Semesta Literasi dan Dunia Orang-Orang Bergerak (bagian 1)


David Efendi

@pekerjaliterasi

 

 

Saban hari peristiwa literasi dan praktik literasi diciptakan oleh orang-orang yang biasa bergerak untuk membumikan pengetahuan dan meniras kehidupan menjadi pengetahuan. Saya melihat dari dekat peristiwa literasi yang bertimpang tindih dengan praktik literasi di berbagai daerah, di macam-macam sudut detak nafas kehidupan manusia. Orang orang bergerak pada umumnya adalah minoritas kreatif, lalu diikutin berduyun-duyun manusia bergerak lainnya menjadi bagian kemudian. Begitulah takdir pengetahuan: pada awalnya asing dan akan kembali asing. Bagi yang menjadikan pengetahuan sebagai penuntut kehidupannya, merekalah orang-orang yang beruntung. Setidaknya kalimat-kalimat ini adalah doktinasi kaum radikal aktivis literasi. Kaum radikal yang masih bergentung pada semesta kemanusiaan dan ekologis alam raya.

 

Pada tanggal 14 Juli lalu saya mendapatkan kesempatan menghadiri dunia nelayan yang bertemu dengan literasi yaitu dalam tajuk launching Sanggar Baca Nelayan di Pantai Utara lamongan. Gerakan pantura membaca menemukan energi dan nafas-nafas barunya selain pelajar dan remaja yang telah aktif di rumah baca cahaya dengan lapaknya yang sangat meria di pelabuhan WBA. Para pegiatnya menginisiasi WBA juga menjadi taman rekerasi edukatif bagi warga—sebuah pemikiran yang sangat maju untuk menanggulangi beragam kerusakan sosial budaya di daerah pesisir: mabok, putus sekolah, tidak menghargai pengetahuan, tawuran, dan keburukan-keburukan hidup yang menjadi festival harian. Pegiat literasi di daerah ini punya tantangan besar sejak dalam pikirannya, kemudian merambat dalam setiap praktik kehidupannya.

 

Distribusi pengetahuan, pendalaman pengetahuan dan produksi pengetahuan ada dalam komunitas ini sebagai praktik bukan seremonial. Seorang ketua rukun nelayan menyampaikan, kalua nelayan tidak membaca aturan main gampang dipenjarah, gampang dibodohi, kalua tak mengupdate pengetahuan seperti GPS (sensor keberadaan Ikan) nangkap ikan tak menguntungkan. Banyak hal berubah, pengetahuan pun harus berubha diperbaharui diikonteksttualisasi. Kira-kira demikian pesan serangkaian sambutan atau testimoni yanga ada dalam rangkaian peluncuran sanggar baik yang disampaikan ketua rukun nelayan, asosiasi nelayan, kepala desa, dan juga dari obrolan ringan-ringan Bersama peserta di seputaran lokasi acara sambal nyeruput kopi yang dihidangkan dari warung yang bersebelahan dengan sanggar baca. Sangat kondusif menjadi wahana belajar bareng warga nelayan, banya gubuk gubuk menghadap ke laut yang bisa diselingi obrolan dan membaca buku-buku pengetahuan. Mereka ada waktu cukup baik bahkan terbaik untuk membacai beragam pengetahuan. Keadaan itu sudah terlihat pada saat launching: beberapa nelayan sibuk membaca bahkan tak peduli pada acara seremonial pembukaan yang meriah karena telah menemukan buku sebagai surge barunya. Saya saksikan sendiri keadaan ini dari sangat dekat sekali.

 

Pembangunan pusat pengetahuan berbasis komunitas literasi dipercaya oleh banyak orang sebagai bentuk kemajuan luar biasa. Orang-orang berperadaban unggul senantiasai menghargai pengetahuan dan beragam karya cipta yang ada di dalamnya. Sanggar baca sepertinya menjadi salah satu jenis visualisasi atas imajinasi pemberdayaan versi lain dalam dunia kehidupan nelayan. Kalaupun tak dapat dibilang pemberdayaan dan penguatan diri dan komunitas masyarakat barangklai dapat disebut sebagai upaya Bersama membangun stadion pikiran dan alun-alun bathin yang dapat bermakna dalam hidup para penggiatnya.

 

Di kota Lamongan dan selatan lamongan juga saya menyaksikan dari dekat beragam diskusi literasi, pelayanan literasi, apresiasi buku di pesantren, memberikan pengalaman membaca bagi anak-anak usia dini, rangsel pustaka, panen puisi, dan banyak lagi inovasi gerakan literasi yang terus mendinamisasi hidup, memberikan makna pada setiap bulir-bulir kejadian sosial, budaya, spiritual yang terkembang menjadi guru-guru dalam nyanyian kata-kata, tarian-tarian paragrap bahkan telah menjadi dongeng yang akan melegenda. Kisah-kisah orang bergerak dalam dunia pelayanan pengetahuan dari pantura adalah kelak menjadi cerita populer yang akan menjadi jernih dan bernilai mulia pada waktunya nanti. Salah satu kontribusi sangat berarti adalah sumbangan buku yang dibanggakan oleh nelayan mengenai ijon-ijon dalam tradisi konstruksi perahu nelayan.

 

Dari karya ini kita tahu semua bahwa menjaga kebudayaan maritim adalah kerja nelayan yang paripurna. Semoga bu Menteri Susi ngerti ya bahwa nelayan itu bukan perusak lingkungan laut  Eksistensi perahu dan asal-usul keahlian pembuatan perahu ijon-ijon di Desa Kandang Semangkon setidaknya dikenal setelah Kapal Van der Wijck, yakni kapal uap milik Kininklijke Paketvaart Maatschappij (KPM Belanda) tenggelam di perairan Lamongan, kurang-lebih 12 mill dari pantai Brondong pada hari Selasa, 20 Oktober 1936.

 

Buku setebal 200 halaman ini menjadi satu kebanggaan tersendiri saat launching sanggar baca nelayan dan tentu saja, ini juga membanggakan bagi saya pribadi artinya nelayan siap menjadi produksi pengetahuan sampai dalam bentuk paling portable bernama buku. Dongeng cerita dan warisan kebudayaan juga banyak yang masih bertahan sebagai sejarah lisan—suatu saat dalam waktu dekat akan menjadi kenyataan dalam bentuk tarian suara kata-kata di dalam buku.

 

Seorang yang bergerak dalam pemberian akses pengetahuan, seperti nelayan, yang selalu tahu jalan pulang di tengah gelapnya Samudra tanpa batas. Inilah hakikat semesta orang orang yang mengabdikan dirinya untuk memperkaya dan memperkuat pengetahuan masyarakat sebagai bagian dari proses belajar tanpa batas menjadi subyek perubahan. Tak ada masa depan yang dipastikan hari ini, yang bisa kita lakukan adalah memberikan arti pada waktu yang pendek, kepada sekelompok pergerakan langka-langka kecil penuh kreatifitas, dan memastikan hari ini banyak bergerak bagi sesame ketimbang hari kemarin. Inilah yang disebut literasi sebagai praktik sosial, yang jauh mendekat, yang dekat makin menemukan perjumpaan maknawi bagi setiap subyek yang menekuninya.

 

Manusia manusia bergerak menuju bumi junjung Basoah, Bangka Selatan. Sampai jumpah dicatatan berikutnya. Semoga ada gunanya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *