Rebut Tafsir Kualitas Literasi Keluarga


Literasi adalah sebuah kata yang saat ini sedang ramai diperbincangkan. Dukungan pemerintah yang diluncurkan seperti pengiriman buku gratis setiap bulannya oleh Kantor POS atau pemberian paket buku dari Perpusnas serta gairah wakaf buku yang saat ini bergerak di akar rumput menunjukkan bahwa sebenarnya tingkat literasi di Indonesia tidak serendah apa yang dilansir UNESCO jika kita mau melihat gerak masyarakat di akar rumput.

Dalam data yang dilansir oleh UNESCO Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 dalam urusan literasi. Meskipun ada banyak pertanyaan tentang peringkat ini namun tampaknya kita harus bisa menerima itu semua meski kita tahu gairah berliterasi di akar rumput sangat luar biasa. Dalam lansiran UNESCO ini disebutkan bahwa salah satu yang dianggap menjadi penyebab rendahnya tingkat literasi di Indonesia adalah masih rendahnya pembiasaan membaca sejak usia dini. Uups .. Benarkah seperti itu ?

Keluarga adalah komunitas terkecil dan sangat menentukan dalam pembentukan karakter seseorang. Muhammadiyah dalam hal ini ‘Aisyiyah sudah sejak lama mencanangkan Keluarga Sakinah yang intinya untuk menciptakan keluarga yang berkualitas. Ketahanan keluarga menjadi salah satu strategi yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah dalam upaya memperbaiki karakter untuk kehidupan yang lebih baik. Untuk itulah dalam setiap program yang dilakukan persyarikatan termasuk ortomnya selalu berorientasi pada terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

Muhammadiyah dan masyarakat kita sebenarnya punya kebiasaan literasi yang tinggi sejak usia dini. Frobel yang merupakan embrio sekolah taman kanak-kanak sudah didirikan ‘Aisyiyah sejak tahun 1919. Dongeng menjadi sebuah ritual yang selalu dilakukan dalam keluarga, terutama sebelum tidur. Kebiasaan ngaji habis maghrib di langgar adalah hal yang sudah dilakukan Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Jam belajar masyarakat juga sudah dilakukan sejak dahulu, menyekolahkan anak di TPA dan PAUD hampir dilakukan oleh setiap keluarga Indonesia. Apa yang terjadi dengan keluarga kita karena ternyata dunia memandang negeri ini tidak punya tradisi membaca di usia dini terutama dalam keluarga ?

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sampai saat ini masih konsisten dengan penguatan pendidikan dalam keluaga. Meskipun memang tantangan sangat luar biasa terutama lingkungan dan teknologi, namun tidak menjadikan kita menyerah. Karena kita menyadari bahwa keluarga adalah insitusi pertama dan utama dalam membentuk karkter seorang anak. ‘Aisyiyah dengan GACA atau Gerakan Cinta Anak menjadi pintu masuk untuk menggairahkan kembali gerakan literasi dalam keluarga. Berlangganan koran dan membacanya setiap hari, mengajak anak-anak membeli buku setiap bulan, menjadikan toko buku sebagai tempat rekreasi, mengajak anak ke museum dan perpustakaan, membiasakan kembali ngaji setiap habis maghrib, langganankan anak majalah yang mendidik. Itu adalah hal-hal yang bisa dilakukan dalam keluarga untuk meningkatkan kebiasaan membaca pada anggota keluarga. Saya pikir kalau itu kita gunakan sebagai frame gerakan maka satu penyebab rendahnya literasi di negeri ini teratasi.
Ketika literasi keluarga dijalankan maka kulitas dan kuantitas komunikasi timbal balik juga akan terjadi karena ada interaksi yang kontinyu antar anggota keluarga. Itu juga akan berimbas pada ketahanan keluarga dan akhirnya akan memperkuat karakter. Bukankah ini bisa menjadi sebuah alternatif memperbaiki kehidupan bangsa ini ?

Saya berpikiran stigma internasional tentang tingkat literasi ini bisa kita rubah dengan mempublikasikan sejauh mana kualitas keluarga indonesia dalam urusan literasi. Dan kita, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah punya best practice yang masih menyisakan jejak-jejak budaya literasi dalam keluarga yang telah dilaksanakannya.

Satu yang paling penting adalah literasi keluarga adalah sebuah persoalan kultural yang tidak bisa hanya diselesaikan dengan kebijakan yang sifatnya struktural. Program negara tidak bisa menjadi satu-satunya penyelesai masalah. Disinilah peran ormas dan komunitas sangat dibutuhkan. Negara tidak akan bisa sendirian menyelesaikan persoalan literasi khusunya Literasi Keluarga untuk meningkatkan peringkat Indonesia. Negara butuh kita, orang-orang biasa yang punya komitmen tanpa batas dalam menyebarkan virus literasi di masyarakat.

Widayustuti, Penulis adalah Wakil Ketua MPI PPM / Wakil Ketua LK PPA