Peran IPM Dalam Membumikan Literasi Untuk Pelajar Indonesia


Oleh : Agung Hidayat Mansur

Pendahuluan

Sejarah mencatat bahwa Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) merupakan organisasi Pelajar yang lahir pada 18 Juli 1961 di Surakarta. Pada perjalanan hidup IPM hingga saat ini, IPM tanpa henti mengkampayekan gerakan literasi (membaca dan menulis) pada kalangan pelajar Indonesia.IPM yang merupakan organisasi wajib ada di Internal pendidikan Muhammadiyah dan juga Aisyiyah, baik ditingkatan SMP, Juga SMA. Memiliki peran penting dalam membentuk karakter pelajar yang menempuh pendidikan formal di Muhammadiyah.

Sebagai organisasi IPM lah mempelopori Gerakaan Iqro’, Gerakan Iqro adalah gerakan keilmuan yang hidup dalam jiwa IPM dengan dilandasi nalar kritis transformatif. Adapun penjelasan pada gerakan ini meliputi aktifitas membaca dan menulis dengan ragam kreatifitasdidalamnya mulai beda buku, membuat media, dan seterusnya (Tanfidz Muktamar Medan 2006). Gerakan Iqro’ secara formal di launching oleh IPM semenjak tahun 2002, namun sejak kelahiran IPM telah menjadikan dirinya sebagai organisasi keilmuan yang bercirikan sebagai pelajar yang berkarakter, terpelajar dan terdidik.

IPM dalam pendiriannya sebagai organisasi otomonMuhammmadiyah (ortom) memiliki semboyan yang sangat familiar dengan GerakaanLiterasi yaitu, Surah Al-Qalam. Semangat Al – Qalam telah ada pada diri IPM sejak didilahirkan hingga saat ini dan menjadikan menulis sebagai tradisi di IPM.selain semboyan IPM logo IPM pula merupakan trasformasi dari bentuk pena yang merupakan ideologi dari organisasi IPM.

Pada Muktamar ke 18 tahun 2012, salah satu Agendan Aksi IPM yakni ” Baca Tulis Is My Hoby” yang merupakan gerakan untuk membudayakan tradisi membaca dan menulis di kalangan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, namun di Sempurnakan dalam tanfidz Muktamar ” Gerakan Iqra’ dan Advokasi media “. Gerakan Iqra dan advokasi media adalah gerakan pembudayaan tradisi membaca dan menulis kepada kader IPM di seluruh tingkatan. Juga merupakan langkah advokasi pelajar lewat tulisan yang disampaikan lewat media alternatif maupun media massa baik cetak maupun elektronik. Orientasi dari gerakan ini yakni membangun tradisi keilmuan-kritis berkemajuan dalam gerakan IPM. Yang bertujuan mewujudkan tradisi memmbaca dan menulis dalam diri kader dan gerakan IPM, memciptakan ruang diskursus untuk menanggapi segala wacana yang berkembang di masyarakat sehingga kader IPM dapat menciptakan momentum dan atau memanfaatkan momentum dengan membaca fenomena yang terjadi di masyarakat dan peka serta kritis terhadap realitas.

Pada gerakan Iqra’ kader IPM di berbagai tingkatan diharapkan mampu membudayakan tradisi membaca dan menulis sebagai aktifitas wajib bagi setiap kader, membentuk komunitas kreatif untuk mengaktualisasikan potensi kader serta meningkatkan motivasi berkarya seperti Komunitas Pelajar Ilmiah (KPI) komunitas pecinta cerpen, sastra dan sebagainya. Gerakan Iqro dan advokasi media diharapkan pula Kader IPM mampu menghasilkan tulisan yang berpihak pada pelajar dan melakukan publikasi baik melalui media internal persyerikatan maupun media eksternal, dengan cara demikian IPM diharapkan mampu memberikan kontribusi pada publik, sehingga trasidi membaca dan menulis pada kader IPM dapat memberikan pencerahan kepada bangsa.

Dari Gerakan Iqro’ hingga Jihad Literasi.

Gerakan Iqro’ yang dicanangkan oleh IPM, kini IPM dihadapkan pada kondisi bangsa yang lebih luas, yaitu rendahnya kemampuan literasi masyarakat termasuk Pelajar. Maka pada Konferensi Pimpinan Wilayah IPM tahun 2016, IPM mengangkat beberapa topik penting berkaitan denngan isu-isu pelajar, sebagai organisasi yang menegaskan dirinya sebagai “Gerakan Pelajar Berkemajuan: Manifesto Gerakan Ilmu”, maka IPM memperhatikan isu -isu kekinian dan masa depan, setelah membaca berbagai dinamika kehidupan dan dunia pelajar, maka IPM mengangkat salah satu isu “Jihad Literasi”, dari 16 Isu strategis yang di bahas pada Konpiwil IPM 2016 di Surabaya.

