Terjangkau dan Kemauan Sendiri


Oleh: Sri Lestari Linawati

Halaman 8 Republika hari ini memaparkan “Sebuah Metode Mudah Dipahami”. Ustaz Achmad Farid Hasan yang mengasuh kegiatan belajar baca Alquran tersebut memaparkan kunci suksesnya.

Fokus selama 30 menit untuk membaca Alquran adalah hal pertama yang perlu dilakukan pembelajar. Tampaknya sederhana, namun kenyataannya, setiap kita pasti pernah mengalami betapa fokus membaca Alquran, itu adalah hal yang tidak mudah. Hanya dengan kehendak dan ijinNya yang memungkinkan kita mampu fokus baca Quran, tanpa memikirkan hal-hal lainnya.

Ya.. ya. Ada saja gangguannya. Yang buru-buru mau mengerjakan hal lain yang -menurut logika kita- lebih penting dan lebih mendesak dilakukan. Seolah baca Quran tidak terlalu penting. Baca Quran masih bisa dilakukan besok-besok.

Fenomena itu menunjukkan pada kita, betapa halusnya perjuangan setan dan iblis dalam upaya menggoda kita manusia. Duh! Bahkan banyak ayat dalam Alquran yang menerangkan bahwa “setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

Ketika kesibukan kerja menyita energi, perhatian, tenaga dan pikiran kita, sangat mungkin kita tergoda untuk bicara dalam hati “Ntar ajalah baca Qurannya”. Atau “Sudah saya baca dalam shalat kok”. Padahal, dalam bahasa Pak Hernowo Hasim diungkapkan perlunya membaca secara lantang, reading aloud (Free Writing, 2017: 46).

Membaca secara lantang yang dibiasakan, menurut Hernowo, akan membuat diri kita peka terhadap susunan teks yang iramanya tidak enak dibaca atau tidak lancar ketika melafalkannya. Pak Hernowo mengungkapkan hal itu dalam konteks mengikat makna, namun demikian, saya merasakan, demikian juga yang terjadi saat kita membaca Alquran. Itu akan melatih kepekaan rasa kita. Jadi, ini menjelaskan pentingnya kita baca secara lantang bacaan Alquran. Istilah orang Jawa, tidak cukup dibatin , dibaca dalam hati.

Syarat kedua adalah tidak mengantuk. Tampaknya sepele ya.. Ya, begitulah rupa-rupa godaan yang harus kita hadapi dalam membaca Alquran. Maka penting bagi kita untuk memohon pada Allah agar tidak mengantuk saat membaca Alquran.

Ketiga adalah atas kemauan sendiri. Tidak boleh atas paksaan orang lain. Paksaan institusi? Dilematis juga ya.. Pe-eR nih buat institusi. Bahwa perlu dicarikan metode yang mudah bagi pembelajar agar cepat bisa membaca Alquran.

Keempat adalah peserta bisa membaca huruf latin alias tidak buta huruf. Alasannya karena semua huruf Alquran ada latinnya.

Dalam sudut pandang pembelajar, yang lebih utama dibutuhkan adalah biaya yang terjangkau. Biaya mahal menjadi kendala tersendiri.

Dari uraian di atas, menjadi tahulah kita bahwa pembelajar baca Alquran membutuhkan metode yang mudah dipahami dan biaya terjangkau.

Bila dikaji lebih jauh, ada 2 hal utama yang musti jadi panduan, yaitu harga terjangkau, mudah dan murah. Hal-hal inilah yang perlu dirumuskan dalam dataran kongkrit oleh para penyelenggara kegiatan belajar membaca Alquran.[]

Wallahu a’lam.
Yogyakarta, 8 Juli 2018.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *