Sebenarnya, Gerakan Literasi Itu Milik Siapa?


Oleh Fikri Fadh

Sabtu siang 25/3, saya mengikuti temu pegiat literasi Indonesia, untuk wilayah DIY. Acara tersebut diselenggarakan di jantung kota Jogja. Sebagai kota yang masih disematkan kepadanya kota pendidikan, tidaklah susah jika melakukan aktivitas yang keren nan dahsyat seperti ini. Para pegiat literasi memang sering berkumpul dan melakukan aktivitas bersama-sama. Saling mendukung dan berbagi pengalaman. Berbagi kisah kasihnya dalam menjalankan aktivitas literasi di tempatnya masing-masing. Sungguh indah dunia ini bila pegiat literasi berkumpul dan bergerak bersama. Bisa kenal dengan mba-mbanya dan juga mas-masnya dari sana-sana. Yang sudah tua pun merasa muda kembali. Karena bahagia.

Kegiatan literasi memang sangat dekat dengan buku-buku sebagai alat. Selain itu, kegiatan-kegiatan praksis lainnya juga menjadi gerakan/aktivitas pendukung. Menghadirkan literasi yang berkelanjutan ditengah masyarakat memang tidak melulu menyuguhkan buku-buku.  Bisa melalui mendongeng, melukis, mewarnai, memanfaatkan sampah (barang bekas), membuat kerajinan kriya, dan segudang kegiatan menyenangkan lainnya. Banyak hal yang telah dilakukan oleh para pegiatnya, yang sekarang tidak hanya dilakukan oleh para akademisi. Banyak lapisan masyarakat yang menjadi penggeraknya. Berbagai latar belakang pendidikan, profesi, dan basis tempat tinggal (masyarakat kota/desa).

Aktivitas atau upaya menjalankan amanah undang-undang dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, dilakukan oleh tiga pilar. Yaitu, pemerintah, masyarakat/komunitas, dan swasta. Saya mau nyomot kata-katanya Mas Faiz Ahsoul, “Kalau salah satu diantara ketiganya patah, negara akan pincang, akan roboh, akan bangkrut dan bubar pada waktunya. Gerakan literasi, tidak sekedar menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi swasta dan masyarakatpun harus mengambil peran sesuai porsinya. Negara menjadi kuat, jika anak bangsanya literat.”  Para pegiat literasi merupakan bagian dari masyarakat, sehingga upaya-upaya dalam gerakan literasi adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kerja yang tidak main-main bukan?

Perlu kita apresiasi bersama, upaya pemerintah yang telah membebaskan biaya kirim buku antar komunitas literasi di seluruh Indonesia tanggal 17 disetiap bulannya. Bisa kita lihat melalui grup fesbuk Pustaka Bergerak Indonesia . Nampaknya jika kita buka media sosial dan sering-sering nongkrong di grup fesbuk tersebut, kita akan berbahagia, nalar kita akan sehat dan terawat, dari pada lihat berita politik. Bahagia karena buku-buku sampai keseluruh daerah di Indonesia. “Kebahagiaan terbesar adalah bisa mengantarkan buku menemui orang tua asuhnya, pembacanya”, begitu kata Baginda David Efendi, Ketua Serikat Taman Pustaka. Oh, jangan lupakan PT POS Indonesia, lembaga BUMN inilah yang menjadi eksekutornya. Sempatkan berfoto bersama dengan pak POS yang mengantarkan buku, ajak minum kopi jika beliau tidak terburu-buru. Banyak sekali tangan-tangan yang terlibat dalam gerakan literasi ini, semoga menjadi amal ibadah untuk mereka-mereka ini.

Dalam acara tersebut sebenarnya dihadiri oleh Pak Sutopo. Saya ingin sekali memberikan buku ke beliau secara langsung. Meskipun cuma satu buku dan itupun tipis. Beliau adalah pegiat literasi, sama seperti yang lain. Tapi sungguh malu diri ini jika dibandingkan dengan beliau. Dengan becaknya, beliau berkeliling membawa buku-buku. Yup, beliau adalah seorang tukang becak. Tetapi saya belum banyak mengetahui tentang beliau, dikarenakan belum hadir pada acara temu pegiat literasi sabtu kemarin. Tapi initinya disini, kita harus tahu bahwa bukan saja akademisi lah yang menjadi pewaris tunggal dalam membawakan kegiatan literasi di masyarakat. Justru kalau akademisi malah abai terhadap literasi, apa bisa disebut seorang akademisi? Saya bukannya menyudutkan atau melakukan penghakiman lho ya, ini mengingatkan sekaligus mengajak untuk mewakafkan sisa-sisa tenaga setelah bekerja untuk turut serta dalam bergerak diranah literasi.

Peran swasta, atau bisa kita sebut disini CSR (Community Social Responsibility) yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan, juga sangat membantu. Seperti yang saya uraikan diatas, kerja literasi tidak hanya membaca buku dan menghadirkan buku-buku. Kegiatan pemanfaatan sampah dan kerajian kriya misalanya, kegiatan tersebut juga membutuhkan peralatan. Dana-dana dari CSR bisalah menjadi penyokong dalam kegiatan tersebut. Sehingga bisa memberikan kemanfaatan untuk masyarakat secara lebih nyata.

Perusahaan penerbitan buku dan toko buku juga memiliki peran yang luar biasa. Baik itu penerbit mayor ataupun penerbit minor (indie). Mekipun ada beberapa penerbit yang gulung tikar. Ah, itu dinamika kehidupan, biasalah terjadi. Terjangkaunya harga buku bagi para pegiat literasi kadang kala memangkas jatah uang makan. Untung ada diskon dan bazar-bazar yang menyelamatkan. Berapa ya pajak kertas sekarang? Semoga tidak terus naik, mahalnya harga buku juga menjadi tantangan.

Pemerintah, masyarakat/komunitas dan juga swasta harus kita rajut hubungannya dalam hal gerakan literasi. Bergandengan erat dan sering membuka ruang dialog serta sinergitas. Sehingga gerakan-gerakan literasi bisa lebih mudah dijalankan dan tercapai tujuan yang mulia. Jangan sampai salah satu pilar itu patah, bisa bubar lama-lama negara ini. Walah. . .

Meskipun bentuk atau gerakan literasi sudah banyak dilakukan oleh para komunitas yang lahir lebih dulu, gerakan tersebut bisa diduplikasi oleh siapapun. Tanpa adanya kekhawatiran terjerat pasal plagiasi. Bahkan inovasi gerakan bebas dilakukan dan sesuai dengan perkembangan zaman. Gerakan juga sesuai dengan kebutuhan dari komunitas/lembaga itu sendiri. Sehingga, sampai tulisan ini saya selesaikan, saya tidak berani menjawab dan memberikan kesimpulan, bahwa siapa pemilik gerakan literasi. Siapa pewaris tunggalnya?

Tapi saya yakin, para pegiat literasi tidak pernah merasa dirinya paling berjasa dan paling heroik dalam menggerakkan literasi di tempatnya. Karena gerakan literasi adalah berjuang di jalan sunyi, namun tidak sepi cita-cita. Tabik.

______________________________

*Anggota Komunitas Literasi Janasoe