Senioritas Itu Keteladanan Bukan Gaya-Gayaan


Oleh : Fikri Fadh*

Sudah empat hari adik-adik kita merasakan pagi hari dimana dia memiliki status baru. Sebagai seorang siswa SD, SMP atau SMA/K. Adik-adik kita akan mengenal dunia baru dalam hal mengenyam pendidikan formal. Selain bertemu dengan guru-guru yang baru, juga bertemu dengan kakak-kakak baru mereka. Suasana belajar pun berbeda. Adik-adik kita ini menjadi siswa termuda. Siswa yang membutuhkan contoh dalam memilih gaya penampilan, pertemanan dan juga perilaku.

Selain para guru yang akan memberikan pembelajaran di kelas, ada pihak lain yang merupakan bagian internal di sekolah yang memiliki peran penting. Ya, kakak kelas. Mereka akan menjadi bagian penting, dalam penyambutan langkah pertama, para siswa menapaki hari baru.

Gambaran awal bagi seorang siswa baru, akan bagaimana kelak dia ketika sudah menjadi siswa sekolahnya adalah kakak tingkatnya. Akan berpenampilan rapikah? atau berpenampilan apa adanya? Mengikuti ekstrakurikuler soft skill, organisasi siswa atau fokus pada urusan akademik.

Saya masih teringat jelas hari pertama menjadi siswa SMP. Setelah lulus SD, selain berganti sekolahan, saya juga ganti tempat tinggal. Ya, saya masuk ke pondok pesantren. Saya membayangkan akan menjadi seperti kakak tingkat saya yang memperkenalkan dirinya di depan umum menggunakan bahasa Arab dan Inggris. Saya berucap “uwelokkk. . .”, meskipun tidak paham dia berbicara tentang apa. Pokokya perkenalan, soalnya dia menyebutkan namanya.

Pada awal masuk sekolah, yang agendanya masih di tangani oleh para kakak tingkat yang tergabung dalam organisasi siswa, sebut saja masa orientasi siswa, saya bisa melihat bagaimana hebatnya kakak tingkat saya. Selain mereka “galak-galak” dalam memberikan instruksi, ada juga yang lemah lembut dan baik hati, meksipun saya sering melakukan kesalahan terhadap apa yang diperintahkan.

Kakak tingkat yang menangani kegiatan orientasi tersebut, menjadi model oleh adik-adiknya kelak. Mereka akan jadi refrensi, meskipun tidak akan ada copy paste secara keseluruhan. Oleh karena itu, para kakak tingkat haruslah tahu, bahwa dari model sepatu sampai rambutnya di sisir seperti apa, akan di contoh oleh adik-adik mu.

Model Literasi (Keterbukaan Wawasan)

Saya berkenalan dengan buku (selain buku pelajaran) pada saat SMP tingkat dua. Kakak tingkat saya memperkenalkan sebuah novel pada waktu itu. Saya sebenarnya penasaran, kenapa dia kemana-mana selalu membawa buku? Saya memberikan diri untuk bertanya. Tapi tidak menemukan jawaban. Malah dipinjami olehnya novel dengan cover yang sudah buluk. Di cover itu tertulis nama N.H. Dhini – Hati yang damai.

Setelah beberapa hari saya mencoba membaca buku itu, kakak tingkat saya tadi mendatangi saya. “Kita itu tidak bisa banyak mendapatkan informasi yang dari luar pondok, maka dari itu kita harus banyak membaca”, begitu ucapnya. Sebenarnya dia mengucapkan dengan bahasa Jawa, tapi saya alih bahasa kan, anak milenial kadang kala sok-sokan tidak bisa bahasa Jawa. Padahal sarapannya tempe garit.

Itulah salah satu model kakak tingkat saya. Dia suka membaca buku karena ingin banyak mengetahui informasi. Kalau saya membaca buku pada waktu itu, karena di pondok tidak bisa menonton televisi, tidak ada hiburan lain. Ya hiburannya membaca atau tidur.

Model Karakter (Akhlak)

Dua hal yang saya lihat dalam keseharian awal di pesantren adalah tentang kejujuran dan keuletan. Penanaman akan keimanan dan ketaqwaan hampir setiap saat di perdalam oleh para ustadz. Yang tentu harapannya adalah terciptanya akhlak yang mulia.

Tapi apa yang sering terjadi? Sabun mandi, pasta gigi dan sabun saya sering raib meksipun baru digunakan sekali. Meskipun hidup di pondok, barang-barang seperti itu adalah “milik bersama”, tapi budaya memakai tanpa izin sepertinya menjadi hal yang lumrah. Ketika saya mencari tahu, banyak yang tidak mengaku, malah saya yang dianggap cupu.

Meskipun itu adalah perbuatan sederhana, bagaimana jika itu membentuk karakternya kelak ketika dewasa? Memakai yang bukan miliknya tanpa izin, tidak jujur dan kakak tingkat adalah raja. Bagaimana kelak jika memangku amanah umat? astaghfirullah yaa akhi.

Ada karakter lain yang masih saya ingat selain tentang sabun mandi tadi. Keuletan yang di lakukan oleh kakak tingkat saya menjadi model nyata yang hadir di depan mata. Ada yang memaksimalkan waktu luangnya untuk muroja’ah hafalan Al-Qur’an. Hampir setiap saya lihat dia, pasti sedang menggenggam Al-Qur’an dan komat-kamit sendiri menghadap tembok. Itu pasti menghafalkan Al-Qur’an bukan? Bukan sedang membaca mantra menggandakan diri. Keuletannya mengantarkan dia bisa melanjutkan ke Kairo. Kalau saya? Tidak di keluarkan dari pondok saja sudah alhamdulillah.

Model Kompetensi

Hafalan Al-Qur’an saya sedikit bahkan sangat lemah. Oleh karena itu, model kakak tingkat seperti ini lah yang saya gunakan sebagai referensi. Dia yang kritis, kreatif da kolaboratif.

Saya awalnya tidak tahu apa itu organisasi. Tapi ketika masuk organisasi, kata kakak tingkat saya, kita bisa berbicara dengan lancar ketika di depan umum. Saya anak kampung yang pemalu, jadi merupakan hal yang saya butuhkan jika masuk organisasi. Secara, yang pulang kampung dari pondok, harus bisa kultum Ramadhan. Kan bikin malu kalau pulang dari pondok tapi pah-poh”.

Di organisasi, saya belajar dari kakak tingkat yang kritis. Kata kakak tingkat saya, “kalau kita kritis, nanti tidak mudah di bodohi.” Selain itu, saya juga belajar bagaimana berkolaborasi. Hal itulah yang menyadarkan bahwa, saya adalah makhluk yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup secara individu. Ada peran serta pihak lain. Hal itu juga yang mengajarkan bahwa kita tidak boleh mencederai hubungan pertemanan.

Banyak model kakak tingkat yang bisa menjadi refrensi dan tauladan. Bahkan yang cuma gaya-gayaan juga adalah model di sisi yang lain. Tapi apa iya kita meneladani yang cuma gaya-gayaan? Kalau model yang kita teladani hanya gaya-gayaan, bagaimana gaya kita nanti? Nanti kita malah seperti kertas fotocopy yang di fotocopy berkali-kali, blur dan tidak jelas wujudnya. Jangan banyak gaya ya, nanti kalau di foto malah blur. Oke?

____________
*founder komunitas literasi janasoe


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *