Tentang Pram, Buruh, Pendidikan dan Indonesia


Oleh Fikri Fadh*

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer (Pram) wafat pada tanggal 30 April 2006. Pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions, menetapkan 1 Mei sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia. 2 Mei bertepatan dengan tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia menetapkan menjadi Hari Pendidikan Nasional.

Ini adalah renungan saya saja, dan terbesit sebuah pertanyaan, kenapa hari-hari itu berderetan? Jika kita melihat kalender, tidak akan mengetahui peristiwa-peristiwa besar pada tanggal-tanggal itu. Tahun peristiwa memang berbeda, bahkan dengan rentang jarak yang jauh.
Saya termasuk orang yang sangat melankolis terhadap angka tanggal sebuah peristiwa. Bukan mengkultuskan lho ya, tapi hanya sebagai penanda saja. Terutama penanda akan adanya sebuah usaha. Suatu penanda akan peristiwa perjuangan, dalam sejarah panjang proses kehidupan bangsa Indonesia.
Pram memang seorang sastrawan yang hebat. Karyanya diterjemahkan ke bebagai bahasa. Kandidat peraih nobel sastra dunia. Karyanya sampai saat ini masih hidup. Bukunya berderet terpajang di toko-toko buku dengan versi cover baru. Pram bukan satu-satunya sastrawan yang hebat. Tapi karena tanggal wafatnya berderetan dengan dua tanggal peristiwa hebat, yaitu hari buruh dan hari pendidikan nasional, yang menjadi alasan saya memilihnya dalam tulisan ini.

Kabar Sastra Indonesia

Ada seorang esais pernah mengatakan, “di era sekarang ini, saya belum menemukan puisi yang bisa merubah keadaan, atau setidaknya memberikan pencerahan”, tuturnya dalam sebuah obrolan. Puisi yang merupakan salah satu jenis karya sastra memang si pembuatnya yang lebih mengetahui hal apa yang sedang dia maksud. Tapi tidak di sangka, beberapa hari setelah sang esais itu mengucapkan itu, puisi bikin geger Indonesia. Seorang ibu yang merupakan anak Tokoh membacakan sebuah puisi. Indonesia digegerkan dengan puisi tersebut.
Jika berkarya dengan puisi tidak bisa memberikan perubahan yang baik untuk negeri ini, setidaknya bisa bikin geger. Itu sudah cukup. Kita suka kan sesuatu yang giduh? Kemudian berbondong-bondong orang menciptakan dan membaca puisi. Alhamdulillah, banyak orang yang merespon puisi dengan puisi, karya dengan karya.
Tidak lama setelah itu, ada seorang ahli filsafat yang mengatakan dalam sebuah diskusi di salah satu stasiun televisi sawata. Dia dalam ungkapannya, sebenarnya menyelamatkan makna dari sebuah fiksi. Dia menganggap, masyarakat kita salah dalam membedakan apa makna fiksi dan fiktif. Sehingga karya yang berjenis fiksi kurang mendapat kepercayaan, yang sebenarnya karya fiksi itu adalah meningkatkan imajinatif yang positif dalam sebuah proses berfikir. Sastra bisa membangun semangat dan meruntuhkan suatu bangsa.

Kabar Buruh Indonesia

Momentum May Day 1 Mei selalu menjadi waktu untuk buruh dan aktifis melakukan refleksi atas upaya peningkatan kesejahteraan buruh. Sebenarnya, tidak hanya saat May Day saja, kawan-kawan kita para buruh melakukan aksi. Terlebih jika perusahaan tempat mereka bekerja, mengeluarkan kebijakan yang merugikan para pekerja.

Teman saya banyak yang menjadi buruh atau pekerja pabrik. Kemarin saya bertemu dengan salah satu teman semasa SMK, yang pernah menjadi buruh di sebuah pabrik. Dia menuturkan alasan dia memutuskan untuk keluar. Padahal gajinya sudah lumayan. Tapi gaji lumayan secara nominal, tidak membuatnya tenang dalam bekerja. Semenjak menikah, memang dia lebih relijius, mungkin saya juga akan menjadi relijius seperti dia setelah menikah. Ha ha ha. . .
“Ibadahku menganggu ibadahku”. Kira-kita begitu judul dari alasan, kenapa dia keluar dari tempat bekerja. Tidak diizinkan untuk melaksanakan sholat, saat masuk sift. Bahkan jika sift siang dan itu hari jum’at, tidak ada toleransi bagi para pekerja laki-laki, untuk melaksanakan sholat jum’at. Sebenarnya bisa saja tukar jadwal atau membuat strategi. Tapi, mau bagaimanapun, pekerja ya tetap pekerja, pengusahalah yang maha kuasa.
Dia memutuskan untuk pulang dan bekerja apapun di kampungnya. Yang penting rezekinya halal. Saya tidak mau, meskipun gajinya besar tapi harus mengorbankan sholat. “Saya tidak mau memberikan nafkah untuk keluarga saya tapi sholat saya tinggalkan”, tutur dia. Di kota metropolitan sana, ternyata masih ada yang memiliki prinsip tak terbeli seperti ini, duh. . . malunya saya.
Kabar Pendidikan Indonesia.
Saya baru sadar tahun ini, jika setelah may day adalah hari pendidikan nasional. Saya tidak mau berpanjang-panjang tentang pendidikan di Indonesia. Saya bukan guru, saya seorang murid. Tapi saya murid dari semesta.
Apa yang ada di fikiran saya, kurang lebih sama seperti teman saya yang menjadi guru di Sokola rimba. Dia baru pulang dari Papua. Dia menceritakan bagaimana pendidikan di sana, dimana pendidikan juga mengkolaborasikan dengan aspek lokal. Tidak hanya menerapkan teori-teori dari buku-buku yang tebal.
Saya mengajak kita semua, untuk menjadikan pendidikan sebagai alat pembebasan. Pendidikan sebagai alat bantu untuk memecahkan permasalahan, baik saat menjadi peserta didik, ataupun sudah menjadi bagian dari masyarakat. Pendidikan yang bermanfaat untuk bertahan hidup akan menjadikan masyarakat lebih arif dalam memahami, bagaimana hidup ini. Semoga, pendidikan yang membebaskan juga berdampak baik bagi teman-teman kita, kelas menengah pekerja di Ind0nesia.

Indonesia yang kita cita-citakan.
Siapapun saya yakin, berharap memiliki kehidupan yang lebih baik. Untuk dirinya, keluarga dan juga bangsa yang dia cintai. Tapi, harapan lebih baik tidaklah ditunggu. Tidak ada yang mengantar harapan itu. Tidak ada yang menyediakan, sehingga bisa kita ambil seperti saat prasmanan di kondangan.

Harapan lebih baik harus kita jemput. Bangsa ini membutuhkan tenaga lagi, supaya minat baca menjadi tinggi. Sehingga, jika ada permasalahan di dunia sastra misalnya, tidak hanya mengedepankan aspek hukum. Tetapi menggunakan aspek yang setara. Sehingga, kegiduhan yang terjadi, tidak ditumpangi oleh kepentingan politik busuk.

Kebijakan tentang buruh misalnya. Seorang buruh tentu tidak hanya membutuhkan uang. Tetapi juga membutuhkan ruang. Buruh adalah manusia yang membutuhkan ruang untuk mengembangkan diri. Bagaimana mungkin bisa mengembangkan diri, untuk membaca saja dia sudah di lelahkan dengan bekerja padat setiap hari.

Cita-cita pendidikan Indonesia sangatlah mulia. Setiap warganya memiliki hak yang sama. Semoga di 73 tahun negeri ini merdeka. Merdeka pula hak mendapatkan pendidikan untuk masyarakatnya.
Saya berdo’a untuk mendiang Pramoedya, bagi saya beliau adalah pahlawan sastra. Saya juga, mengajak kepada teman-teman saya yang pekerja, mari kita perlahan untuk berkarya dan berdaya. Seperti apapun karyamu, pasti di apresiasi.
Dengan pendidikan yang lebih baik, tentunya masyarakat Indonesia akan semakin mandiri dan berdaya. Semoga kelas pekerja kita mulai berkurang dan berganti menjadi para pengusaha kreatif. Semoga.
_________________________
*Penulis adalah Founder Komunitas Literasi Janasoe dan Pekerja Teks Komersial.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *