Saya dan Sebuah Perkenalan


Oleh Fikri Fadh*

Saya : Fikri Fadh. Tulisan ini mewakili diri saya sendiri. Saat tulisan ini mulai dibuat, saya tidak sedang mendapatkan amanah apapun, sehingga tulisan ini tidak mewakilinya. Kecuali sebagai manusia yang berkewajiban menjaga ibadah dan hubungan baik antar sesama makhluk. Pada waktu tertentu saya menyukai berkerumun dengan manusia yang lain. Namun, saya tetap menyukai, bahkan lebih menyukai keheningan atau kesunyian dalam kesendirian. Mencoba menguji kekuatan keimana dan ketaqwaan saat dalam kesendirian, merupakan ujian yang berat menurut saya. Hanya kita dan Sang Pencipta, berdua saja. Dengan kesunyian dan kesendirian, saya bisa lebih tenang dalam belajar. Terutama dalam mengevaluasi, apa yang sudah dilakukan.

Saya terlalu takut untuk mengecewakan. Oleh karena itu, saya lebih banyak mengalah dalam perselisihan. Bukanlah ahli debat dan argument. Meskipun saya sejak dahulu menyukai membaca dan mengumpulkan arsip-arsip data. Sebenarnya, arsip-arsip data bisa saya gunakan untuk senjata, tapi tujuan saya tidak itu. Saya membaca dan mengumpulkan arsip-arsip bertujuan untuk menguatakan pijakan, terutama jika harus mengambil keputusan.

*

Sejak MTs saya menyukai membaca. Masih teringat sewaktu Pondok Pesantren tempat saya belajar membuat sebuah perpustakaan di Masjid. Saya selalu mengendap-endap untuk datang kesana pada malam hari. Disaat santri yang lain sudah tertidur itulah, saya keluar kamar dan menuju sudut masjid yang terdapat sebuah rak berisi buku-buku. Saya bukan pengingat yang baik, tapi juga tidak mau disebut pelupa. Namun jika ditanya, buku apa saja yang masih kamu ingat semasa MTs? Sebenarnya hanya ada satu buku yang masih terekam jelas dalam ingatan, meskipun hanya sebatas judul dan beberapa potong kisah di dalamnya. Yaitu novel karya NH Dini yang berjudul “Hati Yang Damai”. Saya mengucapkan terima kasih kepada siapa pun yang telah meletakkan buku itu di deretan antara buku-buku pelajaran agama. Sejak saat itulah saya berkenalan dan menyukai prosa. Buku-buku yang lain juga sempat membacanya, tetapi karena tidak menjatuhkan hati pada buku itu, akhirnya terlewat begitu saja.
Masuk sekolah menengah atas, saya memutuskan masuk ke SMK. Teknik Komputer Jaringan menjadi pilihan waktu itu. Tidak ada pertimbangan apapun saat memilih jurusan itu. Sebenarnya, asalkan tidak lagi di Pondok Pesantern, itulah intinya.

*

Belajar komputer dan segala macamnya menjadi kegiatan sehari-hari saat delapan jam di sekolah. Tentunya tidak hanya belajar di kelas, saya juga belajar hal-hal lain. Bahkan layaknya seorang anak SMK yang dekat dengan urusan pukul-memukul. Mulai mengenal dunia genk-genk-an, meskipun hanya genk kelas kecamatan. Tapi saya tidak sebrutal dan sengawur itu. Saya perlu menjaga nama baik diri dan juga orang tua. Meskipun sehari-hari belajar tentang dunia komputer, baik perangkat keras dan perangkat lunak, kesukaan saya pada prosa tidaklah saya jauhkan begitu saja. Sebenarnya saya ingin menyebutnya menyukai sastra, tapi saya tidak begitu paham apa itu sastra, mengambil salah satu rantingnya dirasa sudah cukup. Kebiasaan mengendap-endap menemui buku-buku juga masih saya lakukan saat SMK. Saya yakin teman-teman saya waktu itu tidak tahu. Jarang sekali mengajak teman ke perpustakaan, tempat paling sepi di sekolah. Menyembunyikan diri bahwa saya menyukai buku.

Mengakui ini sebenarnya agak malu, tapi untuk apa? Baiklah, menginjak kelas dua SMK, saya untuk pertama kalinya berkenalan dengan sebuah buku tebal. Sebut saja itu Novel. Covernya bertuliskan “Moga Bunda Disayang Allah”. Bergambar anak perempuan kecil dan pohon-pohon. Nama penulisnya terletak dibagian bawah, Tere Liye. Bahkan, saya akan membuat pengakuan, bahwa semua novel Tere Liye sudah saya baca, termasuk kumpulan sajaknya. Semua novel yang saya baca adalah karya yang terbit sebelum sang penulis memutuskan untuk berhenti menerbitkan bukunya. Saya akhirnya memiliki semua novel itu, kurang lebih 24 judul. Menatanya di rak buku kamar kos saya pada masa pertengahan kuliah. Tapi semua novel itu sudah berganti pemilik. Bukannya tidak suka, waktu itu biaya untuk sidang skripsi harus disiapkan segera. Sebagai mahasiswa yang ber-uang saku tipis, mengharuskan merelakan mereka-mereka berganti pengasuh.

*

Maaf jika meloncat tulisannya. Pada awal kuliah, dikarenakan saya sering berkumpul dengan mahasiswa yang sudah semester akut, perkenalan saya dengan buku-buku menjadi semakin aktif. Pada semester satu, saya masih ingat betul. Sebongkah tumpukan kertas, covernya berwarna putih, bergambar seorang laki-laki yang menyangga janggutnya. Cover itu berjudul “MADILOG”. Memiliki judul kecil di bawahnya “Materialisme, Dialektika dan Logika”. Jelas itu bukan buku karya sastra seperti sebelum-sebelumnya. Tapi saya membacanya, perlahan dan menuntaskan sebelum diambil pemiliknya.

Pada awal kuliah juga, waktu itu akhir tahun 2012. Tergeletak sebuah buku di lantai kontrakan tempat saya berteduh. Buku itu bercover merah dan hitam, penulisnya Muhidin M Dahlan. Saya tertarik membacanya, waktu itu ketertarikannya bukan pada judul, melainkan karena nama penulisnya. Dalam benak saya, mungkin ini anaknya atau cucunya KH Ahmad Dahlan. Tetapi apakah masih ada hubungan antara Muhidin M Dahlan dan KH Ahmad Dahlan? Secara judulnya : “Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur”. Buku itu terlahap juga, kalau tidak salah 3 hari membacanya, disela-sela menenteng bongkahan MADILOG.

*

Perkenalan saya dengan dunia sesungguhnya saat melanjutkan kuliah di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, dengan jalur beasiswa. Tidak hanya berkenalan dengan buku-buku. Namun juga berkenalan dengan organisasi, wirausaha, teman-teman hebat, wanita, lelah, sakit, kecewa, rindu, konflik, masalah dan juga berkenalan dengan kelaparan. Banyak yang sudah saya kenal selama ini. Meskipun berkenalan tentang banyak hal, saya masih menyukai kesunyian. Meskipun saya belum mengenal baik dengan kesunyian. Karena kadang kala, malah merasa gelisah saat bersama kesunyian. Izinkan saya masih berkenalan dengan mu, karena saat itulah saya merasa lebih kenal dengan siapa pemilik saya sesungguhnya.

Dari semua hal yang saya kenal dalam perjalan hidup ini, saya yakini itu baik. Bahkan berkenalan dengan hal yang tidak baik pun, saya yakin itu adalah sebuah kebaikan yang lain. Bahkan, saya berkenalan dengan lapar dan sering sekali menjumpainya. Saya tidak menyesal berkenalan dengan lelah dan lapar, itulah konsekuensi yang memang harus saya dapatkan.

Dengan berkenalan dengan lelah dan lapar, saya bisa tahu bagaimana bersikap yang baik. Bahwasannya mengatasi lapar, bukan sekedar makan. Tapi tahu, apa yang kita makan. Berkenalan dengan lelah juga tidak hanya dengan istirahat untuk mengatasinya, melainkan lelah kita itu untuk apa sebenarnya?. Berkenalan dengan rindu pun seperti itu, bagaimana kita memuarakan rindu itu, supaya tidak salah arus. Mengenal konflik dan masalah juga saya lakukan. Dengan mengenalnya, berharap tidak semerta-merta menghindari, tapi bagaimana cara mengatasi. Saya, kamu, kita dan segala sesuatu dalam hidup harus saling kenal. Terutama kenal dengan siapa pemilik kita sesungguhnya. Perkenalkan, saya Fikri Fadh.

____________
*Anggota Komunitas Literasi Janasoe