2 menit waktu baca

Ramadhan, Covid 19 dan Pendidikan Keluarga

Oleh Fathur Rohim Syuhadi

Ramadhan bulan penuh kemuliaan. Momentum setahun sekali ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk berlomba lomba dalam kebaikan. Mulai bangun tidur, saat beraktifitas keseharian sampai tidur pun bernilai ibadah. Sehari 24 jam, semuanya bernilai ibadah dengan jaminan surga.

Hadirnya Ramadhan ini, harus kita manfaatkan sebaik baiknya. Memperbanyak membaca al Qur’an, melakukan istighfar, berdoa, bersedekah, saling tolong menolong, saling mengingatkan dan saling bersinergi.

Ramadhan dengan segala kemuliaannya harus dimanfaatkan dalam lingkup pendidikan keluarga secara maksimal.

Covid 19

Bencana covid 19 yang sedang melanda negara kita, tentu ini ujian yang sangat berat. Lebih lebih datangnya pada bulan Ramadhan. Hal ini berdampak dalam segala sektor, khususya dalam bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Hal ini tidak bisa dipungkiri karena semua keluarga merasakannya.

Semua harus mengikuti protokol yang telah ditentukan. Cuci tangan dengan sabun, memakai masker, jaga jarak, menghindari kerumunan dan harus tetap tinggal di rumah. Hal ini bukanlah kebiasaan yang mudah dilakukan.

Silaturrahmi yang biasanya dilakukan secara langsung dengan tatap muka, sekarang cukup lewat medsos. Pemudik tidak bisa leluasa pulang kampung. Aliran uang dari kota ke desa terputus. Semua harus menahan diri untuk memutus rantai wabah covid 19.

Pendidikan Keluarga

Momentum Ramadhan, saatnya pendidikan dikembalikan pada keluarga. Peran keluarga sebagai basis utama pendidikan harus diefektifkan. Kedudukan orang tua menjadi guru yang sebenarnya harus diperankan.

Wabah covid 19 yang mengharuskan seisi keluarga untuk stay at home harus dimanfaatkan secara maksimal. Peran orang tua sebagai guru di keluarga harus dilakukan. Nilai nilai moral agama, tanggungjawab dan disiplin harus diajarkan orang tua dan dilaksanakan anak.

Baca juga:  Jalan Temaram Menyalakan Lentera Literasi

Nilai moral agama yang selama ini begitu saja dipercayakan pada ustadz atau guru agama harus dilakukan orang tua. Figur orang tua harus dapat memberikan bimbingan dan teladan secara langsung. Keteladan orang tua akan mengantarkan anak untuk kesuksesan di rumah tangganya di masa yang akan datang

Peran tanggungjawab anak dapat dilakukan dengan memberikan penyadaran dan arahan orang tua. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan rasa tanggungjawab. Anak perempuan diarahkan membantu tugas ibu, sedangkan anak laki laki membantu tugas ayah. Untuk tugas tertentu bisa dilakukan secara bersinergi.

Disiplin dalam lingkungan keluarga tidak kalah pentingnya. Pembiasaan yang dilakukan di lingkungan keluarga akan berdampak positif bagi masa depan anak. Karena anak anak yang sukses pada umumnya berasal dari pembiasaan yang positif di lingkungan keluarganya.

Wabah covid 19 dan momentum Ramadhan ini harus dimanfaatkan orang tua untuk menjadikan rumah sebagai basis pendidikan keluarga. Peran orang tua sebagai Guru Keluarga yang tanggungjawabnya diserahkan para ustadz atau guru di pesantren atau di sekolah harus dilakukan di lingkungan keluarga saat ini.

Tugas Pendidikan Keluarga tentu sangat berat. Kalau tidak sekarang kapan lagi pendidikan keluarga dilaksanakan.[]

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...