Pilihannya Satu: Terus Belajar


 

Oleh: Sri Lestari Linawati

Dosen Unisa Yogyakarta

Bukan karena semangat iqra’ ketika saya memilih untuk terus belajar. Semangat iqra’ itu semangat membaca yang tertulis maupun fenomena alam, jadi sangat mulia, sangat agung. Anda ingin tahu, mengapa saya menulis “Pilihannya Satu: Terus Belajar”? Ah, sederhana saja, Kawan, karena saya seringkali dihadapkan pada kenyataan pahit, haha..

We.. pahit kok ketawa? Yach.. mungkin pahitnya kenyataan hidup itu ibarat secangkir kopi yang kita sruput di antara diskusi kita. Kadang kita memilih menu wedang jahe, lain waktu kita minum wedang ronde, saat tertentu kita menikmati sajian amsle, kadang pula wedang cor. Nah, kita tuh tahu bahwa kopi itu pahit, namun entah bagaimana, kita pun menyukainya. Mungkin, seperti itulah hidup ini musti kita pandang.

Adalah fakta, saya tergabung dalam grup whatsapp penulis “Sahabat Pena Kita”. Bahwa kelas ini berlangsung luar biasa, saya kira setiap anggota sangat faham hal ini. Bahwa grup ini memberikan support agar setiap anggotanya mampu melahirkan buku solo, itu pasti. Aturan pun dibuat untuk memotivasi menuju impian bersama. Sungguh saya mensyukuri hal ini.

Hal yang membuat saya terhenti di judul tersebut adalah persoalan teknologi. Mungkin lebih karena hp saya yang jadoel. Jujur, sebenarnya saya sangat malu untuk posting tulisan. Apalagi ketika saya mendapat komen bahwa tulisan saya tampak tidak serius menulis. Tentu saya bingung mendefinisikan makna serius menulis, sehingga saya lebih memilih teori Pak Emcho dan Prof Muhammad untuk terus saja menulis. Kesempurnaan itu akan tiba nanti. Sekarang tugasnya menulis dan menulis. Titik.

Jadi begini, kalau saya bisa posting tulisan, itu benar-benar saya syukuri. Mengapa? Karena perjuangannya yang luar biasa, buat saya pribadi. Saya yakin teman-teman tidak mengalami hal itu. Menulis adalah punya ide, dituangkan, baca lagi, fiks dan kirim. Ya, ini sangat logis. Sekarang jamannya sudah canggih. Semua sudah tersedia. Subhanallah, alhamdulillah, ini nikmat yang harus disyukuri. Mengapa?

Karena saya mengalami saat WA di hp saya tidak bisa tersambung ke web whatsapp. Bisa jadi, seminggu satu kali, itupun tidak bisa diprediksi kapan saat on. Kadang dua minggu baru bisa. Kadang juga sebulan, baru bisa nyambung. Internet? Mungkin. Bahkan saya segera membelikan kuota, belum tentu bisa nyambung. Waduh, nggak keren bingit ya? Ya, inilah kopi pahit pertama.

Akhirnya saya seringkali memanfaatkan momentum-momentum emas untuk kirim tulisan. Menulis langsung di hp, di WAG. Ini harus berkejaran dengan simpanan baterei. Saat baterei full, menulis bisa berlangsung lancar jaya. E..hla dalah, trus baterei sudah tiba-tiba “low bat”, maka harus segera di-charge. Nah, saat begini, huruf keluarnya hanya satu persatu. Nul… thik… nul… thik… Duh, rasanya bener-bener hati ini musti berkejaran mengikat makna. Karena itulah, seringkali saya harus segera kirim, sejenak setelah selesai menulis. Edit? Seringkali Cuma sekilas saja. Karena saya pernah kelamaan edit, akibatnya hp keburu off. Batal deh kirim. Hadeh.. Kopi pahit kedua ini. Hla gimana nggak pahit.. Hla wong akibatnya tulisan tidak tersimpan dalam file yang rapi. Hanya ada di WAG. Nah..

Kadang juga, saya terpaksa menuliskannya di file. Setelah itu saya kirim ke email mas suami, kemudian meminta tolong mas suami mengirimkannya ke WA saya. Setelah masuk WA saya, barulah saya lakukan editing via WA dengan kekuatan baterei yang tenal-tenul, barulah bisa kirim. Bisa-bisa, nulis jam 5 pagi, baru bisa dikirim jam 17 atau jam 21. Wuih.. ndak umum kan, Kawan? Jadinya, harus bolak-balik diedit, karena maunya kudapan pagi, e hla kok jadi kudapan sore atau kudapan malam. Malu kan.. Yach, saya harus terima, inilah kopi pahit ketiga.

Pakai lem biru? Alias hp dilempar dan beli yang baru, kata putri saya. Waduh, ngantri, Dik, anggarannya, wkwk.. Untunglah mas suami komentar ringan, “Disyukuri apa yang ada.” Jadi, saya menulis kapan saja saya ingin menulis dan Allah meridhai tulisan saya bisa terkirim. Enam hari yang lalu, saat di bis perjalanan Sragen-Jember, tiba-tiba saya ingin menulis. Masih setengah jadi, e baterei “low bat”. Sebelum off dan batal kirim, akhirnya saya harus menulis endingnya, “Maaf, bersambung.” Waduw.. kopi pahit keempat ya..

Akibatnya, tidak setiap saat saya bisa komen, betapapun saya inginkan. Tahu kan sebabnya? Karena waktu berdamai dengan WA saya sangatlah terbatas, Kawan.. Meski demikian, saya bersyukur. Saya menjadi belajar untuk tetap menjaga semangat menulis saya. Nah, untuk Anda yang hp-nya sudah canggih dan masih bicara tidak ada waktu untuk menulis, atau merasa tidak punya ide. cobalah renungkan hal ini. Ide pun ada banyak, bersliweran. Ambil hp Anda, mulailah tuliskan dan bismillah kirimkan. Selama atas nama Allah Anda niatkan berbagi, insyaallah ada pembaca yang merasakan kebermanfaatan tulisan Anda. Inilah tugas penulis untuk menginspirasi. Pengalaman kita adalah sumber belajar. Nah, sampai di sini kita jadi faham, “pilihannya satu: terus belajar”. []


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *