2 menit waktu baca

SOLIDARITAS AKTIFIS MUDA MUHAMMADIYAH UNTUK #TAMANSARIMELAWAN

  1. Keislaman dan etika kemuhammadiyahan tidak membenarkan penghancuran ruang hidup manusia. Karena, tindakan represif aparat tak dapat dibenarkan secara etis dan moral islam.
  2. Solidaritas organik di kalangan aktifis masyarakat sipil ini adalah bagian utama dan pokok sebagai bentuk solidaritas insani. Karenanya, sampai kapan pun kebenaran dan keadilan harus diperjuangkan. Negara dan aparatnya tak boleh lupa bahwa ada konstitusi bangsa ini yang mewajibkan kemanasiaan harus dimuliakan dengan keadilan dan keberadaban.
  3. Kejahatan dan penggusuran terjadi di berbagai tempat, rasanya ada rasa keadilan yang terkoyak, sementara negara hadir justru sebagai penyebab persoalan. Karenanya, dibutuhkan kekuatan dan daya besar bernama solidaritas semesta untuk “kawan bantu kawan”, saudara bantu saudara.
  4. Solidaritas aktifis sebagai bentuk jihad konstitusi, praktik amar ma’ruf dan nahi munkar dalam menanggulangi darurat penggusuran. Aktifis muda Muhammadiyah melawan penyimpangan mengelola negara ini: dari “kerja kerja kerja”, jadi “gusur gusur gusur”. Kita tak akan membiarkan negara ini mengurus manusia seperti mengurus barang rongsok: bongkar-bongkar paksa.
  5. Bencana, ketidakadilan agraria, dan pengrusakan lingkungan adalah tak terpisahkan satu dengan lainnya. Karenanya, sebagai gerakan islam yang punya nalar pembebasan maka diperlukan revolusi teo-ekologis yang dapat secara aktif untuk urun daya menyelesaikan persoalan darurat tersebut. Karenanya, memperjuangkan keadilan lingkungan adalah tugas sekaligus kewajiban moral intelektual aktifis. Membela korban penggusuran itu adalah sebuah tindakan benar.
  6. Negara yang tak mendaruratkan persoalan lingkungan, keadilan distribusi tanah dan potensi bencana ekologi menunjukkan negara ini tak serius mengurus manusia dan alam. Negara ini bukan milik investor kapitalis, juga persoalan hidup bukan hanya soal radikalisme dan terorisme agama. Kenapa negara gampang mendaruratkan radikalisme tetapi rabun melihat persoalan keadilan lingkungan dan ruang hidup.
  7. Penataan ruang atau alih fungsi ruang yang tidak mempertimbangkan aspek kemanusiaan pada akhirnya akan menyingkirkan masyarakat, terutama masyarakat rentan dan miskin. Muhammadiyah sebagai elemen sosial yang besar sudah semestinya aktif merespon persoalan penggusuran paksa ruang hidup masyarakat seperti terjadi di Tamansari, Kota Bandung.
  8. Pada dasarnya, semangat Muhammadiyah adalah semangat pembebasan. Seabad lalu ijtihad KH. Ahmad Dahlan telah sangat maju mengatasi persoalan-persoalan sosial, dan abad ini Muhammadiyah harus mencangkupkan etika, perhatian, dan komitmennya pada persoalan-persoalan lingkungan, yang bukan saja tentang “zero waste”, namun juga hal-hal yang lebih mendesak, seperti perampasan ruang hidup. Muhammadiyah, dalam hal ini, tidak boleh terlambat atau enggan terjun merespon kasus-kasus eko-kemanusiaan.
  9. Dengan pertimbangan-pertimbangan itu, kami aktifis muda Muhammadiyah peduli lingkungan hidup menyatakan secara tegas dukungannya terhadap korban penggusuran di Tamansari, Bandung. Kami juga menyeru pada elemen-elemen Muhammadiyah lain untuk turut menyingsingkan lengan baju dan terjun membantu selayaknya Muhammadiyah selama ini sigap terjun membantu korban-korban kebencanaan lain.
Baca juga:  Serikat Taman Pustaka dan Perpustakaan masjid Gede Kauman Hadiri Forum Rembug Literasi Islam

Malang, 15 Desember 2019

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...