Suara Muhammadiyah, Suara Warga


 

Oleh : Budi Nurastowo Bintriman

Kita umat Islam dan warga Muhammadiyah patut bersyukur atas diresmikannya gedung Graha Suara Muhammadiyah. Ini menambah ikon pusat-pusat unggulan Persyarikatan. Khususnya keunggulan di bidang jihad bil qalam dalam arti luas. Ia bukan sekedar dalam arti bidang kewartawanan / jurnalistik saja.

Pilihan Suara Muhammadiyah (SM) sudah sepantasnya dan sudah seharusnya memang dijatuhkan ke sana. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, ranah jihad bil qalam juga menjadi penanda majunya peradaban sebuah bangsa / komunitas. Pilihan ini pulalah yang nantinya akan menjadi faktor pembeda dengan terbitan-terbitan jurnalistik lainnya. Maka SM tidak boleh terjebak pada ranah sempit kewartawanan / ranah sempit jurnalistik belaka.

Karena jika perihal itu sampai terjadi, SM akan terjebak pada kedigdayaan dan keunggulan semu. Betapa tidak? Saat terbitan-terbitan lain berjuang sekuat tenaga cari pelanggan dengan cara-cara sekreatif mungkin, secerdas mungkin, dan seefektif mungkin, SM bisa mendapatkan pelanggan cukup dengan instruksi dari Pimpinan Pusat kepada seluruh Amal Usaha Muhammadiyah dan seluruh Pimpinan seluruh Indonesia, dari tingkat ranting, cabang, daerah, dan wilayah. Belum lagi himbauan kepada seluruh pimpinan, kader, karyawan AUM, dan lain-lain.

Perihal itu adalah “berkah” keunggulan SM, yang tak dipunyai oleh terbitan-terbitan lain, dan wajib kita syukuri. Tapi harus diingat, bahwa perihal itu bukan merupakan keunggulan kualitatif. Bila perihal ini tak ada yang mengingatkan, SM hanya akan dilanggan, diterima tiap tengah bulan oleh pelanggan, kemudian dilempar ke kolong meja. Maka sembari terus meningkatkan kualitas, energi SM yang tersisa (karena tak bersusah-payah cari pelanggan), bisa digunakan untuk “menggarap” ranah jihad bil qalam dalam arti luas.

Misal, SM bisa menumbuh-kembangkan taman-taman pustaka yang sudah digerakkan oleh beberapa kader Persyarikatan di berbagai daerah. Suara Muhammadiyah bisa menginisiasi sebuah program untuk melahirkan penulis-penulis hebat dalam bidang apa saja. Suara Muhammadiyah bisa membina SDM-SDM di wilayah, daerah, cabang, hingga ke ranting-ranting agar mempunyai terbitan sendiri-sendiri (majalah, tabloid, buletin, selebaran) untuk menampung karya-karya tulis warga. Kader-kader muda Muhammadiyah di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah Muhammadiyah bisa disasar untuk program ini.

Bahkan saya yakin para awak SM sudah lebih hebat dari sekedar masukan-masukan sederhana ini. Maka ya silahka, ceburkan diri kalian pada tantangan-tantangan indah tersebut. Jangan sampai terlena berkepanjangan oleh “sabda-sabda sakti” dari Pimpinan Pusat. Jihad bil qalam… lanjutkan!!! Wa-ALLAHU a’lam…