Penebusan Dosa Para Perantau Ulung


Oleh : Fikri Fadh, Anggota Komunitas Literasi Janasoe

Tahun 2018 ini merupakan tahun keenam saya memutuskan untuk keluar rumah. Jika menamai keputusan saya ini dengan merantau, nampaknya terlalu mewah. Lebih sederhana jika disebut keluar rumah. Kampung halaman saya hanya berjarak 60 km dari tempat saya tinggal saya sekarang. Sedangkan tanah kelahiran lebih jauh, 300 km, atau bisa jadi lebih. Kalah jauh jaraknya jika diukur dengan perantau masyarakat Padang, Sunda atau Madura, mereka adalah perantau ulung bumi Indonesia. Perantau ulung tersebut bisa kita temui di sepanjang jalan, atau sudut-sudut kota yang ada di Indonesia.

Arti dari kata rantau, atau merantau sendiri entah bisa disandingkan dengan hijrah atau tidak. Saya tidak akan membahas makna dari kata-kata tersebut. Tapi jika disandingkan dengan tujuan merantau dengan hijrah, bisa jadi ada kesamaan. Ada persaudaraan makna yang melekat pada diri mereka. Keputusan saya keluar rumah pun jika disebut hijrah juga terlalu religius. Karena di tempat saya tinggal sekarang, saya tidak hanya belajar ilmu agama. Meskipun secara pendidikan formal, saya lulusan kampus Islam dan dari jurusan paling Islami di kampus tersebut.

Di tempat tinggal saya sekarang, sering berseliweran para penjaja kuliner keliling. Mungkin cara itu lebih efisien dan menghemat biaya pemasaran. Tidak perlu membeli atau menyewa tempat untuk men display dagangan mereka. Mungkin sekarang sudah banyak inovasi dengan pemesanan secara online. Namun, berkeliling menjajakan kuliner sudah menjadi bagian dari model marketing abadi dalam masyarakat kita.
Setiap saya hentikan untuk membeli kuliner yang mereka jajakan, pasti saya sempatkan untuk mengobrol, mekipun sebentar. Mendengar dari logat bicaranya, mereka bukan orang Jawa. Yup, mereka adalah bagian perantau ulung yang saya sebut tadi. Sebelum jam enam pagi, ada penjual bubur kacang ijo. Pernah suatu pagi saya membelinya. Ternyata dia orang sunda. Terbukti saat menayakan pakai ketan hitam atau tidak, dia memanggil saya dengan sebutan a’. Jika sore hari, lebih banyak lagi yang berkeliling. Tapi saya jarang membelinya. Tetapi saya tahu, mereka adalah perantauan juga. Tertulis di gerobak yang dibranding, siomay khas Bandung, cilok khas Tasik, Bakso Malang dan berbagai macam bran kuliner yang lain.

Pernah suatu malam, saya mengobrol dengan penjual sate. Dia seorang perantau ulung juga. Sudah bisa kita ketebak dari mana kampung halamannya. “Ya penjual sate darrri Madurrra, meskipun ada yang lain, tapi nga banyak”. Begitu ucapnya, saat tangan kanannya lihai mengoperasikan properti wajib untuk bekerja. Tangan kirinya membolak-balikkan lidi di atas bara api, yang menusuk potongan daging ayam tipis-tipis dan diberi jeda kulit ayam. Usianya 4 tahun lebih muda dari saya. Dia merantau sejak lulus SMP. Tidak melanjutkan SMA, lebih memilih untuk merantau, dan mencari uang. Keputusan mu keluar rumah, saya akui sebagai perantau cak. Tapi pernah suatu sore, saya membeli bakpao. Plat nomer motor yang digunakan adalah motor berplat Temanggung. Kemudia saya sok-sokan memutuskan. “Mas dari Temanggung ya?”. “He he he, bukan de’ saya darrrii Madurraa. Badalah. Orang Madura kok jualan bakpao?. Saya tidak melanjutkan bertaya, hanya tak batin. Apa yang saya batin? Mungkin sama dengan yang anda batin.

Itu hanyalah contoh kecil dari para perantau ulung yang sering menghiasi jalanan komplek tempat saya tinggal sekarang. Belum lagi kalu kita membahas perantau ulung dari Padang. Atau menjamurnya burjonan (jika mahasiswa Jogja paham) yang di sponsori oleh produk mie instan dan kopi sasetan. Mereka adalah para perantau ulung, yang memilih keluar rumah, keluar kampung halaman. Dan menggeluti bidang pengisi perut. Tapi tidak semua masyarakat Padang, Sunda, Madura atau masyarakat perantau lainnya hanya menggeluti bidang isi perut lho ya. Biar seimbang, saya sampaikan sekalian. Prof. Dr. Mahfud M.D. contohnya, beliau orang Madura, mantan ketua Mahkamah Konstutusi, Ahli Hukum Tata Negara. Buya Syafi’i Ma’arif, cendekiawan yang berasal dari Padang. Pak Haedar Nasir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, orang sunda. Beliau-beliau ini juga perantau, hanya beda bidang yang digeluti saja Semoga keputusan kalian wahai perantau ulung untuk keluar rumah dan keluar kampung halaman, terbayarkan dengan apa yang didapatkan di tanah rantau. Aamin.

Lalu, bagaimana saya dihadapan mereka? Dihadapan para perantau ulung yang menahan rindu dengan keluarga, untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah disetiap harinya?. Sudah enam tahun saya memutuskan keluar rumah. Saatnya bertanya. Apa yang sudah saya dapatkan untuk menebus dosa atas keputusan meninggalkan rumah dan kampung halaman? Hal ini menjadi sebuah pengingat diri. Sudah tidak menampakkan wajah dihadapan para tetangga dan keluarga, tentunya harus ada pertanggung jawaban. Minimal kepada kedua orang tua. Harus ada yang saya bawa pulang. Harus ada yang saya bagikan kepada orang tua, keluarga dan tetangga. Apapun itu. Jika berlebih dalam ilmu, akan saya bagikan hal-hal yang mampu. Jika para perantau berlebih dalam harta, infakkan ke Masjid atau TPA di kampung halaman. Tapi tidak harus pulang dalam keadaan wah.

Jika suatu saat saya pulang, entah untuk pulang sementara (mudik) atau selamanya. Saya tentu akan ditagih sebagai penebusan dosa. Kamu di kampus belajar apa saja? Berbeda halnya dengan yang merantau untuk bekerja. Semua perantau tentunya akan ditagih oleh kampung halaman. Baik secara tenaga, fikiran, harta maupun pengalaman. Jika para perantau itu ditagih bersama-sama, bisa jadi akan ada kolaborasi yang indah. Para perantau ilmu seperti saya contohnya. Lha kamu kan mahasiswa, agennya change (angen of change), tentu ada inovasi-inovasi untuk memajukan kampung halaman. Pasti akan ditagih, apapun jurusan atau IPK mu. Para perantau yang bekerja pun akan ditagih. Masjid yang lantainya mau dikeramik, temboknya mau dicat ulang, mau ada acara tujuh belasan, para perantau akan ditagih sumbangsihnya secara harta.

Jika para perantau akan ditagih oleh kampung halaman, tentunya harus menjadi perantau yang ulung. Baik yang merantau untuk menuntut ilmu atau merantau untuk mengumpulkan rupiah-rupiah. Semoga para peranau yang ulung bisa berkolaborasi, sehingga bisa menebus dosa kepada rumah dan kampung halaman yang ditinggalkan dengan sesuatu yang indah. Semoga.