RBC dan Konser Dangdut


oleh : W. Yono (Pelapak di Rumah Baca Cahaya)

Tulisan ini dibuat untuk menemani malam-malamnya seorang santri yang memilih jalan sunyi dalam langkah pengembaraannya.

Usia RBC memang masih belia. Perjalanan langkahnya baru melewati enam purnama. Tentu getarannya belum menggelegar seperti komunitas-komunitas literasi lainnya. Gerakannya belum bisa menyamai radikalitasnya RBK yang menyediakan layanan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, pinjam berapapun dan dikembalikan kapanpun. Dahsyat. Atau “iman”nya belum seteguh Janasoe yang mengusung kredo untuk urusan literasi, tidak mengenal kiamat. Atau bahkan komunitas-komunitas lain yang berada di ujung nusantara yang relawannya tidak hanya manusia tapi juga sapi dan kuda.

Ya. RBC memang bukan siapa-siapa dibelantara komunitas literasi. Kami tidak memiliki kuda atau sapi. Kami hanya punya niat dan tekad bahwa keindahan pelangi peradaban suatu saat nanti juga harus bisa dipandang dan dinikmati dari horison pantura, bumi tempat kami berpijak.

Setiap habis melapak, RBC senantiasa mengabarkan kegiatannya pada dunia. Bukan apa-apa. Bukan kami bermaksud membusungkan dada. Tak. Sama sekali tak. Karena tak ada apa-apa yang pantas dan layak untuk dibusungkan. Itu hanya sebatas cara kami mempertanggungjawabkan kepada khalayak yang telah mendonasikan buku bahwa bukunya benar-benar kami gerakkan, kami tebarkan manfaatnya dan kami antarkan ke haribaan pembaca. Tidak kami simpan dikolong meja atau di atas kepala sebagai sandaran lelap. Sama sekali tak.

Ibarat konser dangdut, kami menginginkan keramaian. Tapi kami tidak butuh suara kendang. Cukup celoteh-celoteh adik-adik yang riang bermain ular tangga literasi sudah bisa membuat hati kami berdendang. Kami tidak perlu tiupan seruling yang mendayu. Cukup suara-suara cedal keluar dari rongga mulut adik-adik kecil ketika mengeja aksara sudah bisa membuat kepala dan kaki kami mengangguk ritmis. Kami tidak perlu denting gitar yang melengking. Cukup tarian tangan adik-adik kecil menggoresi gambar dengan warna-warni sudah bisa membuat hati kami berdenyar. Kami juga tidak butuh syair-syair cinta melankolis yang meninabobokan. Cukuplah rengekan adik-adik yang berebut bacaan cerita sudah bisa menjelma bait-bait puisi di sanubari kami. Kami tidak perlu bergoyang dan berjingkrak. Cukuplah lalu lalang adik-adik yang sibuk memilih buku bacaan sudah bisa membuat detak jantung kami berkejaran. Sekali lagi ibarat konser dangdut, kolaborasi pengunjung dan pembaca dengan RBC sudah cukup menghadirkan nada-nada merdu yang membuat sel-sel syaraf kami bergoyang ria.

Itulah kenapa ketika seorang santri melontar tanya di suatu malam, Ramaikah RBC ketika weekend melanda ? dengan senyum mengembang aku jawab : seramai konser dangdut ! itulah kenapa ketika seorang Santri memilih jalan sunyi bak pertapa kami memilih gegap gempita merayakan kegembiraan bersama. Itulah kenapa ketika seorang santri memilih menghabiskan malam-malamnya hanya ditemani 3 gorengan atau kadang sebungkus mie instan, kami memilih menamatkan malam-malam kami dengan sekantong gorengan yang tandas kita santap bersama anak, istri dan handai taulan.

Meski jalan yang kami pilih berbeda. Kalau lorong-lorong yang kami lalui itu bermuara ke ujung peradaban, pasti takdir akan mempertemukan kita. Mengapa tak ????
Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong. Edisi Minggu, 1 April 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *