Pentingnya GLS di Era Industri 4.0


Oleh : Agustian Deny Ardiansyah)*

Masih ingatkah saat pertama kali orangtua kita mengenalkan huruf Alfabet A, B, C sampai dengan Z pada Kita?. Orangtua kita tidak hanya mengenalkan huruf-huruf Alfabet tersebut, tapi juga menyuruh kita menghafalnya satu persatu dari A – Z. Kenapa kita harus menghafalnya? dan apa gunanya untuk kita?. Kita sadari atau tidak, ternyata kemampuan kita dalam membaca dan menulis hari ini berasal dari rangkaian huruf Alfabetyang Kita hafal sewaktu kecil. Huruf-huruf Alfabet tersebut kemudian menjadi kata yang biasa kita ucapkan dan tuliskan saat pertama kali kita membaca dan menulis.

Kata tersebut kemudian menjadi rangkaian kata yang membentuk sebuah kalimat, paragraf, dan wacana (karangan utuh). Rangkaian huruf dan kata itulah yang merupakan dasar dari literasi. Literasi atau pengaksaraanmerupakan kemampuan seseorang dalam mengintepretasi bacaan dan memproduksi tulisan. Anis Baswedan dalam buku Gurunya Manusia (2010:xiv) mengungkapkan, sejak Soekarno dan Hatta memprokalamasikan kemerdekaan Indonesia pada Tahun 1945, angka partisipasi melek huruf masyarakat Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan, yaitu dari 5% menjadi 92% di Tahun 2010. 

Peningkatan angka melek huruf yang sangat baik tersebut, tidak kemudian dibarengi dengan penumbuhan budaya membaca di tengah masyarakat Indonesia. Data UNESCO Tahun 2012 memaparkan, minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai 0,001 dimana dari 1000 penduduk Indonesia hanya satu orang yang memiliki minat baca. Data tersebut kemudian diperkuat oleh pernyataan Taufik Ismail yang menyatkan bahwa, rata-rata pelajar lulusan SMA sama sekali tidak membaca satupun buku atau dalam istilah Taufik Ismail disebut dengan ”tragedi nol buku”bagi pendidikan (http://www.paudni.kemdikbud.go.id/berita/8459.html).

Data di atas menunjukan,budaya membaca belum mengakar kuat dalam keseharian masyarakat Indonesia yang kemudian berkolerasi dengan lemahnya budaya menulis. Oleh karena itu, Untuk menjawab tantangan tersebut perlu dilakuakan suatu geberakan dalam menumbuhkan budaya membaca dan menulis (literasi) di setiap elemen masyarakat tak terkecuali lingkungan pendidikan. 

Pada Tahun 2015 kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia mengeluarkan Permen No 23 Tahun 2015 tentang penumbuhan budi pekerti melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Peraturan Menteri tersebut berisi tentang penumbuhan budi pekerti yang di dalamnya mencakup Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dengan mewajibkan peserta didik membaca buku nonpelajaran selama 10-15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan menumbuhkan budaya membaca dan menulis (literasi) pada warga sekolah, baik kepala sekolah, peserta didik, dan guru yang berujung pada kemampuan mamahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif. 

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) juga bertujuan menciptakan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan aktivitas membaca yang tidak sekedar membaca dan menulis yang tidak sekedar menulis. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memandang literasi sebagai upaya penumbuhan budi pekerti yang menekankan pada kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas seperti, menyimak, membaca, menulis, melihat, dan atau berbicara (sutrianto, dkk, 2016:2).

Kemamapuan tersebut kemudian diharapkan menjadi penghubung dalam membentuk karakter peserta didik yang memiliki pola pikir kritis thinking (berfikir kritis), komunikatif, koloboratif, dan kreatif. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) selain bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik juga memiliki tujuan untuk menjadikan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan membaca dan menulis (literasi) sebagai jantung dari aktifitas di sekolah. 

Pembudayaan membaca dan menulis (literasi) di sekolah tidak dilakukan begitu saja, namun memiliki tahapan. Pertama, tahapan pembiasaan, tahap ini menuntut sekolah untuk menerapkan kegitan membaca buku nonpelajaran selama 10-15 menit sebelum belajar. Kedua, tahap pengembangan, tahap ini menuntut peserta didik menunjukkan keterlibatan pikiran dan emosinya dalam proses membaca dan menulis tanpa ada penilaian secara akademik.ketiga, tahap pembelajaran, tahap ini menekankan pada pelaksanaan literasi di semua mata pelajaran yang ditambah dengan tagihan akademik. 

Selain memiliki tahapan dalam pelaksanaannya, menurut Beers (2016:11) pada modul penguatan literasi dalam pembelajaran, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) memiliki prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam praktiknya. Prinsip-prinsip tersebut meliputi (1) perkembangan literasi berjalan sesuai tahapan pengembangan yang diprediksi, (2) program literasi bisa berimbang, (3) program literasi berlangsung di semua kurikulum, (4) tidak ada istilah terlalu banyak membaca dan menulis yang bermakna, (5) diskusi dan strategi bahasa lisan, serta, (6) keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah.  

Sekolah memiliki peran yang amat penting dalam menanamkan budaya membaca dan menulis (literasi) pada peserta didik. Oleh karena itu, tiap sekolah tanpa terkecuali harus memberikan dukungan penuh tehrhadap penumbuhan budaya membaca dan menulis (literasi) di sekolah. Dukungan tersebut dapat dilakukan dengan mengakomodasi likungan fisik, lingkungan sosial dan afeksi, serta lingkungan akademik yang literat. 

Anis Baswedan dalam suatu kesempatan pernah mengungkapkan, salah satu ketrampilan yang harus dimiliki Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia di era Industri 4.0 adalah kemampuan literasi. Kemampuan literasi atau keberaksaraan merupakan kemampuan seseorang yang tidak hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis, namun mencakup kemampuan dalam mengintepretasi sumber informasi dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. 

Ferguson (2016:9) pada modul penguatan literasi dalam pembelajaran menjelaskan, keamampuan literasi seseorang mencakup literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi, dan literasi fisual. Kemampuan tersebut kemudian berkembang menjadi literasi informasi yang memberikan pemahaman bagi seseorang mengenai informasi yang sedang dibaca atau ditulis secara kritis, analitis, dan reflektif. Hal itulah yang kemudian membuat kemampuan literasi menjadi penting dalam mengahadapi tantangan di era Industri 4.0 seperti sekarang ini.

)*Guru SMP N 2 Lepar Pongok, Kabupaten Bangka Selatan


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *