Rumah Baca Mahardhika, Maha Karya Mahasiswa UMY di Papua Barat


Sejumlah anak suku Kokoda menari dalam acara peresmian rumah baca di Kampung Warmon Kokoda, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Sabtu (12/1/2019). Acara itu dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir. Pembangunan rumah baca merupakan salah satu program Muhammadiyah untuk memberdayakan masyarakat suku Kokoda di kampung tersebut.

Di Sorong, Papua Barat, terdapat sejumlah karya kemanusiaan Muhammadiyah. Karya itu berupa sekolah, perpustakaan, dan pendampingan untuk meningkatkan keterampilan. Warga pun menyambut gembira dan menyebut tempatnya sebagai ”kampung Muhammadiyah”.

Puluhan warga berkumpul di jalan menuju Kampung Warmon Kokoda, Kabupaten Sorong, Papua Barat, Sabtu (12/1/2019) siang. Diiringi irama alat musik tradisional, mereka menari dan bernyanyi. Sinar matahari yang menyengat tak mengendurkan semangat mereka.

Siang itu, warga Kampung Warmon Kokoda menyambut kedatangan rombongan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir dan Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini.

Dalam rombongan, turut serta sejumlah pengurus PP Muhammadiyah dan Aisyiyah serta sejumlah rektor perguruan tinggi Muhammadiyah.

Haedar dan Noordjannah hendak melihat program-program yang dijalankan Muhammadiyah di Kampung Warmon Kokoda yang dihuni 185 keluarga dari suku Kokoda, salah satu suku asli Papua Barat. Di kampung yang berlokasi di Distrik Mayamuk itu, sejak beberapa tahun lalu, Muhammadiyah telah berkiprah.

Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah Nurul Yamin mengatakan, Muhammadiyah masuk Kampung Warmon Kokoda pada tahun 2012.

Sejak saat itu, sejumlah program pemberdayaan masyarakat dilakukan Muhammadiyah. Misalnya, membangun sekolah dasar (SD) agar anak-anak suku Kokoda bisa mendapatkan pendidikan layak.

Muhammadiyah juga melakukan pendampingan agar warga Kampung Warmon Kokoda bisa mendapatkan penghasilan dengan bertani, beternak, dan mencari ikan di laut.

”Kami mendampingi saudara-saudara kita di Kokoda agar bisa bertani, beternak, dan menjadi nelayan,” ujar Yamin.

Program pemberdayaan tersebut kian membesar setelah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara rutin mengirimkan mahasiswa untuk menjalani program kuliah kerja nyata (KKN) di Kampung Warmon Kokoda sejak 2016.

Para mahasiswa menjalankan sejumlah program, termasuk mengembangkan Rumah Baca Mahardika Kokoda untuk meningkatkan pengetahuan warga setempat.

Seorang mahasiswa UMY yang ikut menginisiasi Rumah Baca Mahardika Kokoda, Nafis Nidhomi (23), mengatakan, rumah baca dirintis tiga tahun lalu. Awalnya, bangunan rumah baca bersifat semipermanen, tetapi lama-lama rusak. ”Tanah di sini, kan, gambut. Jadi, bangunan rumah baca mulai ambles,” ujarnya.

Prihatin dengan kondisi itu, para mahasiswa UMY yang menjalankan KKN di Kampung Warmon Kokoda mencari bantuan dana untuk memperbaiki bangunannya.

Mereka mendapat bantuan dana dari Bank Syariah Mandiri. ”Pembangunan permanen rumah baca dilakukan pada Juli-September 2018,” ujarnya.

Menurut Nafis, selain menyediakan buku-buku bacaan, Rumah Baca Mahardika Kokoda juga dimanfaatkan untuk menggelar sejumlah kegiatan, misalnya pemutaran film, pembacaan buku cerita, dan kegiatan belajar membaca untuk anak-anak. Untuk menambah ragam kegiatan, pengelola rumah baca bekerja sama dengan berbagai komunitas literasi di Sorong.

Kampung Muhammadiyah

Tokoh masyarakat Kampung Warmon Kokoda, Jalil Namugur, mengatakan, warga suku Kokoda menetap di kampung itu sejak tahun 2000. Sebelumnya, sejumlah warga tinggal di Kota Sorong, tetapi diminta pindah karena lahan yang mereka tempati adalah milik pemerintah. ”Kami digusur, tetapi pemerintah tidak menyiapkan lahan bagi kami.

Akhirnya kami membuat permukiman di sini,” katanya. Menurut Jalil, warga suku Kokoda di Kampung Warmon Kokoda memeluk agama Islam secara turun-temurun. Karena itu, kedatangan Muhammadiyah disambut dengan baik.

Apalagi, Muhammadiyah menjalankan banyak program yang terbukti bermanfaat untuk membantu kehidupan warga di lokasi baru.

Kepala Kampung Warmon Kokoda, Syamsuddin Namugur, menyatakan, Muhammadiyah banyak memberi kontribusi kepada kampung itu sehingga hubungan warga dengan Muhammadiyah menjadi sangat dekat. Bahkan, Syamsuddin menyebut Warmon Kokoda sebagai ”kampung Muhammadiyah”.

”Ini adalah ’kampung Muhammadiyah’ karena masyarakat bersyarikat di Muhammadiyah. Kami di Papua Barat, ingin mewujudkan cita-cita Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah),” katanya.

Pulau Arar

Selain di Kampung Warmon Kokoda, Muhammadiyah juga menjalankan pengabdian di wilayah lain di Papua Barat. Salah satunya Pulau Arar, Distrik Mayamuk, Sorong.

Di pulau itu, Muhammadiyah mendirikan taman kanak-kanak (TK) pada 2008, SMP pada tahun 2009, dan SMA pada 2012. Sebelum ada tiga sekolah itu, di Pulau Arar hanya ada satu SD Inpres.

Kepala Kampung Pulau Arar, Nurdin Rumaur, mengatakan, sebelum ada SMP dan SMA Muhammadiyah, lulusan SD di pulau itu harus ke Sorong. Mereka mesti naik perahu untuk ke sekolah. Karena sejumlah masalah, banyak lulusan SD di Pulau Arar tak melanjutkan pendidikan.

Kini, sejumlah lulusan SMA di Pulau Arar kuliah di perguruan tinggi di beberapa kota di Jawa. ”Kami berterima kasih banyak pada Muhammadiyah sehingga kita punya anak-anak banyak sudah kuliah. Ada yang ke Jakarta dan Surabaya,” kata Nurdin.

Haedar menyatakan, Muhammadiyah akan terus hadir di Papua Barat untuk berbagi ilmu dan mendorong kemajuan di wilayah tersebut. Muhammadiyah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di Papua Barat, termasuk mendirikan perguruan tinggi dan sekolah di provinsi itu.

”Saya yakin dengan kesabaran, ketulusan, kecerdasan, serta modal sosial dan rohaniah yang kuat, kami akan terus hadir di bumi Papua untuk berbagi ilmu, berbagi peran. Dengan demikian, seluruh warga bangsa bisa makin maju,” kata Haedar.

sumber: Kompas, 18 Januari 2019, judul disesuaikan dengan misi Serikat Taman Pustaka Muhammadiyah


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *