Pendidikan Melek Literasi


Oleh: Roynaldy Saputro, Guru dan Pegiat Literasi

Sebagai seorang pendidik, pasti mengalami proses yang cukup panjang dalam mencapai profesi ini. Waktu belasan tahun, ilmu yang bermacam-macam, dana yang tidak sedikit serta pengorbanan lainnya. Pendidik dididik untuk menjadi seorang yang bisa merubah kondisi manusia dari hal pengetahuan, kemanusiaan hingga keagamaan. Bukan hanya sekedar mengajar, memberi tahu, apalagi sekedar menyampaikan. Seorang pendidik di tuntut untuk menjadi manusia yang ideal dalam hal keteladanan, keluasan berfikir serta jaringan yang banyak. Seorang pendidik disekolah formal disebut dengan guru. Stigma yang berkembang dalam masyarakat, guru adalah seseorang yang digugu lan ditiru. Maka keteladanan guru sering menjadi panutan bagi peserta didik. Akan tetapi beberapa waktu belakangan ini banyak kasus didunia pendidikan, terutama mengenai keteladanan guru. Terakhir adalah berita mengenai kepala sekolah menengah atas yang didemo oleh siswa-siswinya untuk turun jabatan di kota Malang. Alasan demonstrasi itu cukup sederhana karena kepala sekolah tersebut sering berbuat kasar kepada siswa-siswi. Maka dari itu, pendidikan di Indonesia selalu berinovasi untuk meningkatkan mutu pendidikannya apalagi mengenai SDM pendidiknya. Mulai dari segi kurikulum, sarana, anggaran, SDM hingga dalam hal administrasi.

Literasi menjadi gebrakan baru dalam pendidikan Indonesia. Dengan adanya GLS(Gerakan Literasi Sekolah) yang diinisiasi oleh kemendikbud, mengharapkan literasi sekolah dapat berkembang. Hal ini dilakukan karena melihat realita yang cukup mencengangkan dengan literasi di Indonesia. Literasi yang berkaitan dengan menulis, membaca, berdikusi dan mengaplikasikan sangat rendah di kalangan pelajar. Data dari salah satu lembaga dunia OECD, tahun 2012 menyebutkan bahwa kemampuan literasi pelajar Indonesia menempati posisi 67 dari 68 Negara. Ini tentu hal sangat mengkhawatirkan manakala ternyata disetiap pelajaran yang diterima oleh peserta didik sebenarnya mengandung kegiatan literasi. Senada dengan keprihatinan tersebut, mantan menteri pendidikan dan kebudayaan yang sekarang menjadi gubernur DKI Jakarta dalam sebuah kesempatan menyebutkan bahwa Literasi adalah bagian perkembangan zaman. Seiring dengan itu tauladan kita Buya Syafi’i ma’arif menyebutkan bahwa politisi kita kurang mengenali sejarah bangsanya sendiri. Menurut saya buya berkomentar seperti itu karena memang rendahnya minat mengkaji sejarah dengan membaca buku-buku sejarah.

Pendidik dan Literasi
Pendidik dalam mencapai profesi nya pasti mengalami proses literasi. Hampir semua profesi mengalami proses literasi. Tapi kebanyakan setelah berproses literasi di lembaga pendidikan tinggi, seringkali tidak teraplikasikan dengan baik ketika di masyarakat. Berbagai kendala dihadapi, mulai dari kekurangan referensi literasi bidang keilmuannya, rutinitas yang padat hingga tuntutan materil yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang pendidik. Padahal ketika kemampuan literasi pendidik dapat di aplikasikan dengan baik, maka suatu keuntungan sendiri bagi dinamika pembelajaran di sekolahnya. Salah satu yang bisa saya contohkan adalah SMP Mutual Kota Magelang. Disekolah tersebut terbit majalah yang dikelola oleh guru-guru disana. Semua guru menulis, entah itu berita, resensi buku, puisi, dan informasi-informasi yang lain. Tidak hanya itu siswa-siswinya pun mengenal budaya literasi dengan banyak membaca dan menulis. Salah satu contoh yang saya ambil adalah MTs Muhammadiyah Al-Mukmin Tembarak Temanggung. Salah satu muridnya sering menulis puisi, dan oleh kepala sekolah puisi karya anak tersebut di bukukan dan dibagikan kepada wali murid ketika acara perpisahan. Saya fikir orang tua murid tersebut pasti bangga melihat putra/putrinya sudah bisa berkarya melalu media buku.

Refleksi
Begitu pentingnya literasi dalam dunia pendidikan. Sekarang hampir tak tersentuh oleh sekolah-sekolah yang ada di Indonesia. Perkembangan perpustakan di dalam sekolah jarang berkembang, jarang mempunyai inovasi untuk menarik murid keperpustakaan. Dengan stagnannya perkembangan perpustakaan sebagai salah satu ruang literasi di lembaga formal. Mengakibatkan banyak aktivis sosial membuat perpustakaan jalanan, atau rumah baca yang sekarang ini banyak berkembang. Hal ini dikarenakan banyaknya literatur data atau survei tentang lemahnya literasi atau budaya membaca masyarakat Indonesia. Sekarang tidak hanya murid yang sedang digiatkan perihal literasi, akan tetapi masyarakat juga sedang digiatkan tentang literasinya. Banyak kawan-kawan saya membawa buku ke pinggir jalan, ke dalam lapas, mengabdikan rumahnya sebagai perpustakaan, membawa buku dengan sepeda, gerobak, becak, angkutan, motor dan masih banyak lagi. Tidak hanya kegiatan membaca disana akan tetapi kajian-kajian mingguan, bulanan juga di adakan. Mereka juga produktif dalam menulis, meresensi dan berkarya melalui seni visual.

Marilah kita sebagai pendidik meningkatkan kemampuan literasi kita. Karena dengan berliterasi kita akan mendapatkan inovasi-inovasi dalam dunia pendidikan. Membuat literasi menyenangkan tidak hanya monoton. Kita bisa menumbuhkan kegiatan literasi mulai dari mengundang jurnalistik, mengundang komunitas baca, mengadakan ekstra jurnalistik, hingga berkomitmen membuat produk literatur bagi sekolah. Semuanya indah dengan literasi, apalagi kalau kita bisa mengkontekskan dengan mata pelajaran yang kita ampu. Tidak ada tokoh hebat karena dia tidak berliterasi. Agus Salim dia belajar otodidak dengan berliterasi yaitu dengan membaca, menulis dan berdiskusi. Dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya. Dari literasi pula kita akan tahu sejarah bangsa kita. Selanjutnya saya mengutip perkataan Pramodya ananta toer “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama dia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *