7 menit waktu baca

Psikologi Kematian Yang Kita Perlu Tahu

Oleh: Tasbih Semesta Raya

“semua yang bernyawa akan mati”. Kalimat itu tidak akan pernah luput dari orang-orang yang melayat jenazah orang meninggal. Dalam Islam, kesadaran akan mati itu terus diperingatkan, terus dikhutbahkan, dan menjadi “ketakutan” bagi keimanan seseorang.

Karena semua yang bernyawa akan mati pada waktunya maka hidup itu bernilai tinga. Karena hidup berharga maka hidup harus bermakna. Bermakna ini menurut Komaruddin adalah berumur panjang. Mengapa berumur panjang? Karena, sejatinya arti dari berumur panjang adalah orang yang berhasil membangun kemakmuran hidup. Yaitu, kemakmuran dalam hal harta, ilmu dan amal (halaman 52). Kita tahu konsep agama yang disebut amal jariah. Amal jariah ini akan terus mengalir jika seorang Muslim memiliki anak yang saleh, menebar ilmu yang bermanfaat bagi banyak orang, dan juga menginfakkan harta dan bendanya yang bermanfaat di jalan Allah. Karena ini akan menjadikan seseorang mati bain-baik (husnul Khotimah).

Tidak ada misteri yang selalu mengguncang akal dan batin manusia, kecuali misteri kematian. Meski tekhnologi di dunia bisa dikatakan terus berkembang menuju puncak, namun sampai saat ini masih tidak ada yang bisa mengungkap misteri dari kematian, termasuk juga misteri dari ruh manusia. Pengetahuan tentang ruh ketika masih di dalam tubuh saja tidak tahu, apalagi tentang ruh ketika keluar dari tubuh akan ke mana tentu saja masih menjadi misteri yang tak terungkap (halaman 103).

Misal saja tentang misteri ruh ketika orang mati suri (NDE-Near Death Experience), tidak ada teori ilmiah yang bisa menjelaskan hal ini (halaman 170). Sesungguhnya menurut ajaran agama, ruh seseorang itu tidak mengenal kematian, melainkan hanya berpindah dunia. Jadi, nilai yang paling berharga bagi ruhani adalah prestasi yang melewati ukuran-ukuran materi (halaman 53).

Mengapa psikologi kematian ?. Membahas soal kematian, itu merupakan suatu hal yang menyesakan dada bagi orang yang ditinggalkan. Semua orang berusaha untuk menjauhi pintu-pintu kematian, yang padahal kematian akan tiba dari segala penjuru mata angin tanpa bisa kita bantahkan. Padahal hal itu merupakan sarana bagi jiwa untuk pulan kembali ke sini sang Maha Kuasa. Alasan lainnya yaitu bagi kaum liberalis sekuler menganggap bahwa kehidupan berakhir dengan matinya jasad manusia. Mereka tidak peduli dengan kehidupan setelah kematian di dunia.

Baca juga:  Buku “Membaca Korona” : Meraih Cahaya di Kedalaman Samudera (Bagian 1)

Kematian merupakan sumber ketakutan bagi manusia, ketakutan tersebut bersifat laten. Namun ketika manusia memiliki kesadaran bahwa ia tidak bisa hidup abadi, maka jalan yang ditempuh untuk menggapai hidup abadi adalah dengan membuat suatu innovasi dengan menulis buku atau membuat manfaat terhadap sesama dan membantu pekerjaan sosial serta beragama.

saya sedikit punya catatan pendek dari bacaan yang teringat dan terlupakan. Melawan terror kematian tidak gampang, bahkan banyak yang sudah tumbang sejak dalam pikiran. Ketakutan akan peristiwa mati atau hilang adalah kutukan paling kekal bagi manusia, bukan bagi tumbuhan dan hewan.

Melawan mati atau pikiran untuk menghindar dari lepasnya nyawa dari sarangnya dikisahkan oleh Ernest Backer (1974), ahli psikologi mbeling, dalam bukunya The Denial of Death disebabkan oleh dua urusan. Pertama, karena manusia punya kemampuan berfikir abstrak, bisa berhipotesis, bisa berimajinasi, menerka masa lalu atau masa depan. Intinya, manusia punya rasa takut akan hal hal yang belum tentu terjadi. Banyak orang kemudian ingkar akan kematian dengan menutupi ketakberdayaan dengan perbuatan fasis. Pikiran akan terror kematian ini adalah kegelisahan paripurna, meneror eksistensial yang mendalam ihwal apa yang dipikirkan atau di lakukan. Kedua, hanya manusialah yang punyu dua tubuh yaitu tubuh ragawi atau jasadi dan tubuh konseptual. Manusia punya tubuh yang mengenali dirinya dan akan kemana setelah mati. Tubuh ini disebut “identitas”. Sejenis konsep sangkan paraning dumadi. Menurutku, Iman punya porsi kuat menancapkan tubuh konseptual ini.

Corona adalah teror kematian, bisa jadi lebih dahsyat dari perang, bisa jadi lebih manusiawi. Bagainana negara kita bayangkan akan mencegah teror bagi kematian publik? Satu satu orang ingkar, bahwa izroillah yang paling legitimate hiduo berdekatan dengan kematian. Satu satu juga mulai ingkar, bahwa corona adalah malaikat itu sendiri yang bertugas mengambil jiwa dari selongsong rumahnya.Sementarayang lainnya, berjuang keras untuk menjadi moderat: “menghindar takdir satu, untuk menemui takdir yang kedua, ketiga,keempat…

Baca juga:  Menyalakan Api Literasi di Ruang Belajar

Akan tetapi dari semua itu, kematian akan terus kekal menjadi pandemi global bagi seluruh manusia. Ingat, Hanya jenis spesies manusia yang terus mati diintai dan diburu teror kematian.

Membahas soal kematian bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang menyimpan kepedihan dalam setiap jiwa manusia, yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati psti akan tiba serta punahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran ini lalu memunculkan sebuah protes berupa penolakan bahwa masing-masing kita tidak mau mati. Setiap orang berusaha menghindari semua jalan yang mendekatkan pintu kematian.ini juga meruntuhkan bayang-bayang kematian yang amat menakutkan itu. Ternyata, seperti dijelaskan buku ini, kematian adalah sesuatu yang indah. Menyelami lautan hakikatnya membuat hidup semakin optimis.

Menurut banyak testimoni, buku Komarudin Hidayat ini juga meruntuhkan bayang-bayang kematian yang amat menakutkan itu. Ternyata, seperti dijelaskan buku ini, kematian adalah sesuatu yang indah. Menyelami lautan hakikatnya membuat hidup kita semakin optimis. Wajar saja buku ini terus dicetak ulang dan laris.

Kematian dan kehidupan merupakan suatu hal yang beriringan. Kita merupakan penumpang dalam perahu dunia yang mengarungi luasnya bahtera samudera waktu dan ruang. Kehidupan diumpamakan kita berada dalam sebuah ruang tunggu yang sedang menunggu pesawat terbang tujuan kita datang, kita bertemu banyak orang yang berlalu lalang dan dilupakan. Ketika pesawat tujuan kita datang, kita senang tidak karuan. Begitupun kematian jika datang harus disambut dengan kesenangan, karena merupakan puncak rindu kepada Allah Swt.

Sebagai makhluk yang bakalan mati, harus menerima apa yang melekat pada kodrat kita. Begitupun ungkapan dari Prof. Komaruddin bagaimana kita harus menyambut kematian yang akan tiba. Seperti dicontohkan bahwa, kematian yang didahului dengan sakit terlebih dahulu lebih membawa berkah daripada yang tiba-tiba. Karena sakit bisa sebagai cobaan dan sarana pengampunan dosa oleh Allah kepada hambanya yang sabar. Dan disini dijelaskan bahwa, perlu sekali keberanian melepaskan dan menanggalkan atribut-atribut materialis duniawi untuk diprioritaskan juga aspek spiritualistik ukhrawi.

Baca juga:  Kesepian, Cinta, dan Getir Hidup Manusia

Info Buku:

Judul                            : Psikologi Kematian

Penulis                          : Komaruddin Hidayat

Editor                           : Cecep Romli

Penerbit                       : Noura Books

Tahun Terbit                : Pertama, Desember 2015

Jumlah Halaman          : 230 halaman

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...