Penerjemahan dan Tradisi Literasi di Muhammadiyah


Oleh: Muhammad Yuanda Zara*

Muhammadiyah dan modernisasi adalah dua kata yang tak terpisahkan karena telah seiring sejalan selama seabad terakhir. Saat ditanya apa wujud dari gagasan modernisasi yang dipromosikan Muhammadiyah, banyak orang akan menunjuk pada amal usaha Muhammadiyah yang mengadopsi nilai-nilai modern seperti progres, profesionalisme, rasional, dan urban. Secara lahiriah, ini mencakup lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan serta organisasi pergerakannya. Namun, agaknya ada satu elemen yang terlupakan dalam kaitannya dengan pilar-pilar penopang Muhammadiyah sebagai gerakan modern yang berorientasi kemajuan: penerjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia.

Sepanjang seabad lebih usianya, warga Muhammadiyah sebenarnya tidak hanya memusatkan perhatian pada gerakan pendidikan dan kesehatan sebagaimana kini sudah menjadi ciri khasnya. Muhammadiyah juga merupakan organisasi di mana tradisi penerjemahan teks berbahasa asing ke bahasa Indonesia (dulu Melayu) telah berakar dengan kuat. Kesadaran terhadap arti penting bahasa asing sebagai instrumen penyebaran dakwah dan intelektualisme sudah eksis sejak lama.

Dalam seabad terakhir, setidaknya ada tiga bahasa asing yang diterjemahkan oleh para penerjemah yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, yakni bahasa Arab, Belanda, dan Inggris.

Teks berbahasa Arab sudah diterjemahkan sejak dari masa kelahiran Muhammadiyah hingga kini karena ajaran Islam memang diturunkan dalam bahasa ini sehingga teks dari bahasa ini akan senantiasa diterjemahkan dan ditafsirkan. Kata, istilah, dan konsep dari bahasa Belanda digunakan oleh sebagian tokoh Muhammadiyah yang berpendidikan di dalam berbagai retorika publik mereka, terutama pada paroh pertama abad 20. Pasca Indonesia merdeka, ada sejumlah teks berbahasa Belanda yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penerjemah Muhammadiyah yang fasih berbahasa Belanda.

Salah satu tokoh Muhammadiyah yang paling terkenal, Kasman Singodimedjo, umpamanya, sejauh ini hanya dikenal sebagai seorang tokoh JIB, aktivis Muhammadiyah, komandan PETA, anggota PPKI serta penulis buku agama. Nyaris tidak ada yang menyadari bahwa Kasman juga pernah menjadi penerjemah. Salah satu karya terjemahan Kasman (bersama R. Mohammad Saleh) adalah karangan Prof. R. Kranenburg, seorang guru besar bidang tata negara asal Belanda. Judulnya dalam bahasa Indonesia: Perkembangan Peradilan tentang Pertanggungan-Jawab Negara, diterbitkan tahun 1973 oleh Penerbit Permata (Jakarta). Bahasa Belanda Kasman tidak diragukan lagi; sekolah dasar hingga sekolah tingginya dijalani di sekolah berbahasa Belanda.

Buku terjemahan Kasman dan Saleh ini kini masih dipakai di fakultas hukum di berbagai universitas di Indonesia serta dijadikan bahan rujukan oleh para ahli ilmu hukum. Ini menunjukkan betapa karya terjemahan Kasman memiliki dampak pada pemikiran hukum di Indonesia bahkan setelah berdekade-dekade kemudian.

Penerjemahan dari bahasa Inggris juga tergolong banyak dilakukan di lingkungan Muhammadiyah. Ini tidak lepas dari lahirnya kelompok intelektual yang mencari inspirasi untuk kemajuan Islam dan Muhammadiyah dari Dunia Barat. Mereka terutama sekali eksis sejak era 1960an, dan kian kuat di era-era selanjutnya. Mereka lahir dan besar di lingkungan Muhammadiyah, namun memiliki wawasan mondial dengan bahan bacaan yang berasal dari literatur Barat. Sebagian di antara mereka menerjemahkan teks berbahasa Inggris dari luar Indonesia, lalu menerbitkannya di Suara Muhammadiyah. Maka, tak heran apabila majalah ini pada era 1960-an dan 1970-an bertabur dengan teks yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.

Ada sejumlah penerjemah yang berafiliasi dengan Muhammadiyah yang patut disebut di sini, yang karya-karya terjemahannya, terutama di era 1960-an dan 1970-an, memberi warna berbeda pada dunia intelektual Muhammadiyah. Di antara mereka ada nama Ahmad Syafii Maarif, Haryono Projosuharjono, dan Umar Asasuddin.

Salah satu penerjemah Muhammadiyah yang paling aktif menerjemahkan teks asing ialah Bung Syafii—begitu kolega Buya Syafii memanggilnya di tahun 1960-an. Ia berprofesi sebagai wartawan Suara Muhammadiyah sejak tahun 1965—awalnya sebagai korektor lalu staf redaksi—hingga tahun 1972, saat ia melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat. Sebagai jurnalis Suara Muhammadiyah, Bung Syafii tidak hanya bertugas mengumpulkan informasi tentang peristiwa mutakhir lalu melaporkannya di Suara Muhammadiyah. Ia bergerak melampaui tugas dasar jurnalis ini dengan menjadi penerjemah teks berbahasa Inggris. Bahasa Inggrisnya mumpuni dan ia sendiri berminat dengan karya-karya berbahasa Inggris, baik yang terbit di dunia Anglo-Sakson maupun di dunia Islam. Kala itu, redaksi Suara Muhammadiyah berlangganan majalah The Muslim World, majalah Islam berbahasa Inggris yang berbasis di Pakistan. Majalah ini menerbitkan banyak teks tentang sejarah Islam klasik maupun dinamika perkembangan terkini umat Islam di berbagai belahan dunia. Bung Syafii, dengan nama pena “Ichwan Sumpur” dan “Salman Sumpur,” menerjemahkan berbagai teks yang relevan dengan kondisi umat Islam di Indonesia dan menerbitkannya di Suara Muhammadiyah.

COVER-SM-09-2018

Apa efek penerjemahan teks berbahasa asing bagi Muhammadiyah? Para penerjemah Muhammadiyah merupakan jembatan yang mentransmisikan berbagai ide, fakta, dan cerita dari luar Muhammadiyah dan dari luar Indonesia kepada umat Islam Indonesia, khususnya warga Muhammadiyah. Mereka adalah mediator pengetahuan dan informasi yang memperluas cakrawala dan perspektif warga Muhammadiyah. Teks terjemahan membuat pembaca bisa berpikir komparatif serta melahirkan kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari warga global.

Penerjemahan dari teks asing turut mempercepat modernisasi dunia intelektual Muhammadiyah, baik untuk kalangan pemikirnya maupun simpatisannya. Di zaman itu orang belum mengenal internet, televisi masih mahal dan masih sedikit yang bisa berbahasa Inggris maupun Arab, sehingga teks terjemahan karya penerjemah Muhammadiyah berperan penting sebagai sumber informasi pokok bagi audien Indonesia untuk mengetahui perkembangan dunia Islam maupun Barat. Para penerjemah Muhammadiyah, misalnya, membawa narasi tentang sejarah Islam klasik, konflik Kashmir, oposisi terhadap Israel, atau aspirasi umat Islam di Pakistan untuk mengislamisasi pendidikan, ke hadapan warga Muhammadiyah di seantero Indonesia.

Dewasa ini, penerjemahan buku asing mengalami renaisans atau kelahiran kembali di Muhammadiyah, ditandai dengan meningkatnya penerjemahan buku dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Suara Muhammadiyah. Temanya tidak hanya soal Muhammadiyah semata, melainkan juga tentang umat Islam Indonesia secara umum. Ini mencakup sejarahnya di masa kolonial, dinamika pemikirannya di masa pascareformasi hingga perihal posisi Islam Indonesia di peta Islam global. Ini mengindikasikan bahwa penerjemahan masih merupakan elemen krusial yang mendapat pengakuan sebagai penopang tradisi literasi berorientasi kemajuan di Muhammadiyah.

*Muhammad Yuanda Zara. Sejarawan

Artikel ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 24 Tahun 2017

Facebook Comments