Pendidikan Dan Masa Depan Keluarga


Oleh : Arif Yudistira*)

Pendidikan memiliki pengaruh penting tak hanya di masa sekarang, tapi juga di masa mendatang. Anak memiliki memori kuat untuk menyimpan apa yang mereka alami saat ini hingga ke masa dewasa. Memori ini sedikit banyak ikut mempengaruhi sikap dan karakter mereka di masa mendatang. Bila anak dididik dengan kasih sayang, maka ia pun akan menorehkan kasih sayang pula kepada anak-anaknya kelak.
Ada siklus berantai antara sesuatu yang terjadi di masa kecil yang berulang ketika mereka (anak-anak) kelak menjadi orangtua. Cara kita mendidik anak, cara kita memberikan pengaruh pada anak, sedikit banyak akan ditiru oleh anak kita dalam mendidik mereka. Orangtua yang pandai memasak, akan melahirkan pula anak yang pandai memasak. Seorang seniman, akan melahirkan pula seniman baru dimasa mendatang. Itulah mengapa kita tak asing dengan peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Ada faktor lain yang bisa merubah kebiasaan cara mendidik orangtua kita hari ini dengan cara mendidik anak-anak kita kelak di masa mendatang. Faktor itu adalah pendidikan. Pendidikan ikut serta memberikan pengaruh dan sumbangsih besar terhadap pola perilaku, kebiasaan dan cara mendidik anak-anak kita selain lingkungan.
Semakin kita mencapai pendidikan tinggi, makin luas pula pandangan dalam mendidik anak-anak kita. Mereka bisa memperoleh informasi, pengetahuan tentang parenting dari buku, talkshow, menghadiri seminar, hingga media sosial dan internet. Semua itu memberikan dampak dalam mendidik anak-anak kita kelak. Makin berpendidikan dan makin luas pandangan orangtua, anak akan mendapatkan pendidikan memadai dari orangtua mereka.
Hubungan antara pendidikan orangtua dan cara mendidiknya ini bisa kita lihat dalam kasus yang terjadi di negeri kita. Di Cirebon (Kompas, Sabtu,6/1/18) seorang bapak tega meracuni anaknya yang masih balita dengan racun tikus. Ayahnya hanya pekerja buruh, istrinya merantau di batam. Kasus terjadi karena Ayah mengancam istrinya untuk mengirim uang tapi tak dipenuhi.
Di Surabaya, (Kompas, Kamis, 11/1/2018) seorang Ayah yang dititipi istrinya saat bekerja tega membunuh balita anaknya sendiri dengan membenturkan kepala anakanya ke tembok. Sang Ayah bekerja sebagai pengamen. Istrinya buruh serabutan. Karena tak bisa membuat anaknya berhenti menangis, bahkan tulang rusuk kiri sang anak pun tega dipukulnya hingga patah.
Dua berita ini adalah contoh dari rendahnya pendidikan ikut memberikan pengaruh terhadap pola asuh. Orangtua memang memerlukan pendidikan tentang pola asuh anak yang benar. Ia tak sekadar senang dengan hadirnya anak, tapi juga merawat, mendidik dan membesarkan anak mereka dengan baik.
Pendidikan ikut serta memberikan pengaruh yang lebih baik kepada cara mendidik anak-anak kita di masa mendatang. Apalagi di era sekarang, saat kebijaksanaan dan khazanah kultural semakin ditinggalkan, saat mitologi dan kesederhanaan makin dianggap kuno. Orang kemudian hanya berpegang pada teknologi dan pola asuh modern. Di era modern seperti sekarang, yang sering diberi mandat untuk mendidik anak tak lagi orangtua tapi mulai beralih pada lembaga pendidikan.
Memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anak kita sekarang, serta memberikan edukasi terhadap cara mendidik anak yang diwariskan dari orangtua kita adalah bagian dari memadukan metode pendidikan lama dengan yang baru.
Bagi orangtua yang berpendidikan rendah, pemerintah, maupun lembaga sosial bisa memberikan edukasi kepada mereka tentang pola pengasuhan yang baik. Sehingga mereka tak buru-buru melakukan kekerasan seksual pada anak-anak mereka.
Bila jumlah remaja yang menikah dini lebih banyak tanpa bekal pengetahuan yang cukup, tentu saja akan rentan terhadap masa depan anak-anak kita. Banyaknya kekerasan pada anak di Indonesia sebagian besar diakibatkan oleh kurangnya edukasi tentang cara pengasuhan anak.
Mereka, orangtua yang kurang memiliki bekal pengetahuan yang cukup mudah dalam melakukan kekerasan karena terhimpit keuangan, persoalan internal, sehingga mereka mudah sekali menyiksa bahkan membunuh anak mereka sendiri.
Rantai kekerasan terhadap anak bisa diputus dengan memberikan lebih banyak pendidikan tentang pola asuh yang benar sehingga makin banyak orangtua sadar akan peranannya dalam mendidik anak mereka dengan penuh kasih sayang dan cinta.

*) Peminat Dunia Pendidikan dan Anak, Kepala Sekolah SMK KESEHATAN CITRA MEDIKA SUKOHARJO
*)Tulisan dimuat di Majalah Nur Hidayah bulan ini.