Namun, Langkah pemerintah dalam hal ini Kemendikbud telah mencanangkan Gerakan Literasi Sekolah pada tahun 2015, Gerakan Literasi Sekolah juga menjadi PR bagi IPM, kerena dalam hal ini Muhammadiyah yang juga merupakan Organisasi Islam yang memiliki Ribuan Sekolah yang terdapat diberbagai daerah haruslah mampu mentafsirkan Apa yang terkandung dalam Gerakan Literasi Sekolah yang di canangkan oleh Pemerintah atau Kementrian Pendidiikan dan Kebudayaan. Maka IPM juga ikut membaca fenomena yang terjadi pada kehidupan Pelajar dan Pendidikan di Indonesia sehingga IPM mengandendakan “Jihad Literasi” yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Literasi masyarakat khususnya pelajar.

Kualitas literasi masyarakat mempengaruhi proses-proses perwujudan kesejaahteraan. Menurut sejumlah indilator kuantitatif Indonesia termasuk negara dengan tingktliterasi yang memprihatinkan. Tentu saja, hal ini harus IPM atasi, Kualitas literasi masyarakat Indonesia sebuah tantangan klasik di masa kini. Dalam hal ini perlunya dilakukan berbagai cara untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, karna menurut IPM peningkatan literasi merupakan suatu prasayaratan penting bagi pertumbuhan kualitas masyarakat.

Menurut IPM, Hal itu dapat di lakukan melalui pembentukan Komunitas literasi, kampanye hak membaca dan buku murah bagi masyatakat, mendesak subsidi negara terhaadap buku, serta berbagai agenda penting lainya. Perjuangan literasi akan memberikan dampak bagi perkembangan budaya literasi masyarakat. Hal tersebut menurut IPM akan memberikan pengaruh yang sangat sitnifikan bagi masyarakat dimasa yang akan datang. Bagi IPM, jihad literasi berarti memperjuangkan kualitas kehidupan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Sama halnya dengan Gerakan Iqro’ Gerakan Jihad Literasi juga di agendakan dapat meningkatkan tradisi baca tulis di kalangan pelajar sebagai manifestasi gerakan ilmu yang menjadi paradigma pelajar berkemajuan. Dalam melaksanakan agenda tersebut IPM memiliki beberapa bentuk aksi seperti, penyediaan pojok baca di kelas dan dikantor IPM, pembentukan komunitas ‘sahabat buku’, penyelenggaraan perpustakaan keliling, diskusi buku, arisan buku dan juga pelatihan jurnalistik.

Jihad literasi diharapkan mampu dilaksanakan oleh IPM di berbagai jenjang tingkat kepemimpinan, dengan hal ini tradisi literasi diharapkan mampu meningkatkan kualitas kehidupan. dengan dilandasi dengan semangat pencerdasan, pemberdayaan, dan pembebasan masyarakat.

Aktualisasi Jihad Literasi

Pada pembukaan Muktamar IPM ke 20 di Samarinda, Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Muhadjir Efendi memaparkan bahwa IPM harus menjadi andalan di kalangan pelajar. Upaya untuk menjadi andalan dapat dilakukan melalui terobosan-terobosan program yang berkualitas dan bermanfaat bagi pelajar Muhammadiyah. Program yang dapat diciptakan oleh IPM harus menyesuaikan dengan isu-isu yang menjadi permasalahan di Indonesia. Misalnya, permasalahan tentang kesadaran literasi di kalangan pelajar Indonesia yang masih sangat minim. “Melihat kondisi literasi pelajar yang belum baik, maka IPM memiliki peran untuk berkontribusi dalam dunia literasi pelajar Indonesia,” dari perjelasan dari Bapak Muhadjir, membuat IPM semakin bersemangat menjalankan program penguatan budaya literasi kepada pelajar Muhammadiyah.
Pada Tanwir IPM tahun 2018 yang dilaksanakan di Martapura, Kalimantan Selatan. IPM melakukan Survei tingkat ketercapaian beberapa agenda aksi IPM secara Nasional, selama tahun 2017-2018, dari tiga Agenda Aksi yang di laksanan IPM di berbagai wilayah diantaranya Jihad Literasi, Pendampingan teman sebaya dan Konservasi lingkungan yang di sampaikan pada Tanwir IPM 2018.

Agenda Aksi jihad literasi sebagai salah satu agenda aksi pelajar berkemajuan yang dilakukan oleh IPM, agenda ini dilaksanan dari ranting hingga wilayah dengan menjadi tema kegiatan masing-masing jenjang kepemimpinan IPM, dengan menampilkan grafik 57,7 % dari 33 responden telah melaksanakan agenda literasi. Kemudian 22 responden diperoleh 42,3% menjawab belum memilih literasi sebagai tema besar dalam kegiatan. Hasil ini diperoleh dari beberapa wilayah di Indonesia diantaranya Jawa Barat, Lampung dan Kalimantan Barat. Dan di beberapa wilayah ketercapaianagennda aksi minin diperoleh di Kalimantan Selatan, Banten, Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Adapun kegiatan yang dilakukan dalam melaksanakan agenda aksi sebagai berikut : Gerakan pagi buku, lapak baca, sriwijayaliterasi, literasi camp, komunitas literasi, bedah buku, perpustakaan, pojok literasi dan lain sebagainya. Lanjutnya 53,8 % dari 28 responden yang tersebar dari berbagi wilayah Indonesia telah melaksanakan aktivitas pelatihan/seminar/diskusi berkaitan dengan pengembangan kapasitas diri dalam literasi. 24 responden dengan 46,2 % preaentase responden belum melaksanakan aktivitas pelatihan/seminar/diskusi terkait literasi. Adapun kegiatan tersebut mencakup : bedah buku, diskusi literasi, seminar literasi, kamatsu, nobar, dan lain sebagainya. Program kerja berkaitan dengan literasi yang telah di laaksanakan sebesar 80,8 % dari 42 responden yang tersebar diseluruh Indonesia, Hanya terdapat 10 responden dengan presentase 19,2 % yang belum memilih literasi sebagai program kerja. Adapun kegiatan yang terlaksana sebagai berikut: pagi buku, perpustakaan, pemerbitan majalah, literasicamp, bedah buku, pojok literasi, Komunitas literasi dan lain senagainya. (Baca Buku Panduan Tanwir IPM 2018).

Optimalisasi Agenda Jihad Literasi IPM

Pada Tanwir IPM 2018 IPM merumuskan strategi optimasisasi agenda aksi jihad literasi untuk di laksanakan di berbagai jenjang tingkatan.
Sebagai berikut :
– 1 Komunitas literasi di tingkat pusat hingga daerah.
– 100 Komunitas liteasi / rumah baca pelajar se Indonesia
– Bank buku di tingkat pusat dan wilayah
– 4 komunitas liteasi / rumah baca pelajar se Wilayah
– Media kreatif dan sosial media engangment di tingkat pusat hingga dareah
– Sosial engengment di tingkat cabang dan ranting
– 1 Kegiatan literasi / diskusi di tingkat cabang dan ranting
– 1 Produk literasi di tingkat cabang dan ranting.

Dari Strategi Optimalisasi Jihad literasi oleh IPM diharap mampu meningkatkan kualitas literasi masyarakat khususnya pelajar, serta dalam wujud jihad literasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah dengan senantiasa mewujudkan komunitas literasi pelajar dengan semangat Gerakan Iqro’ sebagai tradisi habitus iqra pelajar berkemajuan.
Penutup

Persoalan, tantangan dan Perkembangan zaman yang terus berubah-ubah, haruslah mampu dijawab oleh IPM dengan segalanya agenda aksinya yang dirumuskan lalu di aktualisaikan oleh IPM, dengan berbagai kreatifitas dan inovasi oleh Kader IPM telah memberikan jawaban yang kongkrit, IPM sebagai organisasi keilmuan di kalangan pelajar, memiliki peranan penting dalam membangun kualitas hidup masyarakat dengan menjadikan jihad literasi sebagai manifestasi Gerakan Iqro’ yang selama ini di plopori oleh IPM, untuk mencapai tujuan visi pembebasan terhadap ketidaktauan akan ilmu pengetahuan oleh masyarakat dan pelajar.

Peranan IPM akan selalu dibutuhkan dalam mencapai visi mencerdaskan kehidupan bangsa, termasuk dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, serta dalam mewujudkan cita – cita pelajar berkamajuan. Maka dalam meningkatkan kualita sliterasi di masyarakat khusunya di kaum pelajar, yang harus dilakukan ialah saling bekerjasama dengan seluruh elemen bangsa yang ada karena dengan bekerjasama maka hal tersebut akan dirasa mudah dalam menyelesaikan probrem bangsa ini. Serta IPM harus mampu menggerakkan daya kreatifnya dan mendorong terbentuknya komunitas-komunitas literasi dengan menggerakkan daya kreatifnya dengan semangat pencerdasan, pembebasan dan pemberdayaan.

Referansi

PP IPM, 2011, Manifestasi Gerakan Perlawanan Pelajar; PP IPM.
Tanfidz Muktamar IPM 2012.
TanfidzKonpiwil IPM 2016.
Panduan Tanwir IPM 2018.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *