Perpus Rakyat


Lukman Hakim Dalimunthe*

Saya memulai tulisan ini dengan sedikit memberikan biografi yang tak bermaksud membuat saya jadi sentral dari tulisan ini. Saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu, yang hanya bisa menyekolahkan anak-anak nya dan memberi sedikit uang jajan. Aku tak pernah menyicipi buku-buku bacaan kecuali buku pelajaran sekolah dan madrasah. Aku sadar dengan ekonomi tersebut dan tak banyak meninta buku bacaaan. Setelah menempuh pendidikan SD, SMP dan SMA, aku pun melanjutkan ke perguruan tinggi negeri di provinsi Jambi, Sumatra.

“Buku adalah jendela dunia”, itu lah kalimat yang sering ku dengar. Bagaimana mungkin aku bisa mengelilingi dunia semesntara ekonomi tak mendukung? Gumamku dalam hati saja. Dengan kalimat “buku adalah jendela dunia, akupun sadar, bahwa tak perlu mengelilingi dunia dengan kondisi ekonomi seperti ini, aku hanya perlu banyak membaca literatur mengenai dunia ini. Sata upaya self healing untuk merebut pengetahuan dan menjadikan hidup bermakna dengan kapasitas intelektual.

Buku harus bermanfaat bagi pegiatnya. Itu yang utama (arsip: perpus rakyat)

Pada mulanya, kebiasaan membaca ini aku dapat ketika menempuh pendidikan di lingkungan pesantren. Di pesantren, kami diwajibkan membaca buku (entah itu buku pelajaran, novel, cerpen,puisi dan lain-lain). Ketika itu kami diwjibkan membaca/belajar setiap malam hari kecuali dihari libur. Mulai dari jam 21.00-23.00 WIB. Itu kebiasaan yang berat bagi anak orang miskin, karena itu bukan hal biasanya yang didapatkan di rumah. Tapi, perlahan demi perlahan, kebiasaan itu menjurus menjadi cinta. Aku jatuh cinta dengannya, sehingga aku pun mengoleksi beberapa buku bacaan dengan menyishkan uang jajan. Perlu sekali ada keyakinan, bahwa orang miskin tak dilarang membaca.

Jalan ini sangatlah sulit aku lakukan, aku harus rela menyisihkan uang jajan yang sedikit untuk bisa membeli buku bacaan milik sendiri, walaupun buku di perpustakaan sekolah sangatlah banyak, tapi itu punya sekolah, aku tak akan pernah puas membaca jika suatu hari jadwal pengembalian buku nya sudah di depan mata.

Ketika memasuki kuliah, aku mulai terlena dan jatuh cinta pada buku. Aku pun memberanikan untuk mendirikan komunitas literasi bersama tiga senior ku. Tepatnya pada tanggal 17 november 2017, berdirilah komunitas literasi dijambi yang bernama “perpus rakyat”. Satu gerakan yang kemudian tergabung dalam jaringan komunitas literasi di berbagai daerah di Indonesia seperti PBI dan serikat Taman Pustaka.

Awal mulanya, komunitas ini berdiri dikarenakan kondisi minat baca mahasiswa sangatlah menghawatirkan sekaligus memprihatinkan, saya melakukan survey kecil-kecilan di kos atau kontrakan teman. malang nasib, mereka tidak memiliki buku bacaan, syukur-syukur masih ada diktat kuliah. Kondisi kaum terpelajar yang jauh dari sumber pengetahun/buku ini nampaknya juga terjadi di berbagai penjuru negeri. Keadaan yang harus diubah.

Melihat kondisi seperti itu, aku pun tak heran jika banyak mahasiswa/mahasiswi yang terkena penyakit “hoax”. Iya, mahasiswa/I terkena penyakit yang sangat berbahaya dan memalukan status nya sebagai mahasiswa yang harus menjunjung tri dharma perguruan tinggi yaitu: (1) Pendidikan dan pengajaran; (2)penelitian dan pengembangan; dan (3) pengabdian kepada masyrakat.

Bagaimana mungkin seorang mahasiswa bisa melakukan penelitian, pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat jika ia tak suka membaca? Suatu hal yang memalukan bagi seorang mahasiswa/i.

Menggelar perpustakaan di jalanan (arsip: perpus rakyat)

Melalui perpus rakyat, kami pun punya tekad untuk menyebarkan virus membaca kepada masyarakat terkhususnya mahasiswa-mahasiswi. Di dalam perjalanan nya, kami hanya memiliki kurang lebih 50 buku, buku itu adalah koleksi pribadi. Perjalanan ini sangatmengasyikkan, aku bisa bertemu dengan banyak mahasiswa dijalanan yang mampir ke lapak baca gratis perpus rakyat. Bertukar pikiran sembari membaca buku dan berdikusi, itu lah yang kami lakukan setiap kali buka lapak baca gratis di jalanan.

Perpus Rakyat telah dikenal sebagian masarakat dan mahasiswa provinsi jambi, kami pun membuat suatu pamplet yang berisi “sumbangkan buku mu untuk mencerdaskan generasi bangsa” lalu pamplet tersebut kami sebarkan di media social perpus rakyat, dan Alhamdulillah  ada saja orang yang berbaik hati untuk menyumbangkan buku-buku nya, diantaranya: mahasiswa, pemilik media, penggiat filsafat, serikat taman pustaka, dll.

Kenyataan itu yang membuat perpus rakyat tetap bertahan hingga detik ini, suport dan bantuan buku terus berdatangan dari mereka yang peduli terhadap dunia Literasi. Perpus Rakyat pun kedepannya mau menambah kegiatan lagi di bidang tulis-menulis, karena literasi itu bukan hanya sekedar membaca, tapi juga menulis.

Pada suatu hari, muncul lah sebuah data dari jasa pengiriman yang ada di negeri ini, dalam data tersebut, menunjukkan bahwa provinsi Jambi salah satu paling kecil mengenai pengiriman buku tujuan dari luar provinsi, mungkin itu hanya kiriman buku yang ku beli di toko buku online di luar provinsi Jambi (Gumam ku dalam hati). Iya, sebanarnya aku lebih suka membeli buku di luar provinsi Jambi, karena selera buku-buku jarang sekali ku temukan disini. Wajar saja, toko buku hanya sedikit disini. Jadi mengenai literatur kesukaan ku jarang ku temukan.

Dari situ pula, aku membuka toko buku yang berbasis online yang bernama “Kombur Book Store”. Ini adalah salah satu usaha yang ku buat untuk menjalankan keuangan Perpus Rakyat kedepannya.

Di provinsi Jambi ini, ada beberapa komunitas literasi yang sama seperti kami (buka lapak baca jalanan). Dengan itu, beban untuk menyebarkan virus membaca sedikit berkurang di Daerah ini.  Tetapi, alangkah tragis nya, ketika Pemerintah tidak mendukung kegiatan-kegiatan anak muda ini, entah itu soal bantuan buku, dana keberlangsungan Komunitas tersebut.

Suatu malam, ketika kami membuka lapak baca gratis di Car Free Night Kota Baru, datanglah beberapa oknum Satpol PP, kemudian berkata “Disini tidak boleh mengadakan kegiatan seperti ini, ini menganggu keindahan”.  Kami pun tidak meladeni mereka dan tetap membuka lapak baca tersebut, yang kami katakan kepada mereka hanya satu kalimat “Panggil pimpinan kalian, lalu kami pindah dari sini”. Eeeh ternyata mereka tak berani, dan tetap membiarkan kegiatan tersebut.

Itu hanya sedikit persoalan-persoalan yang kami hadapi ketiak buka lapak baca di jalanan, itu adalah resiko ketika kita ingin mencerdaskan generasi bangsa, pasti ada saja yang menghalangi nya. Semoga kami senantiasa diberikan kekuatan. Salam perjuangan literasi untuk rakyat.

*pegiat literasi di Perpus Rakyat di Jambi

 


1 Comment

Leave a Reply to Ervani Lumban Raja Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *