Penulisan Sejarah ala Muslim Millenial; Literatur, Isu, dan Media


Generasi millennial (kelompok orang yang lahir di antara rentang tahun 1980-an hingga tahun 2002), jumlahnya digambarkan telah mendominasi peta demografi masyarakat global, dan berpengaruh besar terhadap perubahan arah kebudayaan modern. Antusiasme, baik dalam pengertian antisipatif maupun optimistik menempatkan generasi millennial sebagai salah satu pendorong besar sejarah, mengubah arah lanskap politik, ekonomi, dan pendidikan. Munculnya anak muda sebagai suatu kategori sosial khusus, telah menjadi pembeda penting, bagaimana generasi millennial tidak lagi memadai dipandang sebagai sub-kultur. Muslim millennial khususnya, tidak lagi dapat dipandang sebagai subordinat di dalam hirarki sosial masyarakat muslim. Meredupnya peran penting anak muda dalam kacamata ilmu sosial, dimulai pasca tahun 1960-an ketika, generasi muda dianggap tidak mampu menggantikan peran revolusioner proletariat dalam peristiwa-peristiwa penting revolusi politik. Kendati demikian, perubahan besar dalam institusi pendidikan dan teknologi, telah mendorong generasi ini tampil kembali merebut perhatian sarjanawan. Generasi millennial disebut-sebut sebagai generasi dengan tingkat pendidikan lebih baik dengan perjuangannya memperoleh identitas yang lebih sulit ketimbang generasi sebelumnya.

Muslim millennial di Indonesia pada umumnya dianggap sebagai ancaman terhadap demokrasi dan modernisasi. Pandangan semacam itu dibentuk oleh situasi global di mana masyarakat muslim dianggap tidak mampu menaklukkan dan hidup di bawah sistem sekuler. Di berbagai tempat, keterlibatan muslim millennial dengan kombatan Islamis dianggap sebagai satu-satunya posisi politik yang telah diambil oleh muslim millennials. Anggapan semacam itu tentu saja tidak sepenuhnya tepat. Muslim millennial di beberapa tempat di Indonesia, justru berhasil membuat platform, kanal solidaritas, dan respon asertif terhadap pasar. Dengan segala ambivalensi yang mungkin muncul, kondisi dan situasi ini hendak menunjukkan bahwa generasi millennials sepenuhnya merupakan kelompok sosial yang penting dalam konteks apa pun.

Patut dicatat bahwa generasi millennial memiliki komitmen yang sama kuatnya untuk mendorong perubahan sosial. Beberapa tahun terakhir di Indonesia, keterlibatan muslim millennial dengan upaya-upaya transformasi sosial dapat terlacak secara jelas dan kasatmata melalui aktivitas-aktivitas kolaborasi yang mampu mereka lakukan.

Termasuk di dalamnya ialah mereka mulai menginisiasi secara serius aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan penyajian sejarah. Beberapa di antara muslim millennial ini berhasil menulis karya-karya penting tentang sejarah. Sebagai contoh untuk menyebut beberapa saja, misalnya Dilarang Gondrong; Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970an (2010) Karya Aria Wiratama Yudhistira,; Memata-Matai Kaum Pergerakan; Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda 1916-1934 (2013) karya Allan Akbar; Njoto; Biografi Pemikiran 1951-1965 (2017) karya Fadrik Azis Firdauzi, dan Konferensi Asia- Afrika 1995 (2017) karya Wildan Sena Utama. Karya-karya sejarah ini tentu saja memuat perspektif dan ketekunan baru yang mencoba lepas dari kuatnya pengaruh rezim kekuasaan penulisan sejarah pasca peristiwa 30 September tahun 1965. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan bahwa berbeda dengan Negara-negara berpenduduk muslim millennial lainnya seperti Malaysia dan Singapura, di Indonesia perspektif kuasa sejarah 1965 sangat kuat mempengaruhi generasi ini. Mereka tumbuh di bawah kuasa sejarah 1965, membentuk citra dan asumsi-asumsi yang sangat mendasar tentang sejarah identitas dan Nasional. Karya-karya sejarah yang ditulis muslim millennial harus diperhatikan dalam konteks ini.

Penulisan Sejarah ala Muslim Millennial

Di Indonesia, penulisan sejarah yang dilakukan oleh muslim millennial dapat dipotret melalui dua model. Pertama, adalah tumbuhnya karya-karya tulis tentang sejarah yang diterbitkan melalui media buku, jurnal, dan majalah. Model kedua, sebagai konsekuensi dari revolusi teknologi, yaitu munculnya kanal-kanal media daring yang memfasilitasi riset-riset historis dengan model penyajian dan keterjangkauan pembaca lebih besar. Kesamaan antara dua model tersebut, adalah bahwa mereka berupaya untuk memperbaiki sejarah kolonial, lokal, nasional, dan sejarah Komunisme di Indonesia. Mereka terlibat dengan literatur-literatur sejarah yang lebih kuat, dan merupakan investigator kearsipan yang sangat ulung. Peran-peran penulisan sejarah generasi millennial di Indonesia tidak dapat dianggap sepele. Peran penting mereka telah membawa banyak hal yang tidak pernah dianggap sebagai peristiwa sejarah menjadi sejarah. Mereka tidak membuktikan bahwa penulisan sejarah tidak dapat dilepaskan dari kuasa politik, dan menawarkan bagaimana caranya keluar dari cengkraman itu dengan menawarkan perangkat intelektual yang lebih mumpuni.

Penulisan sejarah yang dilakukan oleh generasi muslim millennial sebagian besar memang terletak pada arti penting membuka kembali sejarah kebangsaannya sendiri. Sebagaimana telah disinggung, hal ini terjadi karena pergulatan kesejarahan nasional sangat penting bagi generasi ini. Tidak saja bagi muslim millennial, tetapi juga bagi rekan millennialnya secara umum. Kendati demikian, penulisan sejarah muslim millennial dengan sejarah muslim tidak dapat dianggap sepi peminatnya. Felix Siauw misalnya menulis tetralogi sejarah figur Muslim dalam Alfatih Series yang sangat laris, dan Taufik Saptoto Rohadi atau dikenal dengan nama Tasaro GK yang menulis tiga novel Biografi berjudul Muhammad; Lelaki Penggenggam Hujan (2010); Muhammad; Para Pengeja Hujan (2011); dan Muhammad; Sang Pewaris Hujan (2016). Berbeda dengan penulis-penulis muslim millennial lainnya yang terhubung dengan isu-isu kebangsaan internal, dua penulis ini bekerja untuk mengangkat sejarah figur-figur penting Islam secara populer. Perbedaan corak dan isu yang diangkat harus diperhatikan sebagai variasi penting dalam proses kreatif penulisan sejarah muslim millennial yang sangat dipengaruhi oleh konteks pergulatan perspektif sejarah tahun 1970an. Sebagian penulis muslim millennial yang bekerja untuk isu-isu sejarah Islam seperti Siauw dan Rohadi adalah ekspresi dari semangat penulisan sejarah Islam yang terhubung dengan ketekunan penulis-penulis dari masa sebelumnya seperti Buya Hamka yang menulis Sejarah Kebatinan di Indonesia (1971) dan Sejarah Umat Islam (1986).

Perbedaan spirit dalam variasi kreativitas penulisan sejarah oleh muslim millennial adalah hal yang tak terelakkan. Pengaruh literatur, semangat perjuangan politik, dan metodologi sejarah yang digunakan sangat mempengaruhi objek studi penulisan sejarah yang diambil. Kendati perbedaan-perbedaan objek studi dan paradigma penulisan sejarah yang demikian berbeda, karya-karya ini terhubung dengan perjuangan penulisan sejarah yang sangat khas. Beberapa penulis muslim millennial berupaya untuk menghubungkan kerja penulisan sejarah dengan konteks kehidupan sosial politik yang luas, sedangkan sebagiannya melibatkan diri untuk menyatakan narasi-narasi segar tentang sejarah Islam.

Di Indonesia, terdapat dua media daring penulisan sejarah yang digawangi oleh anak-anak muda, menggantikan peran penting institusi pendidikan dan penelitian sejarah dalam pembuatan sejarah populer. Media daring Historia.id dan Tirto.id adalah dua contoh penting kanal daring yang menjadi bagian dari potret penulisan sejarah. Kedua media ini sama-sama meleburkan antara batas keterjangkauan penulisan sejarah dengan objek dan paradigma. Dua media daring ini hendak menunjukkan bahwa penulisan sejarah selalu terhubung dengan kerja untuk mengungkap aspek-aspek kehidupan kebangsaan dengan berbagai ragam kehidupan budayanya. Meskipun tidak seperti Historia.id yang fokus sebagai kanal daring artikel sejarah, Tirto.id juga punya peran penting dalam menyajikan model-model penulisan sejarah millennial. Dua media ini juga turut memfasilitasi penulis-penulis millennial untuk menyajikan karya-karyanya ke hadapan publik.

Kemunculan media-media baru, dan lebih independent secara metodologis, telah menghasilkan karya-karya penulisan sejarah yang lebih alternatif, dengan sasaran pembaca luas. Keberhasilan penulisan sejarah ala millennial selain membuka kesempatan bagi penulis-penulis muslim millennial untuk mengemukakan pembelaan sejarah berdasarkan pada penggunaan kearsipan juga memungkinkan penulisan sejarah menjadi bagian dari kontestasi sejarah itu sendiri. Penulisan sejarah sangat berkaitan dengan praktik kehidupan sehari-hari. Legitimasi hidup hari ini sebagian besar dibentuk dari bagaimana pengetahuan sejarah memberinya ruang untuk menemukan alasan- alasan yang masuk akal. Penulisan sejarah millennial dengan demikian, selain turut terlibat dengan pertarungan diskursus penulisan sejarah ala rezim Soeharto, juga terlibat dengan perebutan kontestasi masa kini. Hal ini jika seksama diperhatikan menjadi salah satu alasan mengapa variasi-variasi objek penulisan sejarah muslim millennial berkembang demikian luas.

Praktik-praktik penulisan sejarah ala muslim millennial juga sangat dipengaruhi oleh dorongan-dorongan yang sangat spesifik dalam rangka meramaikan pergulatan diskursus identitas. Sebagaimana diketahui bahwa pergulatan identitas adalah bagian yang sangat penting dan merupakan dorongan utama dari kreatifitas penulisan sejarah. Ambil contoh dari praktik-praktik penulisan sejarah millennial yang diinisiasi oleh kelompok muda Muhammadiyah dengan mulai menulis sejarah lokal perkembangan organisasinya sendiri. Mereka terdorong untuk mendokumentasi ulang keagenan dan perkembangan struktrural salah satu gerakan sosial keagamaan terbesar ini selain Gulem Movement dan Nahdlatul Ulama. Praktik-praktik penulisan sejarah selain itu juga didorong oleh hadirnya akses bacaan berbahasa Indonesia dan semakin tingginya intensi perbincangan sejarah di ruang publik. Intensi semacam ini telah meningkat juga bersamaan dengan perbincangan sejarah kolonial dan pasca tahun 1965.


1 Comment

  1. Artikel yang sangat bagus …
    Ulasan informasi yang disampaikan sangat bermanfaat …
    Terimakasih informasinya min …
    Ditunggu artikel selanjutnya …
    Salam kenal …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *