Rumah Baca Cahaya dan Mendung


Sejak jam 13.00 an sebagian relawan rumah Baca Cahaya sibuk menata ruang ruang kelas untuk pelaksanaan Penilaian Tengah Semester esok hari. Setelah pagi hari tadi baru datang dari jogja. Setelah membaringkan letih dan penat sejenak, selepas duhur segera menuju ke SMP Muhammadiyah 7 Blumbing. Ditengah kesibukan menata bangku, diluar mendung mulai menggelayut di langit pantura. Biasanya, setiap kali mendung datang, di grup WA Sahabat RBC selalu ramai dengan pertanyaan : RBC melapak gak ? Nanti kalau hujan bagaimana? Dan lain sebagainya. Tapi kali ini, Relawan tidak ada yang bertanya. Selepas asar, langsung sigap mengangkuti buku dan perlengkapan lainnya ke Pelabuhan Nusantara Brondong.

Mendung semakin memenuhi langit. Kegiatan lapak baca berjalan seperti biasa. Kali ini para relawan ditemani jajanan khas daerah. Ada bakpia pathok khas jogja, ada gethuk khas magelang, ada juga bika ambon. Semuanya menjadi teman bersantap sembari melayani pengunjung.

Setiap kali RBC melapak di minggu sore hari, pengunjung selalu melimpah ruah. Bentangan banner banner bekaspun seringkali tak mencukupi. Dingklik -tempat duduk yang kecil-yang hanya beberapa juga tak memadai. Namun betapapun keterbatasan layanan yang bisa diusahakan relawan RBC tetap tidak bisa menutupi kegembiraan adik adik dan para pengunjung. Kehadiran RBC mulai mewarnai keseharian mereka. Jadwal buka lapaknya sudah direkam di memori mereka. Kehadiran RBC semoga memberi warna baru di cakrawala pantura.

Memang, di musim hujan, mendung dan hujan menjadi tantangan tersendiri bagi Rumah Baca Cahaya. Karena konsep yang diusung adalah perpustakaan jalanan dengan cara menggelar lapak, maka ketika hujan mendera liburlah lapak. Menggerakkan pengetahuan ke haribaan pembaca pun tertunda. Dan itu menyedihkan. Karena tidak setiap hari RBC melapak, akibat keterbatasan relawan, maka setiap datang kesempatan melapak, maka itu adalah perayaan. Itu adalah kegembiraan.
Dicatat pada hari Minggu, 11 Maret 2018 oleh W. Yono, Pendiri RBC