7 menit waktu baca

Semua orang bisa Shodaqoh

Pada kesempatan ini redaksi ingin menampilkan satu model gerakan keagamaan yang berkelindan dengan gerakan lingkungan dan gerakan ekonomi solidaritas. Profil kali ini adalah gerakan sedekah sampan atau disingkat GSS yang berlokasi di Masjid Brajan, Bantul Yogyakarta.

Misi program tertuang dalam 6 (enam) prinsip Gerakan Shadaqah Sampah berbasis eco masjid: 1. Menjagakebersihanrumahtinggal,BaitiJannati(rumahkusurgaku); 2. Mensucikan harta, karena harta yang sesungguhnya adalah yang dibelanjakan di jalan Allah SWT; 3. Peduliterhadaplingkungan(SavetheWorld); 4. Meningkatkankualitaskebahagiaan(happiness)warga; 5.Membangunkesadarankolektif,tentangpendidikankarakter.6. Terwujudnya kesadaran untuk saling tolong-menolong (ta’awun), dansaling menanggung (takaful). Karena setiap kebaikan adalah shadaqah.

Program gerakan shadaqah sampah memiliki prinsip utama dalam menjalankan aktivitasnya, yakni menjunjung tinggi prinsip Ta’awun (saling tolong-menolong), dan Takaful (Saling menanggung). Bekerja secara berjama’ah dan memberi secara berjama’ah, sehingga setiap orang berhak membantu dan berhak berpartisipasi dengan segala kemampuan yang dimiliki. Dengan hartanya, sampahnya, atau juga dengan tenaganya.

Sebagaimana yang kita ketahui, dalam kurun 10 dekade komposisi sampah plastik naik 5%, tanpa ada perubahan perilaku dan upaya-upaya revolusioner, tahun 2050 diperkirakan komposisi sampah plastik mencapai 40%, hal ini sama dengan perkiraaan akan lebih banyak smapah plastik di laut ketimbang ikan. Inisiatif shadaqah sampah adalah upaya pendekatan dalam perubahan perilaku publik dan harus dilakukan secara masif agar trend yang menakutkan tersebut tidak terjadi.

Gerakan ini memiliki ikatan emosional dengan Muhammadiyah. Di dalam profilnya disebutkan dasar pemikiran kegiatan ini adalah pertama, karena menyimak isi pidato Ketua Pimpinan Pusat Muhamadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin dalam pembukaan Seminar dan Rapat Kerja Nasional Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), (Selasa, 19/04/2011). Pak Din Syamsuddin menyatakan bahwa bentuk-bentuk pengerusakan ekologi adalah bentuk “syirik modern” yang harus dilawan. “Perusakan lingkungan hidup adalah manifestasi dari syirik. Dan Muhammadiyah sangat commited (berkomitmen) dan tegas untuk menegakkan tauhid. Maka syirik modern yang terejahwantah dalam perbuatan seperti pengerusakan lingkungan harus kita hadapi bersama”.Kedua, adanya kesepakatan bersama yang diwujudkan dalam Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Kementerian Negara Lingkungan Hidup, serta peluncuran Gerakan Shadaqah Sampah dan Program Penyelamatan Lingkungan. (Selasa, 19/04/2011)

Ditjen PSLB3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Direktur Pengelolaan Sampah
Novrizal Tahar mengapreasiasi strategi pendekatan keagamaan dan kelembagaan keagaamaan, khususnya Islam, dalam menggerakan masyarakat mengurangi sampah sebagai cara mengamalkan salah satu prinsip ajaran Islam, yaitu kebersihan. Tanpa kebersihan, ritual ibadah kita pasti tertolak. Ajakan shadaqah sampah merupakan solusi konkret menerapkan prinsip pengelolaan sampah yang berkelanjutan karena didasarkan pada penselarasan tiga pilar, yaitu lingkungan, sosial, dan ekonomi. Selain menjaga dan melestarikan lingkungan, shadaqah sampah dapat sekaligus membangun kohesi sosial keagamaan dan membangun peluang ekonomi kerakyatan. Shadaqah sampah adalah inisiatif revolusioner dalam mendorong perubahan perilaku publik.

Baca juga:  Perpustakaan Dusun Menyapa Warga

Pemahaman yang salah terhadap sampah, sangat berdampak pada cara memperlakukan sampah. Anggapan bahwa sampah itu kotor, bau, mengancam kesehatan, dan lain sebagainya, menjadi ‘momok’ bagi sebagian orang, sehingga sampah cenderung menjadi ‘musuh’, maka harus dibuang sejauh-jauhnya. Sebaliknya, jika cara berpikirnya benar tentang apa itu sampah, maka seseorang atau masyarakat akan benar pula dalam memperlakukan sampah. Dengan mengetahui jenis dan manfaat dari mengelola sampah, akan menjadikan perilaku yang ‘bersahabat’ dengan sampah, hingga sampah berubah nilai dari ‘membebani’ menjadi memberkahi.

Ada beberapa inovasi yang menjadi model dalam menarik minat masyarakat untuk mau mengelola sampah, menjadi lebih bermanfaat. Mulai dari bank sampah, yang mendapat keuntungan dari tabungan hasil penjualan sampah. Ada model berobat ke Poliklinik dengan menyetor sampah. Warung gratis bayar pakai sampah. Beli pulsa dengan setor sampah. Juga mereproduksi ulang sampah menjadi barang yang lebih bernilai. Semua inovasi tersebut, dikerjakan tidak lain dalam rangka mengurangi volume sampah ke pembuangan akhir, sekaligus meningkatkan nilai manfaat dari sampah.

Selain inovasi di atas, kami menawarkan solusi lain dalam pengelolaan sampah jangka pendek, yakni dengan istilah gerakan shadaqah sampah. Model ini dirancang lebih sederhana dan mengandung unsur ibadah, amal jariyah, saling tolong-menolong (ta’awun) dan saling menanggung (takaful) di dalamnya.

Gerakan shadaqah sampah berbasis eco masjid berdiri, tepatnya pada tanggal 1 Ramadhan 1434 H bertepatan dengan 9 Juli 2013 M di Masjid Al Muharram Brajan, Tamantirto. Dengan niatan memberi kesempatan sebesar-besarnya kepada seluruh warga untuk peduli sesama sekaligus membersihkan lingkungan rumah sendiri. Program ini selain bertujuan menjaga kebersihan lingkungan yang berdimensi duniawi, juga berdimensi ukhrawi karena menggerakkan kesadaran masyarakat untuk bershadaqah, dengan prinsip utama yakni ta’awun (tolong menolong) dan takaful (saling menanggung).

Kenapa shadaqah sampah pengelolaannya dikatakan lebih sederhana? Karena dalam konsep shadaqah sampah, warga cukup menyerahkan sampahnya kepada pengelola—baik disetorkan sendiri atau diambil—dengan niatan shadaqah. Ijab qabulnya adalah warga sudah dengan ikhlas hati memberikan kepercayaan untuk menyumbangkan sampahnya, yang selanjutnya akan dikelola sebagai donasi. Pengelola juga diuntungkan karena tidak terbebani oleh tuntutan pengembalian uang dari penjualan sampah, sebab sampah yang terjual telah dianggap sebagai shadaqah dan uang hasil penjualan tersebut disalurkan kepada anak-anak yatim piatu sebagai santunan beasiswa pendidikan anak yatim piatu dan dhuafa, pemberian paket santunan sembako untuk janda fakir miskin, santunan kesehatan bagi setiap warga kurang mampu dan santunan pembinaan Taman Pendidikan Al Qur’an juga Remaja Masjid.

Baca juga:  Perpustakaan Dusun Menyapa Warga


Konsep Eco-Masjid

Gerakan shadaqah sampah merupakan salah satu turunan dari program terpadu yakni 6 (enam) Program Eco-Masjid Al Muharram Brajan. Dalam program tersebut, kami merintis sebuah upaya keterlibatan lembaga keagamaan yakni masjid dalam gerakan menyelamatkan bumi. Usaha ini telah kami rintis sejak tahun 2013, dan kami tuangkan dalam 6 (enam) program terpadu :

1. Arsitektur bangunan yang ramah lingkungan. Konsep ini telah dimulai oleh takmir jauh sebelumnya sejak proses pembangunan pada kurun waktu 2005-2011. Pembangunannya secara swadaya dan swakelola masyarakat. Dalam konsep ini, bangunan masjid berorientasi pada memaksimalkan sumberdaya alam seperti cahaya matahari, sehingga mengurangi penggunaan listrik, dengan membuat jendela kaca berukuran cukup lebar. Selanjutnya, masjid didesain untuk bisa mendapatkan angin alami dengan membuat jendela tralis besi yang memudahkan angin bisa masuk, sehingga mengurangi penggunaan kipas angin yang berujung pada daya listrik.

2. Membuat sumur resapan sejumlah 3 (tiga) buah, sebagai upaya untuk memanen air hujan dan air wudhu. Harapannya adalah air hujan tidak terbuang percuma sehingga pasokan air bersih tercukupi dari sumber mata air meskipun musim kemarau.

3. Pengelolaan shadaqah sampah, sebagai sebuah solusi sederhana dalam memberi penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya merubah kebiasaan membuang, menjadi memanfaatkan sampah untuk kepentingan yang berorientasi duniawi (mengurangi sampah ke pembuangan akhir serta menjaga lingkungan tetap bersih, nyaman), juga berorientasi sosial kultural; yakni aksi bersama saling bahu-membahu, tolong-menolong untuk saudara atau tetangga yang membutuhkan. Sekaligus sebagai upaya ‘sedekah bumi’ dalam bahasa kultur masyarakat. Dalam definisi kami, sedekah bumi sesungguhnya adalah upaya kongkret pengurangan sampah yang jika hanya dibuang, ditanam, dibiarkan, maka hanya akan merusak bumi, tanah itu sendiri. Maka engan menshadaqahkan sampah, itu berarti telah bersedekah pula kepada bumi. Karena tanah menjadi tidak tercemar oleh timbunan dan kuburan sampah. Orientasi yang ketiga adalah misi ukhrawi, bahwa dari sampah yang dipandang tidak lagi berguna, tetapi dengan cara pandang yang benar bisa berguna menolong sesama dan bernilai ibadah. Inilah yang kami sebut sebagai ihsani quotient, yakni kecerdasan seseorang atau masyarakat untuk selalu menanam kebaikan-kebaikan meskipun kecil, dan bergerak secara outomatic.

Baca juga:  Perpustakaan Dusun Menyapa Warga

4. Penghijauan disekitar masjid, sebagai upaya untuk perindang, penyimpan air, dan penyedia oksigen. Maka langkah kami adalah dengan mempertahankan pohon-pohon disekitar masjid.

5. Menjadi masjid yang ramah anak, artinya masjid menjadi rumah kedua mereka untuk berkumpul, bermain, beribadah. Masjid bukan menjadi tempat ‘menyeramkan’ bagi anak-anak karena sering dimarahi takmirnya, sehingga masjid hanya dipenuhi oleh orang yang berusia lanjut. Dalam mewujudkannya kami tidak membangun sarana fisik seperti adanya arena bermain ayunan, jungkat-jungkit dan lain-lain. Karena apalah arti sebuah alat permainan, kalau karakter anak tidak terbawa pada pola kebiasaan beribadah di masjid. Maka yang kami bangun adalah karakter, kebiasaan untuk dekat dengan masjid. Program yang dibuat adalah dengan Mabit (bisa dimaknai menginap, tetapi juga diartikan Malam Bina Iman dan Taqwa) di masjid. Anak-anak TPA, Remaja, menginap dari sejak asar sampai esok pagi. Kegiatannya meliputi tadarus, tahsin, kajian Islam, shalat berjama’ah, outbound, memancing dan memasak ikan bersama. Selain itu mereka juga menjadi relawan shadaqah sampah, menjadi generasi hijau berikutnya.

6. Membangun sumber energi terbarukan, yakni energi tenaga surya. Sehingga pengeluaran kas masjid bisa berhemat, sekaligus bentuk kepedulian lingkungan. Energi ini bermanfaat juga apabila terjadi pemadaman listrik, maka kegiatan ibadah di masjid akan tetap bisa berjalan dengan baik. Namun sebagai catatan, untuk point 6 ini kami belum bisa mewujudkannya, karena keterbatasan dana yang kami miliki.

Sumber: Profil GSS Kampung Brajan berjudul “MENGGERAKKAN JAMA’AH DAKWAH JAMA’AH MELALUI GERAKAN SHADAQAH SAMPAH BERBASIS ECO MASJID”yang ditulis olehAnanto Isworo, S.Ag dan diterbitkan oleh Direktorat Pengelolaan Sampah Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...