Relasi Islam Dengan Non-Islam (Menjawab Pertanyaan David Efendi)


Oleh : Budi Nurastowo Bintriman
Penulis dan Pengasuh Pesantren

Ada pertanyaan yang sangat menarik dari seorang kawan. Saya duga, pertanyaan itu muncul dari kegalauan dan kegelisahannya (dalam arti positif). Bukankah orang-orang hebat di dunia ini memang orang “penggalau” dan “penggelisah”? Misal, tanpa kegalauan dan kegelisahan seorang Darwis, Muhammadiyah mustahil lahir. Sepakat?

Kawan saya itu pemuda bernama David Efendi. Ia pegiat literasi, khususnya dalam hal merevolusi perpustakaan (dalam maknanya yang konvensional). Ia “reinkarnasi” dari spirit dan inspirasi Dauzan. Sedang di Persyarikatan, ia menongkrongi Majelis Pustaka dan Informasi. Maka saya sangat tertarik untuk menulis (singkat saja) perihal yang ditanyakannya.

Karena ia melontarkan pertanyaan tersebut memang ditujukan untuk ditanggapi atau dijawab.
Meski begitu, saya husnudhan, bahwa ia sudah tahu persis jawabannya. Di sini, ia sekedar mau memantik wacana sekaligus memperkaya dan memperluas perspektif. Kurang lebih pertanyaannya adalah : “Bagaimana pendapat kawan semua mengenai Penerbit umum seperti Gramedia yang menerbitkan buku-buku Islam?”. Konteksnya adalah bagaimana jika ada persoalan obyektifikasi, kesalahan konten, dan sebagainya diakibatkan oleh kesalahan teknis atau ketidaktahuan. Karena, bisa jadi beberapa orang mempersoalkan karena orotitas dan legitimasi.

Di Dunia ini, ada beberapa contoh kasus fikih dan teks Al-Qur’an atau Al-Hadis yang bisa kita jadikan analogi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Dalam fikih munakahat, kita bisa ambil contoh perihal mahar. Dari perspektif laki-laki, ada ketentuan, berilah mahar terbaik untuk (calon) isterimu. Ini bisa “memberatkan” pihak laki-laki, jika hanya menggunakan perspektif ini belaka. Maka ada perspektif yang melengkapi dari pihak perempuan. Di sana ada ketentuan, bahwa perempuan terbaik adalah yang meringankan maharnya. Dengan dua perspektif ini, terjadilah keseimbangan.

Dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaf 3 dinyatakan :
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
“(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” Dalam satu perspektif, teks ini sangat ideal bagi pemberi pesan. Hingga bisa jadi, di dunia ini akan sepi nasehat. Maka dari perspektif penerima pesan ada ketentuan undhur maqal wa latandhur manqal. Dengan adanya dua perspektif ini, terjadilah keseimbangan. Nasehat tetaplah nasehat meski keluar dari mulut pelacur, koruptor, dan orang kafir sekalipun.

Dua perspektif tersebut tidak saling menafikan. Dua perspektif tersebut dimunculkan untuk meraih titik keharmonisan atau moderasi. Maka dari perspektif Penerbit Gramedia, ini adalah ranah muamalah. Pada sisi tertentu, ini bisa positif. Karena melalui proses inilah, para pegawai yang nota bene kaum Katholik mau tak mau “bersentuhan” dengan buku-buku Islam. Sedang dari perspektif penulis muslim, harus dikenalkan konsep muru’ah. Carilah sekuat tenaga penerbit-penerbit Islam untuk menerbitkan buku-buku mereka. Karena ada juga umat Islam yang tak mau membaca buku-buku Islam yang diterbitkan oleh penerbit non Islam, karena dirasa tak kaffah. Konsep muru’ah tak menafikan kebolehan Penerbit Gramedia menerbitkan buku-buku Islam (dalam ranah muamalah).

Maka sebagai titik harmonisasi dan moderasinya, para penulis muslim bisa menggunakan hitung-hitungan tersebut di atas. Strategi berdakwah (lewat buku) adakalanya malah bisa langsung “menembus” ke internal Katholik, tanpa kita bersusah-payah mengupayakannya. Jadi sekiranya karangan buku kita mengandung syiar atau tabligh atau dakwah yang lembut kepada mereka, maka bisa diterbitkan ke Penerbit Gramedia. Namun jika sekiranya sebaliknya, para penulis muslim menerbitkannya di penerbit-penerbit Islam. Wa-ALLAHU a’lam


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *