Ribuan Bintang Bertaburan


Oleh: Sri Lestari Linawati

“Buka… buka… buka…,” kata kondektur bis memberitahu penumpang akan datangnya waktu berbuka. Lampu-lampu dalam bis dinyalakan. Penumpang yang memenuhi bis yang kami tumpangi, segera membatalkan puasa dengan bekal masing-masing.Bis terus melaju.

Tentu saja ada nuansa yang berbeda saat kami harus berbuka puasa di dalam bis perjalanan mudik. Terasa ada sebuah magnet yang sama bahwa kami sedang ikhtiar menjalankan perintahNya. Sebagian besar penimpang bis ini turun di tujuan akhir, Banyuwangi. Sebagian lainnya turun di terminal Tawangalun Jember. Meski penumpang penuh sesak, rasanya adem ayem saja menikmati perjalanan itu. Mungkinkah ini salah satu barakah Ramadhan?

Usai tayammum di kursi depan, aku shalat berjamaah bersama putraku. Maknyes. Rasa adem segar memenuhi dada. Teringat seakan urip mung mampir ngombe. Mudik lebaran untuk setor cinta pada Ibunda dan keluarga hanyalah digerakkan oleh hati dalam dada.

Membuka bekal makan, seadanya pun tiada mengurangi makna. Syukur pada Sang Pencipta karena masih diberiNya kita nikmat dan karunia. Nasi lauk dibungkus kertas bungkus nasi, dengan duduk berhimpitan, terasa nikmat saja. Tiada rasa sempit di dada.

“Hla emang di mana nikmatnya?”

Jawabku, “Entahlah, aku pun tidak tahu. Nikmat saja. Kedua buah hatiku juga enjoy saja, duduk manis dan makan dengan lahap. Alhamdulillah..” Sampai di sini, aku belajar bahwa yang namanya kecukupan dan kenikmatan itu hanyalah dari Allah, bukan pada materi yg kasat mata bagi kita manusia.

Sekira para penumpang telah usai berbuka puasa dan makan, lampu bis dimatikan. Gelap.

Kulihat keluar jendela bis. Ribuan bintang tampak bertaburan di berbagai sudut langit. Alangkah indahnya. Besar kecil berkelip-kelip bercanda dengan semesta. Allahu akbar.. Allahu akbar..

“Yang Ibu lihat di rumah kok tidak sebanyak itu, Le?” tanyaku pada putraku.

“Kena lampu, Bu.. Di pondokku, aku juga melihatnya setiap hari. Kan pondokku gelap..” jawabnya.

Aku faham maksudnya. Pondok putraku sih ada lampu listrik, cuma karena letaknya di desa yang masih relatif dikelilingi sawah, maka sekeliling pondok gelap. Akibatnya, putraku bisa melihat ribuan bintang itu setiap hari.

Subhanallah.. Alhamdulillah.. kupikir inilah rahmat dan kasih sayang Allah pada buah hati yang belajar di pondok pesantren. Tiap orang tua pastilah sayang pada putra-putrinya, berat untuk berpisah. Namun Allah senantiasa menghadirkan rahmat dan kasih sayangNya sesuai dengan kehendakNya.

Dari hal itu aku belajar untuk ikhlas pada kepergian putraku untuk mondok. Tak mudah memang. Yang diperlukan orang tua adalah menata hati terhadap itu semua. Mengirim anak sekolah di pondok pesantren tidak identik dengan pasrah bongkokan, namun adalah sebuah perjalanan panjang etape kehidupan.

Tak terasa bis sudah hampir masuk terminal Tawangalun Jember. Karena penumpang Banyuwangi banyak, maka kami penumpang Jember diturunkan di depan terminal. Setelah penumpang Jember semua turun, bis segera melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi. Mungkin juga karena tengah malam. Waktu menunjukkan jam 01.00 wib. Sebuah jam kedatangan yang dua jam lebih cepat dari biasanya.

Naik apa ke rumah di tengah malam begini? Syukurlah ada angkutan umum online yang masih tugas. Bersyukur lagi, kami sampai di rumah Ibu dengan selamat.

Ibu dan keponakan-keponakan sudah menunggu. Pagi itu, kami sahur bersama. Bahagia dan haru bisa berkumpul bersama keluarga, meski jalan dengan kaki kurang sedikit tegak. Ah, betapa kasih sayang Allah sedemikian besar dan agungnya. Tetaplah tersenyum menatap masa depan ummat dan bangsa. []

Jember, 30 Ramadhan 1440/ 4 Juni 2019.*Episode mudik Yogya-Jember-Kudus 1440 H.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *