Proses Berpikir Kreatif Yang Saya Ketahui


Oleh : Fikri Fadh*

Seorang pencipta karya, tentunya memiliki cara tersendiri yang dilaluinya untuk menciptakan sebuah karya. Memiliki rumusan sendiri. Idealismenya sendiri. Kemampuan yang unik. Dan penanganan rasa malas yang khas.

Seorang penulis juga memiliki rumusannya sendiri untuk berkarya. Bisa saja belajar dari penulis lain. Ada yang otodidak. Semua cara belajar, sah-sah saja.

Ada seorang guru menyampaikan ke saya, “tulis apa yang kamu ketahui, bukan tulis apa yang ingin kamu tulis”. Itu adalah rumus sederhana. Tapi ditangan seorang penulis, kata dan kalimat yang sederhana, bisa mengguncang jiwa manusia.

Menulis sesuatu yang diketahui. Berarti menuliskan pengalaman sendiri. Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana mungkin pengalaman sendiri ditulis? Apakah ada ilmu pengetahuan yang terkandung didalamnya? Memang kita siapa?

Mungkin jika ada yang menggugat hal diatas lupa bahwa ada peribahasa yang menyatakan bahwa, “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Pengalaman seseorang adalah wilayah empirik yang apabila berada dalam situasi yang purposive terhadap kehidupan, akan menghasilkan validitas pengetahuan yang kuat pada level kebenaran.

Lantas, bagaimana bagaimana melakukan validitas atas pengetahuan yang disampaikan berdasarkan pengalaman?

Pengetahuan dan ilmu pengetahuan itu dua hal yang berbeda. Meskipun keduanya saudara kandung dalam pemaknaannya. Pengetahuan adalah berbagai hal yang ditemui, didapat oleh seorang subjek terhadap objeknya melalui panca indera, kemudian disimpan sebagai pengalaman dirinya sebagai subjek.

Jika definisi pengetahuan seperti diatas, maka kita bisa menempatkan diri sebagai subjek yang hidup. Subjek yang memaksimalkan fungsi indera. Sehingga apa yang ada disekitar bisa ditangkap. Karena apa yang ada disekitar adalah pengetahuan.

Setelah kita mampu menangkap keadaan sekitar, kita bisa melanjutkannya. Tapi sebelum itu, mari kita pahami apa itu ilmu pengetahuan. Biar tuntas. Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang sudah disistematiskan sedemikian rupa, sehingga logis, metodis, teoritis, memiliki objektivitas dan universal.

Tapi kita tidak perlu repot-repot untuk sampai pada level sistematis. Biar para ilmuan yang dananya kuat saja. Asalkan bisa menangkap -peka- terhadap apa yang ada disekitar kita dan menjadikannya pengetahuan, itu sudah cukup. Merenungkannya sambil ngopi. Kemudian menuliskannya.

Bisa jadi, seorang penulis sudah jauh-jauh mencari bahan tulisan tapi tidak menemukannya. Ketemunya malah apa yang melekat dalam dirinya. Hanya beberapa sentimeter dari kepalanya. Seperti Om Issac Newton melihat buah apel jatuh, yang menghasilkan teori gravitasi.

Mari peka, mari berkarya. Wallahu’alam.

____________
*Founder Komunitas Literasi Janasoe


1 Comment

Leave a Reply to rani Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *