Pergerakan Becak Pustaka: Laporan Pandangan Mata

Catatan super asik ini ditulis oleh Asmariah⁩. Seorang pegiat literasi asal Sleman, Yogyakarta yang juga menjadi Humas PBI wilayah DI Yogyakarta.

Namanya pak Sutopo. Salah satu bapak becak yg menghias istimewanya kota Jogja. Perkenalan dengan beliau bermula dari pertemuan tanpa sengaja di tempat mangkalnya, depan SMPN 12 Yogyakarta. Pak Sutopo dan becak istimewanya sudah terdata di jaringan PBI namun datanya belum lengkap. Di grup WA literasi PBI DIY ada diskusi kecil tentang becak pustaka pak Sutopo. Intinya, semua ingin agar data Becak Pustaka dilengkapi. Karena saya yg cukup dekat dengan tempat mangkal becak pustaka ini, saya diberi kepercayaan oleh ibu Asmariah Supriyadi selaku humas literasi PBI DIY untuk mencari pak Sutopo untuk mendapatkan data yg diperlukan.

Beberapa kali mencari ke tempat mangkalnya tetapi tidak bertemu. Penasaran, malam ini sambil bersepeda saya dan Dewi Natalia sekali lagi mencari pak Sutopo. Tak bertemu di depan SMPN 12 Yogyakarta, kami mengayuh ke pangkalan becak sekitar gereja Albertus Agung Jetis. Seingat saya, beliau mengatakan kalau beliau juga biasa mangkal di sana. Sampai di sekitar gereja, kami mencari lagi, siapa tau becak pustaka adalah salah satu dari sekian becak yg ada. Ternyata tidak ada juga. Akhirnya kami mencoba bertanya perihal pak Sutopo kepada beberapa bapak becak di sana.

Syukurlah, dari bapak-bapak becak di sana kami mendapat info kalau pak Sutopo biasanya sudah kembali ke rumah kalau sudah jam empat sore. Serius, saya merasa geli sendiri. Bagaimana tidak, pak Sutopo pulang ke rumah jam empat sore, sementara selama ini saya mencari beliau di atas jam empat sore. Kadang jam lima, bahkan jam enam. Malam ini malah jam tujuh. Walaaahhhh… Syukurlah, bapak-bapak becak berbaik hati menunjukkan arah menuju rumah pak Sutopo. Kata bapak-bapak becak rumahnya dalam kampung.

Pencarian berlanjut. Gang sempit kampung Jetis kami susuri. Sempat tersesat tiga kali. Dengan bertanya kepada warga kampung, dibantu dgn petunjuk arah belok kiri-kanan dst, akhirnya ketemu juga.
Pak Sutopo, pensiunan Sipil TNI AD ini menyambut kami dengan gembira dan semangat. Pertemuan yg direncanakan hanya sebentar itu malah jadi panjang. Pak Sutopo punya banyak kisah menarik. Dari seniman mural, atlet lari dan renang, menjadi PNS TNI sampai pensiun, bagaimana tukang becak menjadi pilihan mengisi masa pensiunnya. Ada cerita menarik di sini. Secara umum, masa pensiun menjadi sesuatu yg dicemaskan banyak orang. Perasaan tak berguna, tak berdaya setelah masa aktif yg jaya memberi dampak psikologis yg menyiksa banyak pensiunan. Post-power syndrom. Berbeda dengan yg lain, pak Sutopo telah memikirkan apa yg akan dilakukan saat pensiun nanti. Mengayuh becak adalah pilihannya. Alasannya, beliau bisa tetap bekerja, sekaligus tetap berolah raga. Demikian kisah beliau.

Becak pustaka sendiri berawal dari hobi baca buku beliau. Buku-buku koleksi pribadi yg menginspirasi beliau menyulap becaknya menjadi perpustakaan. Harga buku mahal, bahkan sekalipun toko buku mengobral buku seharga Rp.5.000 pun tak akan terbeli oleh kelompok yg hidup di jalanan ini, baik anak-anak maupun yg dewasa. Bagi seorang tukang becak seperti pak Sutopo, membelanjakan uang Rp.5.000 butuh pertimbangan berulang. Dari kenyataan akses buku yg terbatas untuk anak-anak jalanan, juga keinginan agar sesama pengayuh becak juga dapat membaca buku menjadi beberapa motivasi beliau menggerakkan becak pustaka.

Syukurlah, banyak support yg pak Sutopo dapatkan. Beliau berulang mengatakan bahwa niat baik selalu mendapat dukungan. Alhasil, banyak donatur buku baik secara kelompok maupun pribadi menambah koleksi buku di becak pustaka. Sehat terus, ya pak Sutopo.

O iya, cerita beliau juga, kakek beliau adalah mantan KNIL, pernah bertugas di Kupang, sementara bapak beliau pernah ikut bekerja sebagai pengawas pembangunan bandar udara Penfui semasa pendudukan Jepang.

Jika perlu informasi silakan kontak berikut ini:
Cp. Bapak Sutopo; 087739398207
Cp.Asmariah ; 0878.3976.5352