Puasa Pemantik Kesadaran Religiusitas sebagai Spiritual Capital menghadapi Konsumerisme


Oleh : Agusliadi (Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Bantaeng)

Jangan sampai puasa kita semua hanya pseudo-religius dan menjadi religio-tainment.

Sebagai titik berangkat untuk pemahaman kita selanjutnya, secara sederhana saya menggambarkan bahwa kesadaran Religiusitas yang saya maksudkan adalah sebuah kesadaran untuk mengimplementasikan nilai – nilai ajaran agama dalam kehidupan sosial. Spiritual Capital adalah modal menjalanani kehidupan yang telah built-in dalam diri manusia bukan atas stimulus luar sebagaimana teori behaviorisme JB, Watson, sebagaimana diuraikan oleh Rinaldi Agusyana pada pengantar buku ESQ Power (Ary Ginanjar, 2003). Konsumerisme secara sederhana adalah (paham) kebiasaan, budaya makan dan belanja yang bukan lagi berdasarkan kebutuhan, memenuhi fungsi utilitas tetapi lebih dari kepentingan status sosial.

Puasa, sebagaimana salah satu rukunnya adalah “menahan”, sebagi syarat sahnya, mengkoneksikan dengan realitas kehidupan terutama bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan puasa, dimana Ummat Islam menjalani puasa selama kurang lebih 29/30 hari lamanya, nampaknya tertutup oleh “konsumerisme”.

Menurut data hasil riset yang pernah dirilis, bahwa pada umumnya di bulan Ramadhan, tingkat transaksi jual beli melambung tinggi pada bulan Ramadhan dibandingkan sebelas bulan lainnya. Dalam konteks ini saya tidak mau mengatakan daya beli masyarakat yang meningkat. Meksipun dalam kehidupan bernegara, ini disimpulkan sebagai berkah ramadhan, mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi, tetapi pada sisi kehidupan yang lain, sebagaimana hukum ekonomi, jika permintaan di pasar meningkat , maka harga barang juga meningkat, dan tentunya ini masalah bagi masyarakat kurang mampu.

Puasa semestinya dapat menjadi pemantik kesadaran religiusitas kita, agar berfungsi dalam kehidupan sosial dengan menampakkan sikap dan perilaku hidup sederhana, menekan ego untuk tidak konsumtif agar tidak semakin memperlebar jurang kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin.

Sesuatu yang tidak asing, menyaksikan realitas kehidupan di kota, terutama kota metropolitan bahwa betapa ironisnya, betapa kontras dan paradoks di bulan Ramadhan, setelah berbuka terutama 15 ramadhan ke atas, betapa kafe – kafe, mall, supermarket banjir manusia dan masjid kekeringan.

Hadi Saputra dalam artikelnya Mazhab Nazuruddin telah mengutip pernyataa Buya Syafii Maarif dalam sebuah diskusi “Jakarta Lawyers Club” yang ditayangkan TvOne (09/08/2011). “Setiap tahun jumlah jamaah Haji kita selalu bertambah. Namun kesadaran religiusitas tersebut tidak berbanding lurus dengan perilaku bangsa. Dan saya pun berkata setiap Ramadhan, betapa banyak yang berpuasa dan bahkan saya yakin jumlah setiap tahun meningkat, tetapi sangat sedikit yang mampu menahan dan menekan budaya konsumtif, lebih cenderung makan, makan, belanja dan belanja. Karena itu lebih dominan maka kita enggan, malas beribadah.

menangkap makna dari kajian akademik, filosofis dan ideologis Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia yang dilipat, saya menemukan bahwa dibalik semua ini sebuah ideologi, mendesain bahkan merekayasa libido (hasrat) kita dengan melibatkan tiga kekuasaan besar yang beroperasi di belakangnya, yaitu kekuasaan kapital, kekuasaan produksi dan kekuasan media massa.

Betapa ganasnya, selera manusiapun sangat sesuai dengan apa yang diiklankan. Sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas konsumsi sendiri, bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan dasar, memenuhi fungsi utilitas, tetapi jenis konsumsi kita menjadi penentu stratas sosial atau mengekspresikan posisi sosial dan identitas kultural. Bahkan perayaan Tahun Baru, dimana ada Pemerintah, Polda dan Polres tertentu melarang dan sebagian lainnya bahkan memfasilitasi menyiapkan anggaran khusus untuk perayaan meriahnya kembang api. Jika ditarik dalam konteks “konsumsi”, itu menjadi penentu posisi daerah, penentu identitas sebuah City Branding, pembeda dengan daerah lainnya.

Semua ini di desain dan beroperasi dalam sebuah gagasan besar, ideologi konsumerisme, sebagai sebuah komoditi untuk mencapai target kapitalisme mutakhir.

kembali pada puasa yang kita jalani yang terkesan tidak memiliki implikasi sosial, jangan sampai puasa dan ibadah – ibadah lain yang kita jalanani hanya sebuah PSEUDO RELIGIUS, tempat pelarian pensucian jiwa untuk kepentingan diri semata?, atau sebagaimana ruang lain yang telah digerogotinya, puasa hanya menjadi RELIGIO TAINMENT, hanya alat dan digunakan oleh para kapitalis untuk semakin membangkitkan hasrat konsumtif kita, karena terkadang masih ada diantara kita, menaruh dendam “awas ya, sebentar kalau buka puasa, saya habisi semua menu yang ada”.

Kesadaran Religius kita sesungguhnhya itu adalah Spritual Capital yang telah built in dalam diri kita, menjadi cetak biru yang tertanam kuat dalam God Spot kita sebagai tiupan ruh Ilahi, sebelum manusia dilahirkan. Namun kenapa, bagi sebagian orang, terkesan lebih berpengaruh hasil rekayasa konsumerisme tersebut?

menurut Umar Shihab, mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebagaimana saya kutip dari sebuah artikel (16 Juni 2015), fenomena ini, setidaknya dilatarbelakangi dua hal. Pertama, Islam masih dipahami secara fikih oriented. Paradigma ini memandang ibadah hanya secara hitam-putih, halal-haram. “Jebakan-jebakan” fikih yang parsial, telah mendarah daging dan menjadi tradisi yang masif dilakukan kalangan umat beragama. Fikih belum mampu membangkitkan spiritual umat menghadapi kondisi riil masyarakat yang tengah dilanda demoralisasi individual dan sosial. Maka tak salah kalau puasa hanya dilihat sekedar memenuhi perintah syariat belaka.

Faktor kedua yaitu bulan Ramadhan telah dijadikan komoditas yang kapitalistik. Berbagai industri, media massa, khususnya stasiun televisi, berpacu memanfaatkan Ramadhan untuk menayangkan program-program dakwah. Semua artis manggung di TV dengan pakaian islami, namun tak sadar kita disuguhi iklan-iklan yang menyuntik mindset kita. Mereka, menurut Umar Shihab, memanfaatkan momentum ramadhan. Padahal, produk mereka sama sekali tidak terkait dengan ibadah puasa.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *