Setelah Bendera Merah Putih Berkibar


Oleh: Iwan Setiawan)* 

Setelah bendera merah putih dikibarkan dijalan Pegangsaan Timur 56, Indonesia masih belum aman. Pengibaran bendera di depan rumah Ir. Soekarno, rumah ini merupakan hibah dari Faraj Martak, saudagar keturunan Arab. Tepat 17 Agustus 1945 pukul 10.00 wib Indonesia merdeka. Berita kemerdekaan Indonesia disambut gembira oleh segenap rakyat Indonesia. Setelah Jepang menyerah kalah kepada Sekutu, berakhir pula kekuasaan Jepang di Indonesia. Tapi Belanda yang hengkang belum lama dari Indonesia, mulai masuk kembali. Belanda menyelinap masuk bersamaan tentara Sekutu yang masuk ke Indonesia.

16 September Tentara Belanda NICA (Netherlands Indies Civiele Administration/ Pemerintahan Sipil Hindia Belanda) yang membonceng tentara sekutu pimpinan Inggris yang bertugas melucuti tentara Jepang, masuk Jakarta. Saat itu Jakarta sudah dikuasai sepenuhnya oleh pemerintah RI. Masuknya Tentara NICA dibawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook, menjadikan Jakarta bergejolak. Jakarta makin mencekam. Teror terjadi dimana-mana, Tentara NICA memang memancing insiden dimana-mana. Soekarno dalam otobiografinya Penyambung Lidah Rakyat Indonesia tulisan Cindy Adams menyampaikan, selama 3 bulan setelah NICA masuk Jakarta hampir 8000 orang yang menjadi korban. Para pemimpin republik pun tinggal berpindah-pindah. 

Ibukota diboyong ke Yogyakarta.

Melihat kondisi ini Sri Sultan Hamengku Buwono IX menawarkan Ibukota Negara di Jakarta dipindah ke Yogyakarta. Tawaran ini disambut baik oleh para pemimpin republik di Jakarta. Dalam sidang Kabinet yang dilaksanakan pada 3 Januari 1946 diputuskan Ibukota pindah ke Yogyakarta. Malam harinya pada 4 Januari 1946 seluruh pemimpin republik ini naik gerbong kereta api dari Manggarai, berhenti di rel Pegangsaan Timur untuk menjemput presiden Sukarno. Kereta Luar Biasa (KLB) ini membawa rombongan pemimpin republik ini menuju Yogyakarta. Dalam gelap tak berbintang, Sri Sultan HB IX sudah menanti rombongan dari Jakarta di Stasiun Tugu Yogyakarta.

Yogyakarta siap menjadi ibukota negara. Gedung Agung menjadi pusat pemerintahan. Rakyat Yogyakarta dengan sukarela membentuk laskar rakyat yang dimaksud untuk membantu TNI dalam menanggulangi serangan musuh. Salah satu laskar Rakyat yang terkenal adalah Askar Perang Sabil (APS) berdiri pada 23 Juli 1947 dengan markasnya didepan Masjid Gedhe Kauman. Saat ibukota pindah ke Yogyakarta, pindah pula kegiatan pemerintahan dan para cerdik cendekia di republik ini yang tinggal di Jakarta, kini berada di Yogyakarta. 

Belanda tidak tinggal diam. Sebenarnya setelah Proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 republik ini belum utuh benar. Tentara Sekutu yang dipimpin Inggris dan dibonceng Tentara NICA masih menguasai 2/3 wilayah republik ini. Pada 15-25 Juli 1946 Jenderal Van Mook menggelar Konferensi Malino dengan mengundang orang Indonesia yang pro Belanda. Maka berdirilah Negara Indonesi Timur. Belanda juga merekrut 60.000 pribumi sebagai tentara KNIL. Belanda dengan jumawa berunding dengan Pemerintah RI lewat perjanjian Linggarjati pada 11 November 1946. Perjanjian ini menunjukkan Belanda masih punya kekuasaan di republik ini. 

Belanda memang ingin menguasai kembali republik ini. Pada 21 Juli 1947 Belanda melaksanakan Agresi Militer ke I. Tujuannya untuk menguasai perkebunan dan kilang minyak yang kaya. Aksi ini dinamakan aksi polisional dan merupakan urusan internal pemerintah kolonial Belanda. Aksi ini menyebabkan PBB turun tangan dengan membuat Komisi Tiga Negara (KTN) dengan hasil diadakannya perundingan di Kapal AL milik Amerika Serikat bernama USS Renville, pada 8 Desember 1947. Ini perjanjiannya hampir sama dengan Perjanjian Linggarjati, yaitu Republik Indonesia menguasai Jawa, Madura dan Sumatera, selebihnya milik Belanda. Tetapi perjanjian ini merugikan Indonesia, karena Belanda berhak menguasai sebagian wilayah Jawa yang telah dikuasainya saat Agresi Militer ke I. 

Akibatnya Divisi Siliwangi di Jawa Barat dan Divisi Brawijaya di Jawa Timur harus pindah dari markasnya dan masuk ke wilayah Republik. Sebagian tentara tidak suka berunding dengan musuh. Merdeka 100% adalah semboyan mereka. Jenderal Besar Sudirman meredakan kekecewaan dan gejolak dari Tentaranya dengan menyebut pindah dengan Hijrah. Konsep Hijrah diambil dengan maksud untuk memberi keyakinan, bahwa proses perpindahan tersebut diumpamakan sebagai tindakan yang pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW, Hijrah dari Kota Makah menuju Kota Madinah. Hijrah bukan gerakan pengungsian dan kekalahan.

Ibukota RI di Yogyakarta Jatuh.

Belanda tidak puas dengan hasil dari perjanjian Renville. Sebuah rencana telah disiapkan untuk menikam republik ini langsung ke jantungnya, yaitu merebut ibukota Republik yang berada di Yogyakarta. Tepat hari Ahad 19 Desember 1948 Jam 06.00 Letnan Jenderal SH Spoor sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Hinda Belanda menggempur Lapangan terbang Maguwo (Lap Udara Adisucipto) . Agresi Militer Belanda II dilaksanakan. Operasi militer dengan sebutan Operatie Kraai (operasi burung gagak). Hanya 3 Jam pesawat Mustang dan kitty Hawk melumpuhkan Maguwo. 40 tentara Indonesia gugur di Maguwo. Setelah Lapangan Maguwo jatuh, pesawat Dakota yang membawa Tentara Belanda mulai mendarat di sana.

Agresi selanjutnya diarahkan ke Kota Yogyakarta. Pukul 14.45 pasukan Belanda telah berhasil memasuki Kota Yogyakarta dari arah timur. Sekitar pukul 16.00 seluruh kota Yogyakarta berhasil dikuasai oleh Belanda. Soekarno Hatta dan pemimpin republik inu ditawan oleh tentara Belanda. Berita jatuhnya ibukota RI Di Yogyakarta ke tangan Belanda membuat gelap masa depan republik ini. Rivai Apin seorang penyair Angkatan 45 mengabadikan peristiwa ini:

Aku pergi ke teman-teman berbicara, isi mengendap ke kelam
Berita: Jogja sudah jatuh, Maguwo… Karno tertangkap
Hatta, Sjahrir …
….
Kami berbicara, menimbang dan melihat kemungkinan
Semua dari satu kata dan untuk satu kata.
(dari dua Dunia yang belum sudah)

Kita Sudah Bersiap 

Sebelum Agresi Militer Belanda II yang melumpuhkan ibukota dan menawan para pemimpin republik ini, para pimpinan tentara sudah bersiap untuk menyambut mereka. Jenderal Mayor AH Nasution selaku Panglima Markas Besar Komando Jawa sudah melihat gelagat tentara Belanda akan melancarkan Agresi Militer Belanda II. “Kita tidak tahu kapan musuh akan menyerbu lagi, tetapi kita yakin musuh akan menyerang kita lagi. Mungkin besok, mungkin lusa” ucap Nasution pada Briefing peresmian Divisi I Brawijaya pada 17 Desember 1948. 

Londo wes teko
Londo wes teko
Sesaat setelah pasukan Belanda menyerang lapangan Udara Maguwo, Panglima Besar Jenderal Sudirman dikediamannya di Bintaran Wetan mengeluarkan Perintah Kilat yang berisi: “Kita Diserang….semua angkatan perang menjalankan rencana yang telah ditetapkan untuk menghadapi serangan Belanda,” setelah itu Pak Dirman segera berangkat menuju Istana Negara didampingi dr Suwondo, dokter pribadinya. Di Istana Negara (Gedung Agung) baru berlangsung rapat darurat yang dihadiri Sukarno, Hatta, Syahrir, Agus Salim, AK Pringgodigdo dll. 

Pak Dirman keluar Dari mobil dan dipapah menuju Gedung Agung. Kedatangan Pak Dirman langsung diterima oleh Sukarno di ruang tamu Istana. Mangil, pengawal Pribadi Presiden Sukarno yang ikut hadir melukiskan pertemuan ini:
“Bapak (Sukarno) segera menganjurkan kepada Pak Dirman untuk ndelik (bersembunyi) dulu, bersembunyi di dalam kota agar bisa melanjutkan berobat. Sesudah sembuh, baru nanti berangkat keluar kota,” Namun permintaan ini ditolak “Wah saya tidak bias, saya tentara,” jawab Pak Dirman. Beberapa pejabat yang hadir turut memberikan saran serupa, namun Pak Dirman tetap menolak “Tidak Mungkin” katanya tegas “Kita tetap akan melawan”

Alasan Pak Dirman untuk tetap berjuang walau dalam keadaan sakit karena Panglima Besar bila tertangkap musuh akan meruntuhkan semangat juang para prajuritnya. Malah sebaliknya, Pak Dirman mengajak Sukarno untuk bergerilya. Namun ajakan ini ditolak Sukarno, karena Sukarno dan Hatta akan bertahan di Istana dan melanjutkan perjuangan dengan cara diplomasi. Padahal beberapa hari sebelumnya, Sukarno sempat berpidato di radio antara lain menyatakan “Kalau Belanda menyerang lagi, saya akan memimpin gerilya di Hutan…”

Dalam Penyambung Lidah Rakyat Indonesia Sukarno memberi alasan untuk tidak ikut gerilya “Dirman, engkau seorang prajurit, tempatmu dimedan perang bersama pasukanmu. Tempatmu bukan pelarianku. Aku harus tinggal disini dan mungkin bisa berunding untuk kita serta memimpin rakyat kita,” Selanjutnya Pak Dirman minta diri untuk bergerilya keluar kota. Sebelum berpisah Sukarno memberi pesan kepada Pak Dirman “….besarkan jiwamu, tebalkan semangatmu dan hidupkan kesetiaanmu kepada Negara, Tanah Air dan Bangsa Indonesia. Pak Dirman menjawab “saya akan memimpin gerilya dari hutan”

Sore harinya para pemimpin republik ditangkap Belanda dan ditawan hingga diasingkan. Ibukota RI Di Yogyakarta Jatuh ketangan Belanda. Pemerintahan republik pindah ke Sumatera Barat dipimpin oleh Syafrudin Prawiranegara dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Di Yogyakarta, Belanda Tidak dapat menguasai sepenuhnya Yogyakarta. Sri Sultan HB IX bersikap Nonkooperatif kepada Belanda dan mereka tidak berani menyentuh Kraton Yogyakarta. Selama Desember 1948 sd Juni 1949 Tentara Belanda menguasai Yogyakarta.

Perang Gerilya dan Perjuangan Diplomasi

Pak Dirman melakukan Perang Gerilya dan intens kontak dengan pasukan gerilya yang berada diluar Kota Yogyakarta. Serangan-serangan kecil di pos-pos pasukan Belanda di Kota Yogyakarta dilakukan. Empat kali serangan selama Desember 1948-Februari 1949 tetapi belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Maka Pak Dirman memerintahkan serangan besar dan serentak diseluruh Jawa pada awal maret 1949. Tepat 1 Maret 1949 serangan Umum di Kota Yogyakarta dilakukan. Letkol Suharto sebagai Komandan Wehrkreisie III Kota Yogyakarta ditunjuk sebagai pelaksana serangan tersebut. 

Tepat jam 06.00 wib serangan Umum dimulai saat sirine dibunyikan. Tentara Belanda tidak siap. 6 Jam Kota Yogyakarta diduduki oleh 2000 pasukan republic. 
Setelah serangan Umum 1 Maret atas prakarsa PBB konflik Indonesia dan Belanda diselesaikan di Meja perundingan. Perundingan Roem-Royen pada 7 Mei 1949 merupakan titik balik kemerdekaan sepenuhnya yang akan dimiliki Indonesia. Isi perjanjian Roem Royen antara lain untuk menghentikan Perang Gerilya, menjaga perdamaian dan melaksanakan KMB di Den Haag dengan maksud mempercepat penyerahan kedaulatan RI. 

Pada 29 Juni 1949 pasukan terakhir tentang Belanda keluar dari Yogyakarta. Setelah itu berangsung-angsur tentara republic masuk Ibukota RI di Yogyakarta. Pada 6 Juli 1949 para pemimpin republic masuk Yogyakarta dengan pesawat dari PBB. Pada 10 Juli 1949 Pak Dirman masuk ke Yogyakarta dan diterima langsung oleh Soekarno. Pada hari itu pula Syafrudin Prawiranegera datang ke Yogyakarta dan mengembalikan mandat PDRI ke Sukarno. 

Pada 2 November 1949 Perundingan Meja Bundar (KMB) Di Den Haag Belanda ditantangani. Indonesia diwakili Mohammad Hatta. KBM merupakan pengakuan kerajaan Belanda atas kedaulatan Republik Indonesia. Penandatanganan kedaulatan Indonesia dilaksanakan di Istana Dam, Amsterdam pada 27 Desember 1949. 

Berpuluh tahun lamanya Belanda mengakui kedaulatan RI pada 27 Desember 1949 bukan pada 17 Agustus 1945. Sedangkan Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 baru pada 16 Agustus 2005 saat Menju Belanda Bernard Rudolf Bolt menyampaikan pidato resmi di Kantor Kemenlu RI di Jakarta.

*Dosen Unisa Yogyakarta, Sekretaris Kokam Nasional


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *