Sejarah Muhammadiyah di Tanah Mandar (Bagian 1)


 

Oleh. Agung Hidayat)*

Muhammadiyah merupakan organisasi Islam terbesar di Nusantara, seperti kita ketahui bahwa Muhammadiyah pertama kali didirikan pada tahun 1912 di Kauman Yogyakarta oleh K.H Ahmad Dahlan kini telah ada di berbagai tempat di Nusantara. Organisasi Muhammadiyah ini berkembang dengan pesat bahkan dalam masa penjajah oleh Hindia Belanda Muhammadiyah dapat melakukan aktivitas dakwah.

Di Tahun 1928 merupakan awal mula ada Muhammadiyah di Mandar. Muhammadiyah di Mandar di prakarsai oleh H.Zaini (saat itu sebagai ketua Muhammadiyah Cabang Rappang) dengan membentuk “Group Mandar” kini disebut Ranting para tokoh – tokoh utama adalah H.Haruna, H. Abd Rahim, H. Juhaeni, Abdullah Kanna Mina, Hamza, Abd Malik, H.Hazwar dan Mudo.

Muhammadiyah di Mandar saat itu berpusat di Majene. Dalam perjalanannya Muhaammadiyah bukan hanya sebagai organisasi Islam. Namun,  memiliki andil yang besar dalam memperjuangakan kemerdekaan di tanah Mandar. Sesuai dengan bidang tugasnya, Muhammadiyah lebih menitik beratkan perjuangannya dalam bidang dakwah dan pendidikan. Karena saat itu disamping melakukan tabligh-tabligh tentang Islam menurut Muhammadiyah, didirikan pula Sekolah-Sekolah Muhammadiyah. Pada tahun1929 berdiri tiga buah Madrasah, Masing-masing di Majene, Karama-babarura (Balanipa), dan Campalagian. dan Pada tahun 1934 didirikan Madrasa Tsanawiyah di Majene. Madrasah Ini diresmikan lansung oleh Haji Abdul Malik Karim Amirullah yang merupakan ulama muda dari Sumatera Barat, yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka.

Sekolah terakhir ini mengalami perkembangan pesat sampai masa awal pendudukan Jepang. Perkembangan itu terjadi berkat bantuan para pedangan dan dedikasi para tenaga pengajar berpengalaman yang didatangkan dari tanah jawa dan sumatera seperti H. Kamaluddin, H.Darwis Amini dan Ahmad Chatib, yang mengajarkan agama, sedang R.Soedarmo, Masaji, dan Suaji yang mengajarkan pelajaran umum. Madrasa Tsanawiyah Majene sangat terkenal di Kawasan Indonesia Timur, di tandai dengan Para sisiwanya yang tidak saja berasal dari wilayah Mandar atau Sulawesi Selatan. Tetapi juga dari Toli-Toli, Halmahera dan Bima.

Saat itu Buya Hamka tidaklah hanya datang untuk meresmikan Madrasan tersebut namun juga menetap sebagai Utusan Muhammadiyah sebagai dai konsul untuk mengajarkan keislaman di wilayah Indonesia Timur di Mandar Buya Hamka melakukan tabligh keagaman diberbagai tempat dan sempat pula menjadi Kepala Sekolah juga sebagai tenaga pengajar di Madrasah Tersebut. Namun, Buya Hamka saat itu tidak dapat terlalu lama menetap di Mandar karena sebagai tugasnya sebagai da’i konsul Muhammadiyah dikawasan Indonesia Timur sehingga ia harus berpindah-pindah tempat diwilayah Indonesia Timur lainnya.

Sebelum meninggalkan Mandar Buya Hamka mengirim beberapa calon Siswa dari Tande, Majene ke Sumatra Barat untuk di Sekolahkan di Madrasah Thawalib. Sebuah sekolah yang didirikan oleh organisasi Thawalib salah satu organisasi pembaharuan Islam di Padang, Sumatera Barat. Salah satu calon siswa yang dikirim ke Padang adalah Ustadz Abd. Rahman Tana.

)* Pengurus MPI PW Muhammadiyah Sulawesi Barat, Pegiat Rumah Baca Matahari


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *