7 menit waktu baca

Resiliensi Kolektif Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Uswatun Hasanah

Sepanjang perjalanan hidup manusia tentunya mengalami banyak peristiwa yang menguatkan dan juga membuat terpuruk. Tidak hanya manusia tapi dunia dan lebih spesifik lagi negara tentunya akan mengalami siklus kehidupan tersebut. Beberapa tahun silam, Indonesia pernah mengalami pandemi flu burung atau H1N1 yang tentunya menimbulkan korban akibat wabah tersebut. Selain korban, wabah tersebut tentunya memiliki dampak bagi kehidupan manusia mulai dari perekonomian, pariwisata, dan dampak sosial lainnya. Seharusnya dari peristiwa flu burung tersebut, penting bagi seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk mengambil pelajaran dalam menghadapi pandemi tersebut.

Dunia Kembali geger, ketika dipenghujung tahun 2019 muncul jenis virus baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus tersebut adalah Coronavirus Disease 2019 atau disingkat COVID-19. Secara etiologi, virus ini termasuk zoonosis atau ditularkan melalui hewan ke manusia (WHO, 2020), namun hingga kini belum diketahui pasti hewan yang menjadi sumber penularan virus ini (Kemenkes, 2020). Akibat dari keganasan virus ini dan telah menelan banyak korban, akhirnya World Health Organization menetapkan virus corona sebagai pandemi yang berdampak sangat besar bagi kehidupan manusia khususnya Indonesia.

Pandemi virus corona menjadi salah satu penyakit yang paling menakutkan untuk saat ini. Virus ini memiliki tinggat penularannya yang sangat tinggi. Berdasarkan bukti ilmiah, virus corona ini dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dan droplet namun tidak melalui udara (Kemenkes, 2020). Setiap orang memiliki faktor risiko tertularnya penyakit ini. Hal ini membuat beberapa negara mengambil kebijakan untuk melakukan lockdown dan secara spesifik di Indonesia telah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Situasi dari pandemi Covid-19 tentunya bukan menjadi situasi yang menyenangkan apalagi diharapkan kehadirannya. Kondisi ini memiliki dampak secara makro bagi negara seperti laju pertumbuhan ekonomi yang melambat dan secara mikro dapat menurunkan kesejahteraan fisik, sosial maupun psikis bagi individu dan masyarakat.

Membahas pandemi tidak hanya sekedar membahas virus dan risiko kesehatan mengancam. Prevalensi relatif perilaku massa yang terjadi akibat pandemi kerap terjadi seperti munculnya “egoisme” dan juga kepanikan massal seperti munculnya oknum penimbun alat kesehatan dan fenomena panic buying yang terjadi pada masyarakat kelas menengah atas, tentunya kondisi tersebut akan semakin memperparah kerentanan masyarakat. Ketimpangan antar kelompok masyarakat menengah dan bawah semakin terlihat jelas. Kelompok masyarakat menengah kebawah hanya bisa menelan air liur sembari berpikir keras bagaimana cara untuk tetap menjaga keberlangsungan hidup. Namun, apakah kita harus menyerah dengan keadaan ini? Tentu harapan bersama seluruh masyarakat adalah melewati situasi ini dengan adaptif.

Baca juga:  Tempat Sunyi untuk Persemaian Ide

Sebagai manusia tentunya memiliki naluri untuk hidup dan bertahan hidup (Freud, 1921). Hal urgent yang harus dilakukan bersama adalah bagaimana membangun ketahanan dan upaya mengembalikan tatanan kehidupan yang berubah pasca pandemi. Ketahanan atau sering dikenal dengan istilah resiliensi merupakan kapasitas individu untuk merespon secara sehat dan produktif ketika dihadapkan dengan situasi menekan, kekuatan ini digunakan untuk menghadapi situasi sehari-hari yang menekan (Reivich & Shatte, 2002). Individu yang resilien bukan berarti tidak menghadapi masalah, tetapi mampu bangkit menggunakan kapasitasnya dan bertahan dari situasi menekan dan terpuruk yang menimpa (Hasanah & Retnowati, 2017).
Kita menyadari bahwa resilien adalah kapasitas individu dimana akan berkembang optimal bila didukung oleh faktor protektif lain baik dari dalam diri individu sendiri maupun dari luar individu. Pandemi Covid-19 tidak hanya menjadi masalah individu namun menjadi masalah yang harus dihadapi bersama. Terkadang naluri pribadi untuk hidup dan mempertahankan kehidupan menjadi kerentanan dan memberi risiko besar terhadap masyarakat luas. Dalam sebuah situasi darurat, masyarakat secara kolektif sangat rentan untuk merespon situasi dengan irasional. Hasilnya perilaku yang tidak terkoordinasi dan lebih bersifat kompetitif akan semakin memperparah situasi ditengah pandemi.

Sebagai masyarakat kolektif tentunya ketahanan kolektif (collective resiliency) menjadi daya tahan masyarakat ditengah pandemi. Ibarat tubuh yang perlu suplemen ditengah kondisi sakit, collective resliency menjadi modal positif yang harus dikembangkan dan dipertahankan. Kerangka kerja resiliensi kolektif ini menekankan pada swadaya bersama, mengumpulkan dan mengelola sumberdaya komunitas, dan saling mendukung kemampuan para penyintas untuk pulih dan kembali berfungsi seperti sebelum menghadapi situasi darurat.

Resiliensi kolektif ini merupakan sebuah gagasan yang dikemukakan oleh Kirmayer dkk (2009) menjelaskan bagaimana ketahanan masyarakat dalam menghadapi tekanan dan tantangan hidup melalui pengmbalian fungsi relasi sosialnya. Seperti halnya individu, masyarakat juga memiliki kekuatan dan kelemahan dalam mengatasi berbagai permasalahan hidup. Resiliensi kolektif diturunkan dari konsep kategorisasi sosial. Terdapat perasaan kuat akan nasib yang dihadapi bersama (bahaya bersama) dan saling gotong royong membantu atas landasan terdapat identitas sosial bersama. Dukungan berupa sumberdaya sosial, budaya, dan lingkungan dikembangkan dalam bentuk jejaring sosial yang kuat sebagai sebuah sistem penyangga kehidupan masyarakat. Bukti dari solidaritas inklusif yang dilakukan masyarakat adalah dengan melakukan penggalangan dana dan kerja-kerja filantropi lainnya yang bertujuan untuk membantu masyarakat yang paling terdampak atas munculnya wabah ini seperti pedagang kaki lima, tukang ojek, para buruh, petugas kebersihan, tenaga medis serta berbagai pekerja informal lainnya.

Baca juga:  Selamat Jalan Mas Hernowo, Guru Pengikat Makna

Rasa persatuan dengan masyarakat selama pandemi menjadi dasar dalam kekuatan memberi dan menerima dukungan. Tingginya tingkat rasa tolong-menolong sesama masyarakat mendukung pandangan bahwa masyarakat pada umumnya akan meningkatkan resiliensinya jika diperkuat dengan koordinasi serta kolaborasi antar masyarakat. Faktor protektif lain buat masyarakat dalam situasi ini adalah kebijakan dari pemerintah agar menjaga pola hidup sehat, melakukan physical distancing, dan selalu menjaga kebersihan terutama sering mencuci tangan dengan sabun, selain itu, kesiapsiagaan tenaga medis dan para peneliti yang terus bekerja keras mencari jalan keluar untuk bisa keluar dari wabah ini menjadi harapan bahwa kita bisa melalui semua ini bersama-sama. Resiliensi kolektif membantu masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari selama pandemic, hal ini juga dapat mereduksi terjadinya kecemasan berlebihan pada masyarakat.

Membangun resiliensi sejalan dengan upaya dalam membangun manusia menuju kehidupan yang lebih sehat. Membangun resiliensi tentunya menyediakan ruang interaksi antara aspek-aspek psikis manusia dengan lingkungannya (Benard, 2002). Resiliensi kolektif memiliki keterkaitan dengan lingkungan hidup yang sifatnya resiprokal, dengan menggunakan kemampuan resiliensi kolektif ini membantu mengembalikan kebiasaan masyarakat untuk menjaga dan merawat alam. Interaksi ini akan mengembalikan dan memperkuat identitas budaya masyarakat yang selama ini mulai tergerus akibat industrialisasi. Disatu sisi, pandemi ini menjadi tantangan bagi masyarakat dunia, namun disisi lain dapat memberikan hikmah bahwa alam saat ini tengah beristirahat akibat intimidasi selama bertahun-tahun yang dilakukan oleh manusia. Memperkuat resiliensi kolektif selalu berfokus pada kehidupan alamiah manusia, keluarga, dan tradisi dalam menjalani kehidupan yang masih terikat sistem natural lingkungan tempat manusia itu hidup (Adger, 2000).

Semua elemen berkolaborasi dan berkontribusi pada proses, kekuatan, serta aset kolektif dalam mengatasi kesulitan ditengah pandemi. Kekuatan kolektif yang tangguh memberikan peluang dan sumberdaya baru bagi individu dan masyarakat untuk terus adaptif (Kimlayer dkk, 2009). Sonn dan Fisher (1998) menyebutkan terdapat tiga faktor penting dari ketahanan kolektif ini yaitu; (1) terpenuhnya hak dan kewajiban setiap anggota keluarga; (2) otoritas pemerintah yang adil serta mengutamakan kesejahteraan rakyat; (3) nilai yang ditempatkan pada diri dan masyarakat sebagai alat dalam mencapai tujuan.

Dalam situasi pandemi ini semua elemen masyarakat bersatu mengerahkan kekuatan yang dimiliki untuk saling membantu dan menguatkan dengan tidak memandang latarbelakang kesukuan, agama, ras, dan pembeda lainnya. Masyarakat yang tangguh pada situasi darurat adalah mereka yang mampu mempertahankan keragaman setiap anggota masyarakat dan merespon secara positif terhadap krisis bersama (Kimlayer dkk, 2009).

Baca juga:  Potret, Makna, dan Ide Literasi bagi Seorang Veteran Perang (Mengenang Dauzan Farook)

Terdapat tiga fase yang harus dilalui masyarakat selama menghadapi pandemi menurut Kimlayer dkk (2009) yaitu; pertama fase resistance, masyarakat berusaha melawan, beradaptasi dengan cara menangkal dampak dari tantangan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan masyarakat patuh terhadap himbauan agar selalu menjaga kebersihan diri, tidak keluar rumah untuk hal yang tidak penting, menjaga jarak aman, serta selalu berpikir positif. Masyarakat tangguh dapat menahan dan melalui beban selama pandemi sebelum mengalami perubahan yang berlangsung lama. Kedua fase pemulihan, tantangan yang berkepanjangan tersebut tentunya akan memiliki dampak terhadap perubahan perilaku masyarakat. Pandemi ini tentunya akan menimbulkan trauma, sikap individualis, ada perilaku sosial baru, penerapan pembatasan sosial berskala besar mungkin akan tetap berlanjut hingga tahun setelah wabah ini terjadi, kebiasaan baru masyarakat, dan lainnya. Masyarakat tangguh akan kembali seperti situasi semula dengan menjadi komunitas yang lebih baik dan lebih solid, dan percepatan mencapai resiliensi akan lebih cepat ketika menghadapi situasi menekan lainnya.

Ketiga fase kreativitas, sebuah tatanan masyarakat dapat bertransformasi karena situasi sulit sehingga masyarakat dituntut untuk mengembangkan kekuatan baru yang tentunya akan membawa pada kebiasaan baru. Diharapkan setelah pandemi berakhir masyarakat dapat lebih menjaga alam dan kebersihannya karena secara sadar wabah ini muncul sebagai pertanda akan kerusakan alam yang luar biasa. Fase-fase tersebut merupakan sebuah sistem yang bersifat dinamis, hal ini juga dipengaruhi oleh latarbelakang budaya sebuah masyarakat.

Dengan menjadi masyarakat yang resilien, kita menjadi lebih mampu beradaptasi dengan situasi sulit seperti saat ini. Kita mampu untuk terus memikirkan dan melakukan aksi dalam rangka memproteksi diri, keluarga, masyarakat, serta bangsa ini dalam menghadapi pandemi. Resiliensi kolektif juga dapat mencegah munculnya kelompok masyarakat egois yang hanya memikirkan kepentingan pribadi, mencari kesempatan ditengah kesulitan banyak pihak. Serta selalu mengambil hikmah dan bersyukur setiap hari atas setiap hal baik yang terjadi. Oleh karena itu, pandemi ini bukan masalah individu namun masalah bersama dengan mengumpulkan kekuatan positif kita mampu menghadapi situasi ini bersama-sama.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...