Sejarah Muhammadiyah di Tanah Mandar (Bagian kedua)


Oleh : Agung Hidayat

Sejak kedatang Muhammadiyah di Majene yakni di tahun 1928, Muhammadiyah didirikan pula di tempat-tampat lainnya, pada tahun 1929 di Balanaipa ( Tinambung), dan Karama Campalagia, pada tahun 1933 Muhammadiyah juga berdiri di Pamboang, bersamaan pula Aisyiyah dan Pandu Hizbul Wahtan didirikan di setiap tempat tersebut. Muhammadiyah ditempat tersebut rata-rata membuka sekolah Ibtidaiyah (setingkat SD) serta tabligh-tabligh dan usaha lainnya terus digiatkan.

Muhammadiyah grup Pamboang lansung membuka Madrasah Ibtidaiyah. Para pelopornya antala lain ialah H. Djunaedi, Darwis, H.Binuamma, Abd. Djalil Kanna Manusia, H.Tulis, H.Djuraeba Kanna Morotani. Serentak dengan itu berdiri Pula Aisyiyah(Muhammadiyah bagian putri) dan kepanduan Hizbul Wathan di Pimpin oleh Dahlan Saonesi dan M.Amin Bien. Selain membuka madrasah Ibtidaiyah (guru-gurunya antara lain Kiyai Abd.Djalil, yang kemudian menjabat kadhi Cenrana, Abd.Malik (Munu) dan Amin Bien), juga membuka kursus-kursus terutama pemberatasan buta huruf untuk wanita ‘Aisyiyah).

Pada tahun 1936 didirikan pila Diniyah School, Sekolah setingakat SMTP,  oleh Muhammadiyah grup Pamboang dibawah pimpinan Al Ustadz H.Darwis Zakaria( keluaran Al Azhar Mesiar) yang sengaja didatabgkan dari Sumatera Barat (Payakumbuh).

Guru-guru agama ialah H.Bahrun Sultan(juga dari Sumatera Barat/ Padang Panjang). Abd. Syukur Rahim, Arsyuddin, H.M Soenoesi MS, keenpat-empatnya adalah tamatan/keluaran Sekolah  Kuliatul Muballighin (Muhammadiya) Padang Panjang, Sedangkan guru untuk pengetahuan umum adalah Yusuf Madjid dari Ujung Pandang Keluaran MULO.

Dhiniyah School hanya sempat menerima murid satu periode yaitu tahun 1941, karena setelah Jepang Memasuki wilayah Mandar (Pamboang) pada awal tahun 1942 sekolah tersebut ditutup/ tidak diluaskan berdiri lagi. Murid-murid Diniyah School pada masyanya antara lain ialah M.Idris Radha, M.Amir (ex Kapten ALRI), Djamaluddin Pangerang, H
Musytari Djunaedi yang kemudian melanjutkan belajar ke Mesir (Al Azhar), Abd Rifai (ex Pabicara Bonde), Nur Aini Achmad dan Husein Langa. Dua terakhir ini melanjutkan sekolahnya ke Muallimin (Kwekschool) Muhammadiyah Makassar sampai selesai(lulus) pada tahun 1941. Dari Muallimin ini, pada waktu yang sama lulus pula Hamusta dan Abd. Halim A.E keduanya dari Tsanawiyah Muhammadiyah Majene yang terkenal itu.

Periode Jepang

Dalam peristiwa perang dunia ke 2 dimana Angkatan Perang Belanda menyerah terhadap Angkatan Perang Jepang, pada Maret tahun 1942 Jepang resmi menguasai Pemerintahan di Sulawesi Selatan, pada masa tersebut Kerajaan yang ada di Sulawesi Selatan menyambut baik kedatang Jepang dan menyambut Pasukan Jepang sebagai “Liberator”  sang pembebas yang mampu membebaskan bangsa Indoneasia dari belenggu pejajahan Belanda. Pandangan demikian terhadap jepang semakin diyakini para pemimpin, berhubung dibiarkannya bendera merah putih berkibar diberbagai tempat pada bulan pertama kekuasaan Jepang

Sebelum pasukan Jepang masuk ke Mandar para pemuda dari pamboang membentuk sebuah panitia, panitia tersebut di namakan Copekan (dibaca Kopeka) “Kominte Persipan Kemerdekaan” panitia ini bermaksud untuk menemui Pimpinan penguasa Jepang yang pertama tiba di Mandar untuk menyambut kedatangannya guna mebgucapkan selamat datang karena dianggap sebagai pembebasan, disampai itu panitia tersebut juga bertujuan untuk menyampaikan keadaan rakyat yang menderita dalam berbagai bidang (ekonomi, politik, kesejahteraan, dan sebagainya) agar dapat diperbaiki oleh penguasa yang baru.

Copekan ini dipimpin oleh H.Zubaer Ahmad, Abd. Rahman Tongani, H.Haedar dengan penasehat – penasehat masing -masing dari Muhammadiyah dan PSII setempat, Ratusan pemuda dari Pamboang secara demonstratif berjalan kaki menuju Majene yang dipelopori oleh Kepanduan Hizbul Whatan dibawah pimpinan Nur Ainin Ahmad dan M. Dahlan Soenoesi.

Menurut laporan dari pimpinan dan penasehat panitia yang berhasil diterima (Beraudensi) oleh penguasa Jepang, bahwa mereka berterima kasih atas penyambutan, dan menghargai serta berjanji akan memperbaiki penderitaan rakyat yang ditinggalkan oleh pemerintahan penjajah Belanda. Panitia tersebut kembali ke Pamboang dengan rasa gembira dan puas atas berhasilnya missi mereka.

Sekitar tiga bulan kemudian terjadi titik balik, karena pada suatu bulan Juni 1942 semua pimpinan tersebut penasehat, penasehat dari unsue pergerakan ditangkapi dan digiring ke Majene, dan di periksa satu persatu mengenai pendirian politik masing-masing.

Sebagian dari mereka ada yang terus dibebaskan, tetapi para pemimpin terasa baru dibebaskan beberapa hari kemudian, diiringi dengan perintah penguasa Jepang, agar semua pergerakan/organisasi yang ada segera di bubarkan dan tidak boleh di giatkan lain. Begitu pula sekolah Muhammadiyah yang masih berjalan dan sekolah swasta lainnya dinyatakan ditutup.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *