Semangat Pembaharuan Ibnu Taimiyah


Oleh: Sri Lestari Linawati
Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, pendiri BirruNA

Menarik saat membaca kisah Ibnu Taimiyyah. “Ibnu Taimiyyah berinteraksi dengan para ulama fiqih, ahli tasawuf, madzhab-magzhab kalam, dan aliran pemikiran lainnya. Dengan usaha yang sering mengundang pro dan kontra, terutama fatwa-fatwanya yang tak sejalan dengan pendapat umum, tak urung ia keluar-masuk penjara.”

“… fatwa-fatwanya yang tak sejalan dengan pendapat umum, tak urung ia keluar-masuk penjara”. Dari kalimat ini kita mengetahui keberanian Ibnu Taimiyyah dalam berpendapat. Keberaniannya itu tentu karena memiliki dasar, yaitu karena Ibnu Taimiyyah berinteraksi dengan para ulama fiqih, ahli tasawuf, madzhab-madzhab kalam, dan aliran pemikiran lainnya. Bagaimana dengan kita?

Makjleb. Kita telah berinteraksi dengan siapa saja? Apakah keyakinan kita telah melahirkan keberanian untuk bicara berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah? Bicara di atas kebenaran itu sanggup menghadapi yang pro dan kontra.. Apakah kita sanggup memiliki jiwa yang tangguh, sehingga kita siap keluar-masuk penjara?

Entahlah kita manusia macam apa, kelas berapa. Selanjutnya, kita akan lebih terpana saat membaca,
“Dalam usia relatif muda Ibnu Taimiyyah telah hafal Alquran dan mempelajari hadis, fiqih, aqidah, dan tafsir Alquran. Dengan aneka ragam pengetahuan yang dimiliki Ibnu Taimiyyah berusaha menghidupkan kembali ajaran Islam yang diterima para sahabat abad pertama hijriyah dengan semboyan, “Kembali kepada Alquran dan Sunnah.”

Banyak pertanyaan mengoyak kesadaran kita. Sampai di manakah hafalan Al-Qur’an kita? Berapa banyak hadits yang telah kita pelajari? Sejauh mana ilmu fiqih yang telah kita baca? Aqidah kita, sudahkah tiap saat kita kuatkan? Tafsir Al-Qur’an apa saja yang telah kita baca? Usaha apa sajakah yang telah kita lakukan untuk menghidupkan kembali ajaran Islam?

Betapa panjang daftar pertanyaan itu. Cukupkah waktu kita untuk melampaui itu semua? Apakah waktu yang dimiliki Ibnu Taimiyyah juga sama dengan kita, dua puluh empat jam? Kualitas hidup semacam apakah yang akan kita banggakan hingga kita siap menghadapi kematian?
La haula wala quwwata illa billah.. Tetap semangat, Kawan! Jangan berkecil hati. Yuk teruskan ikhtiar kita menyempurnakan ilmu dan menebar kemanfaatan. Menulis apa yang kita lakukan merupakan sebentuk rasa syukur atas segala nikmat dan karuniaNya. Menulis adalah ikhtiar mengungkapkan kebahagiaan. Sungguh, jika kita bersyukur, akan Allah tambah nikmatNya bagi kita. Sebaliknya, jika kita kufur, sungguh azab Allah sangatlah pedih. Kita bebas memilih. Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 19 Maret 2018