4 menit waktu baca

Refleksi Hari Bumi: Menakar Upaya Gerakan Pelestarian Alam

Oleh: Fadhel Izanul Akbar*

Hari Bumi adalah pengamatan tentang bumi yang dicanangkan setiap tahun pada tanggal 22 April dan diperingati secara Internasional. Tujuannya adalah agar manusia mempunyai kesadaran akan pelestarian dan apresiasi yang tinggi terhadap Bumi sebagai tempat mereka tinggal. Gaylord Nelson seorang pengajar lingkungan hidup berkebansaan Amerika Serikat yang menjadi tokoh dibalik dicanangkannya hari bumi. Sejarah mencatat pertama kali diperingati Hari Bumi (Earth Day) pada 22 April 1970. Sehingga sampai saat ini sudah setengah abad dan diperingati lebih dari 175 negara.

Seiring dengan peringatan hari Bumi yang tiap tahun di peringati, namun masih saja kesadaran kita sebagai manusia masih rendah dalam hal menjag dan melestarikan alam. Banyak dari kita lantang menyuarakan tentang manjaga alam. melestarikaan lingkungan dan sebagainya, akan tetapi hanya untuk keuntungan dan target pribadi semata. Hal ini sudah tentu hanya sampai pada taraf ekologi secara dangkal atau shallow ecology. Pada akhirnya kita tetap terjebak pada ideologi  Antroposentris, sehingga berpikir bahwa kita manusia adalah pusat dari alam dan lingkungan, jadi bebas untuk memberlakukan alam semau kita. Maka usaha untuk menjaga bumi melestarikan alam hanya akan bersifat temporer, hanya ketika tujuan tercapai dan kebutuhan terpenuhi selesei sudah. Yang benar-benar mampu mewujudkan alam menjadi lestari dan bumi yang lestari adalah pola ekologi dalam atau deep ecology.

Melestarikan Alam dengan Deep Ecology

Melestarikan alam atau lingkungan bukan berarti menjadikan lingkungan dalam keadaan statis, karena yang dimaksud dengan pelestarian alam adalah usaha melestarikan alam sehingga selalu dalam yang sesuai atau seimbang. Pelestarian alam dapat diwujudkan jika kita memmandang alam dalam pembacaan “Ekologi Dalam”, tidak memandang alam sebagai sesuatu yang hanya bersifat instrumental atau hanya memiliki nilai guna. Ekologi dalam, yaitu bahwa, manusia dan alam adalah sebuah satu kesatuan. Sehingga kita benar-benar melihat dunia sebagai suatu jaringan fenomena yang berkaitan satu sama lain secara fundamental, bukan sebagai kumpulan objek-objek yang terpisah. Arne Naess, filusuf asal Norwegia, pencetus filosofi “ekologi dalam”, mengatakan bahwa perluasan diri dari awal hingga akhir untuk menyelaraskan diri dan menyatu dengan semesta adalah dasar dari ekologi dalam.

Baca juga:  Kebelet Berkuasa

Dalam deep ecology, pertama, manusia dan kepentingannya sudah bukan sebagai ukuran segala sesuatu yang lain. Deep ecology memusatkan perhatian kepada semua spesies dan mempunyai kepedulian jangka Panjang dengan prinsip moral yang dikembangkan oleh deep ecology menyangkut kepentingan seluruh komunitas ekologi. Kedua, deep ecology mengembangkan etika lingkungan menjadi sebuah etika praktis yang melahirkan gerakan.

Mengutip dari pemikiran Arne Naess (1973), yang mengatakan bahwa prinsip-prinsip moral etika lingkungan hidup harus diejawentahkan dalam aksi nyata dan konkret. Selain itu etika lingkungan ini menyangkut suatu gerakan yang lebih dalam dan komprehensif. Dengan demikian deep ecology, akan sangat tepat dikatakan sebagai sebuah gerakan di antara orang-orang yang memiliki persamaan dalam sikap dan keyakinan, mendukung gaya hidup yang selaras dengan alam dan bersama memperjuangakan isu lingkungan hidup serta pelestarian alam.

Revolusi Ekologis

Ada sebuah buku yang ditulis oleh Fred Magdoff, seorang professor ilmun tanah, tumbuhan, dan pangan di University Vermont dan John Bellamy Foster seorang professor sosiologi di University Oregon, mereka berdua menulis tentang Lingkungan Hidup dan Kapitalisme. Mengutip dari buku tersebut dikatakan bahwa memburuknya lingkungan hidup bukan menjadi hal baru bagi dunia di era saat ini, tetapi sudah terjadi sepanjang sejarah mencatat, dengan dampak-dampak buruk yang mendalam terutama bagi sejumlah peradaban kuno, yang runtuh disebabkan karena factor-faktor yang diyakini adalah factor ekologi. Persoalan prmbabatan hutan menjadi gundul, pencemaran tanah, salinisasi tanah irigasi tenjadi sepanjang zaman kuno. Yang membuat era modern terlihat lebih menonjol adalah kini penghuni bumi lebih banyak, kita menciptakan teknologi dengan daya rusak lebih besar dan cepat, dan kita mempunyai system ekonomi yang tak terbatas.

Baca juga:  RBC : “Surga” Yang Dirindukan

Lalu apa yang dapat dilakukan sekarang ini? Perlu kita sadari, urgensi situasi menuntut untuk segera aksi, namun jika ingin efektif  aksi yang diambil hari ini harus dikonsep dengan sasaran yang tepat. Namun tentunya ini tidak bisa terjadi sekaligus. Revolusi ekologis semacam ini wajib berangkat dari tempat kita berpijak sekarang, bahwa kita harus mengatasi bahaya yang paling mendesak, genting dan secara bersamaan bekerja untuk tujuan jangka panjang untuk menggantikan kapitalisme dan oligarki dengan tatanan social yang lebih manusiawi. Kita sudah sadari betul bahwa terjun dalam aksi-aksi isu lingkungan adalah berhadapan dengan elite dan oligarki yang tak berkemanusiaan. Perusakan alam oleh kapitalisme dan oligarki bisa kita lihat pada penambangan di kendang yang masih berlanjut, konflik waduk sepat di Surabaya, Pencemaran limbah dari pabrik yang masih mengalir sehingga mencemari air, dan diperparah dengan Omnibus Law yang tetap dipaksa untuk disahkan oleh pemerintah. Pencapaian untuk mengurangi dampak negatif sistem kapitalis dan oligarki terhadap lingkungan dan rakyat, yaitu apabila kita berfokus kepada apa yang perlu dilakukan.

Selamat memperingati 50 tahun Hari Bumi. Mari kita bersama menjaga dan mencintai bumi. Katanya kalau cinta itu dijaga bukan dirusak.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...