Taman Pustaka AR Fahruddin


Kurang lebih setahun lalu saya mendengar beberapa sekolah Muhammadiyah terpaksa bubar atau digabung di Kulonprogo, bahkan sepuluh tahun lalu ada di Sleman Yogyakarta ibukota Muhammadiyah. Sepuluh tahun lalu lebih Mas Mukti dan tim yang dibangun bekerja keras meresikokan hidupnya menyelematkan sekolah yang di ambang jurang nasibnya. Menyelematkan telur diujung tanduk, adalah tindakan mustahil yang konyol. Tidak demikian bagi sosok mas Mukti, alumni IPM terbaik yang mewakafkan dirinya dan jiwa raganya untuk menolong robohnya sekolah Muhammadiyah. Sekolah bukan hanya soal murid, soal guru cari makan, sekolah adalah infrastruktur peradaban bagi kehidupan secara luas. Mas Mukti adalah sosok yang pantas dalam era kekinian disebut penoloeng kesengsaraan oemoem. Negara telah menganugerahi gelar guru inspiratif pekan lalu kepadanya. Saya menyebutnya, pahlawan sekolah bubar.

Soal taman pustaka, dua bulan lalu mas Mukti menelpon dan intens mendiskusikan dengan saya di WA ihwal taman pustaka. Dan kemarin itu hari bersejarah. Sangat berkesan bagi saya: disambut murid yang hanya empat orang, PRM warga, mengangkat bersama buku limaratus judul naik tanjakan sekolah, disambut kepala sekolah dan dua guru lainnya masuk ke ruang calon perpustakaannya, ada pasukan IPM IMM yang siap menjadi laskar kebangkitan sekolah nyaris bubar ini.

Berpacu dengan waktu. Saya terus berdoa, bismillah. Awalnya cukup bersedih soalnya tanggal 11 pagi saya masih di Tarakan. Tapi takdir berpihak pada saya. Sampai di Bandara Juwata, Tarakan Kalimantan utara jam 6.30 wib, ditelpon mas Abdulah Mukti perihal acara launching taman pustaka AR Fahruddin (nama ini penting karena dekat Galur yang menjadi jejak Pk AR). Mas Mukti adalah senior, tauladan saya di IPM dan Lapsi, seorang guru inovator, tak gampang menyerah, keras kepala menolong kesengsaraan sekolah, menghidupi sekolah dari nothing to be something. Seorang guru aktifis yang sangat dibutuhkan bangsa ini. Saya diajak bergabung menghidupi sekolah Muh Kokap adalah panggilan yang membuat hati penuh syukur, bertaawanu di dalam kebaikan dan literasi. Bismillah. Ini semua rasa gelisah sepanjang perjalanan.

Sampai Balik Papan ada info, merapi meletus. Makin panik akan delay pesawat ini. Berdoa saja sambil baca kumpulan cerita Bukunya Irwan Bajang. Mengusir gelisah. Semoga bandara Adisucipto tak ditutup karena hujan abu. Doa doa doa, baca baca baca.

Alhamdulillah, landing di Adisucipto jogja jam 11, sampai rumah jam 12.30, ados (mandi) terus ke kulonprogo menghadiri launching Taman Pustaka di Smp Muhammadiyah 1 Kokap. Peristiwa penting yang tak boleh dilewati begitu saja. Alhamdulillah sampailah saya ke lokasi, berbincang dengan kepala sekolah perempuan, Mbak Siti dan guru senior pensiunan yang militan bernama Pak Sugi.


Penyerahan buku dari gerakan hibah buku MPI PP Muhammadiyah dan serikat taman pustaka kepada taman pustaka AR Fahruddin di SMP Muhammadiyah Kokap kemarin 11 Mei 2018. Disaksikan oleh PR Muhammadiyah dan warga setempat. Warga yang memakai sarung pada tahun 1996 pernah aktif di Taman baca di kompleks buruh pabrik di Tanggerang. Semangat dan antusias berdirinya taman pustaka di Kokap. Bismillah semesta mendukung, Allah meridhoi.

InsyAllah taman Pustaka ini akan membangkitan pendidikan dan pengetahuan di Kulonprogo. Semesta dan penciptanya insyallag bersama kita semua, para laskar taman pustaka.

Akhirnya, semoga taman pustaka ini menjadi pusat belajar masyarakat dan memberikan ruang hidup bagi keberlanjutan “sekolah laskar pelangi” ini. Selamat sukses taman pustaka AR Fahruddin yang dihidupi oleh berbagai komunitas dan individu. Wallahu ‘alam.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *