Perpustakaan Dusun Menyapa Warga

Oleh: Muhammad Bintang Akbar
Perpustakaan Dusun Kadipiro “Bintang-Matahari”, Yogyakarta

Budaya Literasi: Data Semata atau Keadaan Sesungguhnya?
Central Connecticut State University di tahun 2016 merilis data yang menunjukkan bahwa Indonesia berdiri di peringkat 61 dari 62 negara pada ranah minat baca atau literasi. Tak hanya data tersebut yang membuat kita merasa semakin minder, 4 tahun sebelumnya pun melalui UNESCO, data tentang indek membaca di Indonesia adalah 0,0001 sehingga menunjukkan bahwa dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang serius membaca. Lantas timbul pertanyaan menggelitik, sebegitukah Indonesia yang sudah dianggap semakin berkembang ini?

Namun bagi Nirwan Ahmad Arsuka, hal tersebut sebenarnya bukan kebenaran yang harus diamini sepenuhnya. Dalam Seminar Sejarah dan Kebangsaan: Nasionalisme di Tengah Kewargaan Budaya dan Ekstrimisme Global, di Universitas Sanata Dharma pada 21 Oktober 2017, Nirwan menerangkan bahwa sebenarnya bukan minat baca yang rendah, melainkan bacaan tersebut tidak mampu menyapa hingga sudut-sudut sunyi. Nirwan pun tidak ketinggalan akal untuk mengolah bacaan agar mampu menebar ilmu di seluruh pelosok negeri. Ia mendirikan “Pustaka Bergerak” sebagai satu solusi mengatasi problematika literasi di Indonesia. Salah satu contoh yang diceritakannya adalah pedati pustaka (menggunakan pedati untuk membawa buku), kuda pustaka (menggunakan kuda untuk membawa buku), hingga jamu pustaka (pedagang jamu sekaligus membawa buku untuk dipinjamkan). Antusias justru timbul dari anak-anak generasi penerus Indonesia. Bahkan, mereka pun dalam waktu seminggu sekali selalu meminta ganti buku. Hal tersebut menuntut Nirwan agar membuka jaringan hingga seluruh Indonesia, sehingga ia dapat menghadirkan persaudaraan sesama Indonesia melalui bacaan.

Berkaca pada hal di atas, Nirwan telah memberikan logika terbalik untuk menjadi pisau analisis kita dalam memandang literasi di Indonesia. Wadah pustaka seperti perpustakaan (se)harusnya tidak mendeklarasikan diri dengan kegagahan dan kemewahaan serta pegiat pustaka (se)harusnya tidak merasa cerdas dan eksklusif di menara gading bernama “perpustakaan”. Sikap merendah dan bersedia memahami pun harus menjadi nafas pergerakan bagi seluruh elemen yang bergiat di urusan literasi. Perpustakaan pun jangan menjadi jendela berkabut yang tidak dapat memberikan pandangan luasnya dunia, tetapi wajib menyapa pemustaka agar dapat hadir dan merasa menjadi bagian darinya. Contoh nyata yang dapat kita lihat sekarang adalah perpustakaan jalanan maupun perpustakaan bergerak yang banyak berjamuran di berbagai kota di Indonesia, selalu hadir dalam jangka waktu tertentu. Kedepannya, perpustakaan dengan tema demikian dapat dikembangkan menjadi perpustakaan layanan antar yang dapat melayani buku bergerak dari rumah ke rumah dan mengetuk dari pintu ke pintu untuk menyebarkan ilmu.

“Bintang-Matahari”: Berusaha Menjadi Cahaya Untuk Warga
Literasi adalah tanggung jawab bersama. Bertumpu pada kalimat tersebut, sebuah langkah usaha untuk menjadi bagian dalam kebersamaan membangun kecerdasan bangsa pun dilakukan. Perpustakaan Dusun Kadipiro “Bintang-Matahari” mencoba memformulasikan aksi bergerak dari Nirwan Arsuka dan Dauzan Farouk dengan semangat Haji Mochtar secara kelembagaan. Bukti nyata tersebut dimanifestasikan melalui sebuah perpustakaan yang tidak gagah berdiri sendiri namun melebur dalam sanubari warga dengan konsep dari pintu ke pintu untuk menyediakan layanan pustaka antar. Direncanakan, pelayanan bacaan antar dapat dinikmati pemustaka di seluruh wilayah Dusun Kadipiro Yogyakarta dalam waktu dekat ini.

Pelaksanaan dari model perpustakaan bergerak yang diterapkan di Perpustakaan Dusun Kadipiro “Bintang-Matahari” adalah sebagai berikut.

1. Fasilitas Pendukung Utama

a) Fasilitas komunikasi, seperti telepon (genggam atau pesawat), layanan berbalas pesan (SMS, Whatsapp, Line, dan lain-lain), dan situs internet layanan perpustakaan (dengan model seperti situs jual-beli online)

b) Katalog bacaan, baik elektronik maupun manual. Katalog menjadi organ penting untuk layanan perpustakaan sehingga harus selalu terbarukan apabila ada bacaan baru. Katalog pun dapat berbentuk unggahan di situs internet layanan perpustakaan maupun berbentuk dokumen yang dapat disebar ke berbagai aplikasi layanan komunikasi sehingga katalog dapat tersampaikan dengan baik.

2. Konsep Layanan Perpustakaan

a) Layanan Bacaan Antar. Pemustaka dapat melakukan peminjaman bacaan dengan langkah menghubungi perpustakaan (melalui situs internet layanan perpustakaan maupun menghubungi pustakawan) untuk mencari bacaan yang diperlukan. Apabila bacaan yang diperlukan tersedia maka pemustaka dapat memilih layanan ambil atau antar. Apabila pemustaka memilih antar maka buku akan diantar ke posisi pemustaka dalam kurun waktu tertentu (idealnya 2×24 jam, tetapi apabila mendesak bisa dilakukan secara langsung).

b) Layanan Kebutuhan Pustaka. Perpustakaan Dusun harus mampu menjadi bagian dari kebutuhan literasi warga. Maka dari itu, penambahan koleksi tidak sekedar keinginan perpustakaan dusun namun harus memperhatikan kebutuhan literasi warganya. Dengan cara ini, penambahan bacaan sesuai kebutuhan warga dengan konsep kolektif (melihat kebutuhan literasi di wilayah RT tertentu sebagai kebutuhan bersama) dan juga tidak mengesampingkan kebutuhan minor seperti penyandang disabilitas seperti tuna netra yang membutuhkan buku braille.

c) Layanan Telusur Pustaka. Apabila Perpustakaan Dusun tidak memiliki bahan bacaan yang dibutuhkan pemustaka, tentu mencarikan ditempat lain adalah sebuah kewajiban. Perpustakaan dusun dapat dikatakan sebagai kacamata yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan pemustaka. Dalam era modern, situs internet seperti jogjalib.com yang memiliki koneksi dengan berbagai perpustakaan besar di Yogyakarta dapat disosialisasikan ke pemustaka tingkat dusun apabila perpustakaan dusun tidak bisa memberikan bacaan tersebut.

d) Layanan Jasa Ilmiah. Kebutuhan tentang penelitian di tingkat dusun pasti ada. Walaupun skala penelitian kecil namun melayani jasa ilmiah untuk proses penelitian menjadi tanggung jawab perpustakaan dusun sebagai wadah pustaka. Membantu mencarikan narasumber, referensi, hingga penyelesaian akhir dapat dijadikan sebagai langkah kecil yang kelak berdampak besar.

3. Pendukung Utama Pelayanan Perpustakaan

a) Ketua RT dan Tokoh Masyarakat. Ketua RT dan tokoh masyarakat menjadi mitra utama dalam pelayanan perpustakaan. Posisi mereka sebagai “penguasa” dan ujung tombak untuk dapat mengkoordinasi warga tentu diperlukan dalam proses distribusi bacaan ke pemustaka. Bahkan jika mereka berkenan, dapat dijadikan tempat transit bacaan sebelum sampai kepada pemustaka. Ibaratnya, mereka memberikan restu dan wewenang agar perpustakaan dapat terus bergerak.

b) Lembaga Pemerintah. Kerja literasi tentu tidak dapat sepenuhnya mengandalkan pemerintah namun “menjemput” pemerintah untuk berkontribusi tentu bukan hal yang salah. Selain memohon hak literasi (pendidikan) sebagai warga negara juga dapat menghadirkan kontribusi negara di tingkat dusun. Banyak lembaga-lembaga negara yang menerbitkan bacaan seperti UPT dibawah Kementerian, LIPI, hingga dinas-dinas di daerah.

c) Lembaga Swadaya Masyarakat (Nirlaba). Peranan lembaga tersebut tentu dirasa akan lebih bermanfaat jika dapat berdampak langsung dengan masyarakat. Lembaga yang selama ini berperan untuk kalangan mereka sendiri maka dapat dihadirkan untuk turun ke bawah, ke perpustakaan kecil di sudut-sudut sunyi dan menyapa warga dengan bacaan. Lembaga tersebut seperti LSM, institut, hingga yayasan baik asing maupun lokal.

d) Jaringan Literasi. Posisi mereka dapat dijadikan sebagai “teman seperjuangan” dalam kerja-kerja literasi. Jaringan literasi adalah hubungan bersama antar pegiat literasi yang bergerak melalui taman bacaan, perpustakaan, perpustakaan jalanan, maupun pegiat literasi lainnya. Saling bertukar pikiran dan dukungan tentu akan semakin memperkuat kerja-kerja literasi.

e) Donatur Umum. Mereka menyumbang atas dasar dukungan terhadap kerja-kerja literasi. Status mereka bisa dari kalangan warga dusun maupun luar dusun. Disini batas-batas akan lebur dalam semangat kemanusiaan melalui literasi. Satu contoh Perpustakaan Dusun Kadipiro “Bintang-Matahari” telah berhasil mengundang donatur umum dari luar Kadipiro seperti penerbit Kendi (penerbit indie di Jogja) dan keluarga dari Bapak Romanus Roesy dan Ibu Sri Sundari yang telah menjadi diaspora di Swiss.

4. Evaluasi Pelayanan Perpustakaan.

a) Menjaga Perpustakaan Dusun Secara Berkala. Perawatan berkala terhadap fasilitas perpustakaan menjadi hal yang harus diperhatikan pertama kali. Mulai dari merawat bacaan hingga bangunan. Hal tersebut bertujuan menjaga perpustakaan dusun agar tetap dapat memberikan kebaikan dalam berbagai hal.

b) Mengolah Apresiasi Warga. Warga dusun menjadi pemustaka utama, tentu merekalah yang pertama didengar suaranya. Untuk mengakomodir kebutuhan pustaka dari pemustaka warga maka sudah sepatutnya penghargaan warga terhadap Perpustakaan Dusun “dibalas” dengan memberikan pelayanan sesuai kebutuhan mereka.

c) Memperkuat Jaringan dan Dukungan. Jaringan pertemanan dan hubungan komunikasi yang baik tentu melahirkan dukungan yang mantap. Dengan terus memperbanyak relasi kerjasama antar pegiat literasi dan lembaganya, tentu akan semakin dinamis dalam melakukan kerja-kerja literasi.

d) Memperkuat Fasilitas Pendukung. Fasilitas pendukung menjadi hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari bacaan hingga alat-alat pendukung literasi seperti meja, kursi, lampu, dan lain-lain adalah hal yang penting. Semua dilengkapi agar tidak terjadi ketimpangan dalam proses berliterasi.

e) Bergerak Maju. Perpustakaan Dusun harus melek perubahan yang sangat dinamis. Tidak bisa bersifat menang sendiri namun juga tidak selalu mengalah. Harus menjadi lembaga yang merdeka dan memiliki otoritas istimewa karena ilmu tidak bisa dibatasi untuk semakin maju dan terbuka.

Usaha Berharap Berhasil
Harapan dari konsep tersebut adalah saling bersinerginya kekuatan literasi bergerak dan kekuatan literasi kelembagaan. Hasil akhirnya adalah konsep perpustakaan yang ada secara lembaga namun juga bergerak hingga ke pemustaka di wilayah Dusun Kadipiro. Sejatinya, bahan bacaan yang tidak tersalurkan ibarat kemubaziran yang hakiki.

Mengutip perkataan Joseph Brodsky “Ada kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku, salah satunya adalah tidak membacanya”. Berdasarkan kalimat tersebut maka diharapkan kelak kedepannya perpustakaan dusun dapat menerapkan konsep perpustakaan klasikal namun juga melayani dari pintu ke pintu. Harapannya buku tidak sekedar menjadi gantungan sarang laba-laba dan rumah rayap tetapi menjadi pelita yang diantarkan dalam relung pemikiran warga dusun dimana Perpustakaan Dusun tersebut berada.

Muhammad Bintang Akbar (bintangzakbar@gmail.com)
Perpustakaan Dusun Kadipiro “Bintang-Matahari” Yogyakarta
Jl. Wates Km 2 No 35 Yogyakarta. Dk. V. Kadipiro, Kel. Ngestiharjo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul DIY (Barat Persis Soto Kadipiro 1)