa dekade terakhir gerakan literasi berbasis komunitas berkembang pesat di IPM, gerakan ini telah hadir di berbagai pimpinan daerah bahkan hingga ranting yang mengorganisir buku-buku untuk disediakan bagi pembaca di ruang publik tanpa persyaratan apapun. Kader IPM telah menjadi penyedia fasilitas layanan publik yang selama ini tidak mampu dipenuhi oleh negara terutama untuk menyediakan buku-buku di area terpencil, tempat tertinggal dan lainnya (remote area). Gerakan literasi IPM bukan hanya untuk menyediakan fasilitas perbukuan tetapi faktanya dilapangan juga membangun diskursus- diskursus progressif yang terbuka untuk semua elemen pergerakan. Ini menandakan bahwa komunitas literasi menjadi komunitas epistemik yang inklusif untuk mengarusutamakan keilmuwan progressif dan kritis ke dalam organisasi. Misalnya, Rumah Baca Komunitas di Yogyakarta yang didirikan oleh PP. IPM awalnya telah menjadi rumah bersama untuk umat manusia dan sering menyelenggarakan diskusi wacana-wacana kritis.

Namun, kinerja-kinerja keilmuwan ini bukanlah ahistoris melainkan PP IPM dari sejak dahulu membangun tradisi membaca dan menulis di dalam organisasi yang dibuktikan banyaknya karya-karya buku yang diterbitkan oleh PP IPM dari setiap generasi ke generasi dan dipilihnya teologi Al-Qalam sebagai paradigma gerakan. Ruh keilmuwan inilah menandakan bahwa budaya mini research hingga research serius itu ada di IPM baik secara individual maupun organisatoris tetapi komunitas epistemik itu bukan dinamakan komunitas literasi seperti rumah baca, ransel pustaka, sahabat literasi dan lainnya. Komunitas itu dinamakan oleh alumni IPM dengan sebutan KIR (Komunitas Ilmiah Remaja) yang membuat beragam pelatihan jurnalistik, fasilitator, pengkaderan dan research.

Apapun model komunitas yang diinisiasi oleh IPM hendaklah komunitas itu menjadi komunitas epistemik atau keilmuwan untuk melahirkan cendekiawan muslim muda di Indonesia yang mewadahi kaum muda untuk belajar dan berproses untuk menjadi seorang ‘intelektual organik’ yang bagi Gramsci mampu menyelesaikan persoalan masyarakat tetapi tetap mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Komunitas literasi yang telah menjadi komunitas epistemik akan melahirkan kader-kader IPM yang bercorak kosmopolitan sekaligus kritis sehingga proses membangun budaya research akan lebih mudah dilakukan karena tanpa adanya tradisi keilmuwan yang baik maka budaya research akan sulit diwujudkan di dalam organisasi. Apalagi untuk membangun big data yang membutuhkan banyak peneliti organik yang lahir dari IPM sendiri.

Bilingualisme dan Visi Keilmuwan Global IPM
Kemampuan berbicara, menulis dan membaca dalam dua bahasa menjadi kewajiban bagi setiap ilmuwan untuk memudahkan mereka dalam berinteraksi dengan ilmuwan mancanegara namun kualitas pengajaran bahasa di Indonesia sangat jelek. Bahkan beberapa kalangan mengangap pendidikan bahasa inggris di sekolah banyak mengalami kegagalan dikarenakan pengajaran bahasa kita tidak praktis yang membuat berbicara bahasa asing itu tidak menjadi habit bagi generasi kita. Malahan kampung inggris di Pare Jawa Timur menjadi tempat belajar bahasa terbaik dibandingkan lembaga-lembaga sekolah kita.
Kader pelajar berkemajuan sebenarnya banyak yang telah go internasional baik mengikuti pertukaran pelajar maupun mendapatkan beasiswa di luar negeri namun bahasa ini belum menjadi agenda utama di level PP IPM hingga ranting meskipun untuk menjadi bagian dari PP IPM dibuktikan dari sertifikat TOEFEL atau IELTS namun skill bahasa aktif itu tidak pernah diuji. Kita tidak meragukan kemampuan bahasa para kader se-Indonesia tetapi kemampuan untuk berbicara baik dalam bahasa inggris atau arab sepertinya telah menjadi bahasa yang sudah biasa dipakai di pesantren pesantren Muhammadiyah yang bahkan ada sudah menjadikan bahasa mandarin sebagai bahasa wajib di sekolah atau pesantren. Namun kita tidak boleh menutup mata bahwa bilingualisme belum menjadi agenda utama di dalam organisasi.

Saya masih ingat bahwa agenda bilingualisme ini diusulkan oleh teman teman PW Jatim yang memang kesadaran kosmopolitan nya sudah terbentuk, ini menunjukkan adanya keresahan dari kader bagaimana visi keilmuwan global IPM ke depan dan internasionalisasi gerakan IPM, kalau basis bilingualisme itu belum dibangun. Gerakan bilingualisme ini bisa dimulai dengan membentuk bidang atau lembaga yang tugasnya memberikan pelatihan beragam bahasa sesuai kebutuhan kader IPM di berbagai level yang secara potensi banyak sekali kader IPM memiliki kemampuan bahasa tetapi belum diorganisir secara baik untuk membangun komunitas bahasa inggris, arab dan mandarin.

Penguatan skill bahasa kader akan berimplikasi pada visi keilmuwan global IPM yang ingin gerakan IPM bukan hanya mempengaruhi lingkup nasional tetapi mampu memberikan kontribusi dalam perdebatan ilmuwan muda global yang selama ini belum terfasilitasi secara baik. Kita menyadari bilingualisme dan pembangunan budaya research tidak bisa dipisahkan dikarenakan bahasa menjadi penghubung kita untuk memberikan sumbangsih kita di dalam jurnal-jurnal internasional ataupun artikel untuk koran-koran global seperti the Guardian, New York Time dan lainnya. Kelemahan bahasa ini dialami oleh semua ilmuwan di Indonesia, banyak ilmuwan kita yang tidak mampu menulis jurnal berstandar internasional yang disebabkan oleh lemahnya kebahasaan mereka padahal mereka produktif menulis dalam bahasa ibu kita. Kader kader muda yang secara intelektual ingin kita cetak sesuai dengan paradigma pelajar berkemajuan adalah kader yang kosmopolit yang mampu berbicara dalam dua bahasa, memiliki tradisi keilmuwan transformatif dan melahirkan gerakan yang mengakar. Ini kerja-kerja yang asyik, yang setiap kader harus memulainya demi memberikan kontribusi bagi dunia.

*Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Politics UGM, Direktur Lapsi PP. IPM dan Pegiat Literasi Rumah Baca Komunitas


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *