Sekolah Bagi Generasi Z


Oleh: Arif Jamali Muis*

Acara International Recruitment Forum 2017 yang digelar Swiss Education Forum di Mountreux Maret 2017, memberikan gambaran menarik tentang generasi Z. Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang waktu antara tahun 1995 – 2010, generasi yang pemikirannya sangat dipengaruhi informasi dan media sosial, generasi ini sering disebut sebagai digital native. Mereka sangat nyaman bekerja dalam dunia global.

Menurut ahli perilaku konsumen Alexandra Broennimann, generasi Z memiliki kemampuan konsentrasi dalam keterlibatan secara pasif 8 – 12 menit. Untuk membaca buku terasa berat karena generasi ini mulai tidak suka membaca, mereka lebih suka membaca dengan perangkat lunak dan menonton video. Generasi Z akan sangat produktif jika tetap terhubung dengan internet dan media sosial. Sebagai digital native, teknologi informasi telah menjadi ‘bahasa ibu’bagi generasi ini. Bahkan pada tahap tertentu generasi ini bisa menjadi sangat akut ketergantung pada teknologi.

Swiss sudah sangat sadar untuk menghadapi generasi Z, juga beberapa negara maju lain. Maka langkah strategis bagi dunia pendidikan dan industri dipersiapkan. Karena diperkirakan pada tahun 2019 generasi Z akan mengisi lebih dari 20% dunia kerja. Lalu bagaimana dengan lembaga pendidikan kita? Sudahkah menyiapkan segala perangkatnya di sekolah untuk mendidik generasi Z ini?

Sekolah

Lembaga pendidikan atau sekolah saat ini sedang dipenuhi generasi Z, kesadaran pengelola sekolah (kepala sekolah, guru dan karyawan) untuk menghadapi generasi Z menjadi sangat penting. Karena sekolah merupakan salah satu institusi yang dipercaya untuk menyiapkan generasi dimasa yang akan datang. Jika sekolah tetap menerapkan model pembelajaran persis 10 tahun lalu dengan tidak memperhatikan perkembangan zaman, bisa diyakini generasi Z ini tidak akan terdidik dengan baik. Lalu apa yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan dalam mendidik generasi Z.

Pertama memanfaatkan teknologi informasi. Salah satu karakteristik Generasi Z akan produktif jika tetap terhubung internet dan media sosial. Karenanya sekolah harus memanfaatkan teknologi ini sebagai media pembelajaran agar peserta didik tetap produktif. Model ujian berbasis komputer adalah salah satu contoh memanfaatkan teknologi agar siswa tetap produktif. Model pembelajaran e-learning harus dikembangkan sekolah. Dengan e-learning peserta didik diberi tugas melalui jaringan internet untuk mengakses pembelajaran dimanapun mereka berada, ditentukan waktu mengaksesnya. Biarkan mereka mengeksplorasi tugas itu melalui dunia digital. Saya membayangkan jika sudah banyak guru menerapkan e-learning maka akan banyak peserta didik di cafe, mall, tempat nongkrong yang ada wifinya , di rumah atau dimanapun meraka akan mengakses tugas dari gurunya dan bereksplorasi melalui dunia digital.

Kedua metode pembelajaran. Generasi Z adalah generasi yang nyaman bekerja dalam dunia global. Dalam alam pikiran mereka sudah banyak informasi yang mereka dapatkan. Dalam otaknya terlalu banyak variable – variable yang harus mereka hubungkan. Tugas sekolah adalah memberikan mereka bekal untuk menghubungkan antarvariable tersebut bahkan memfilter variable – variable yang tidak bermanfaat bagi kehidupannya. Metode pembelajaran yang menempatkan peserta didik sebagai objek sudah tidak mampu lagi untuk mendidik generasi Z.

Guru harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan model pembelajaran Higher Order Thingking Skill (HOTS) yang dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dimana siswa diajarkan untuk berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, berpikir kreatif dan diberi soal yang memberikan peluang peserta didik untuk menghubungkan berbagai variable yang ada didalam soal dan menganalisa solusinya. Model pembelajaran Lower Order Thingking Skill (LOTS) yang mengandalkan hafalan atau soal yang langsung menerapkan rumus tanpa perlu berpikir lebih lanjut harus mulai dikurangi di sekolah.

Kesiapan Guru

Mendidik genarasi Z dibutuhkan kesiapan guru, maka kemampuan guru harus bertransformasi menjadi generasi Z. Guru harus menguasai teknologi informasi, guru harus meningkatkan kemampuannya dalam mendidik menggunakan model HOTS. Jika tidak maka sekolah-sekolah kita akan gagal dalam mendidik anak – anak generasi Z.

*Guru SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta dan Wakil Ketua PWM DIY. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Selasa 18 April 2017


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *