Secepat Laron Dan Selama Kecoa


Waktu begitu cepat berlalu, secepat matinya laro-laron yang berterbangan gembira saat pagi hari. Terlahir sebagai rayap, kemudian bersayap dan mati di siang hari. Menyisakan saya-sayap dibawah lampu neon. Tubuh-tubuh lemahnya paling cuma bermanfaat sebagai umpan pancing. Sayap-sayapnya akan mengotori teras dan susah di sapu. Satu-dua masih berjalan depan-belakang seperti kereta. Laron tak bersayap itu berjalan memutar-mutar, tak tentu arah. Mereka tahu, bermain-main sejenak untuk yang terakhir kali, sebelum mati di ujung kail pancing atau menjadi santapan anak-anak ayam.

Lain halnya beberapa hari yang lalu. Seekor kecoa jantan terjatuh setelah dia terbang kesana kemari dengan tidak terkontrol arahnya. Tau sendiri kan kalau kecoa terbang seperti apa? Penerbangannya akan menguji kejantanan laki-laki, bahkan bisa sampai merampas jiwa kelelakian yang bertangan kekar sekalipun. Dia terjatuh tepat di panci yang biasa saya gunakan untuk merebus air untuk mandi. Untung saja kosong dan kering, tidak ada airnya. Saya diamkan saja, tanpa terbesit dalam pikiran untuk menolongnya. Khawatir setelah dia berada di posisi semula, akan merampas jika jiwa kelelakian saya.

Saya teringat, jika kecoa terbalik, dia tidak akan bisa membalikkan tubuhnya sendiri. Memang itu benar adanya, kalau tidak percaya, carilah kecoa dan rebahkan tubuhnya. Setelah beberapa waktu, kecoa itu akan mati. Dalam benak saya mungkin tidak sampai satu jam, si kampret itu akan mati. Setelah satu jam berlalu, dia masih berada di posisi semula, hanya ketika saya dekati, dia pura-pura bobok syantik. Berharap aku akan menyentuhnya, dihhh oraa sudii. . .

Hampir dua belas jam saya pergi keluar rumah karena harus mengantar paket buku dan kosmetik ke kantor pos dan meninggalkan si kampret itu menikmati rebahannya di dalam panci. Sekembalinya saya ke rumah, ternyata dia masih hidup. Kakikanya melambai-lambai menyambut kedatangan ku. Sepasang antenanya dengan genit berkerlip berharap aku akan menolongnya. Sory, aku tidak gampang dirayu dengan hal seperti itu, apalagi oleh mu.

Dua puluh empat jam berlalu, ternyata dia masih hidup, meskipun sudah terlihat lemas. Aku tidak mungkin tertipu olehnya. Meskipun akting wajah memelasnya seperti host yang malam sebelumnya hura-hura di acara dangdut dan malam berikutnya di acara hafidz cilik Indonesia. Pagi menjelang, ternyata dia sudah tinggal nama, sendirian disana. Mungkin subuh tadi kerabat dan handai taulanya melayat. Membacakan Yasin dan tahlil.

Saya segera membuangnya, tanpa menunggu pihak rumah sakit kecoa datang untuk mengotopsi. Sudah saya buang ke selokan pinggir sawah. Semoga jasadnya bisa terbawa sampai surga. Maafkan aku wahai kecoa. Al-Fatihah untuk mu. Istri mu yang janda akan segera bersuami lagi selepas reuni SMA. Anakmu akan memiliki ayah baru, pacar ibunya semasa SMA. Tapi tenang saja, do’a mereka tetap menyertaimu.

Seperti apapun mitos atau fakta yang tertulis tentang dirimu, kelebihan dan kekurangan mu. Kalau Tuhan belum berkeinginan menjemput ajal mu, dengan posisi terlentang, kau masih diberikan waktu untuk berjuang bertahan hidup. Kalau pun sudah saatnya, Tuhan akan memanggilmu dan mengizinkan kamu kembali ke sisi-Nya. Mesikpun berdesak-desakan di sisi Tuhan, karena saking banyaknya yang ingin disisi-Nya, semoga tubuhmu yang kecil, bisa menyelip diantaranya. Wallahu’alam.