PELAYANAN PRIMA MENGAJI, MUNGKINKAH?


Oleh: Sri Lestari Linawati
Dosen Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta

Sewaktu kecil diajak Ibu sowan Simbah, yang jaraknya sekitar 30 km dari rumah kami, waktu itu kami naik colt. Kendaraan umum yang berdesak-desakan penumpangnya. Berpeluh-peluh adalah hal biasa. Berapa lama sampainya, juga tidak dihitung. Yang penting kami bisa sampai di rumah Simbah, silaturrahmi, sudah. Kadang saya ditinggal di rumah Simbah untuk menginap dan saya akan bersenang-senang di rumah saudara-saudara di sana. Membantu Simbah mencarikan rumput untuk kambing-kambing yang ada di kandang, membungkus kedele untuk dijadikan tempe daun, ikut jualan di gudang, atau membantu Simbah yang lain melayani pembeli di warung kelontongnya, atau ke rumah Simbah yang lain lagi untuk memanen lombok atau kacang panjang di kebun miliknya.

Namun jaman telah berubah. Waktu sangat diperhitungkan dan seluruh unsur kehidupan memaksa kita untuk berlari, cepat dan kencang. Waktu dan mutu menjadi pokok perhatian. Muncullah dalam dunia transportasi, layanan-layanan yang memberikan kenyamanan yang lebih kepada pelanggannya. ”Sesaat lagi kita akan tiba di halte xxx. Kepada Anda dengan tujuan yyy, zzz dan kkk mohon bersiap untuk turun” begitu aba-aba yang kita dengar dari kondektur yang mengenakan baju rapi, bermotif dan harum sambil melayangkan senyum. Naik kereta api pun sekarang juga demikian. Sebelum tiba di sebuah stasiun tertentu, akan terdengar pemberitahuan dan disampaikan dalam dua bahasa.

Kisah di atas adalah sekelumit contoh pelayanan prima di bidang transportasi. Pengelola transportasi berusaha memperbaiki sistem dan manajemen, sehingga pelanggan dapat menikmati perjalanan dengan nyaman dan harga terjangkau.

Dalam layanana kesehatan pun demikian. Dulu, pasien hanya menjawab apa yang ditanyakan dokter. Secukupnya saja. Apa yang dikeluhkan? Setelah mendengar jawaban pasien, dokter segera menulis resep, menyerahkannya pada pasien dan pasien segera keluar ruangan, menuju apotek. Kebetulan rumah saya di belakang sebuah rumah sakit terbesar kedua di Jawa Timur. Saya sangat menikmati keadaan itu. Awalnya saya diantar Ibu bila periksa ke rumah sakit. Entah bagaimana keadaannya, akhirnya saya terbiasa periksa sendiri ke rumah sakit bila saya harus periksa. ”Yach… kalau Cuma menjawab gitu sih bisa saja,” fikirku. Maka, saya pun tak pernah menanyakan apapun. Saya cukup percaya bahwa dokter mengobati orang sakit, sudah. Hingga saya hamil anak-anak kami, saya hanya modal percaya bahwa bu bidan adalah ahli menolong persalinan saya. Saya pun tidak bertanya lainnya.

Sekarang saya baru tahu bahwa pasien pun memiliki hak pasien. Pasien berhak mengetahui penyakit yang diderita, berhak mengetahui obat yang diminumnya, boleh juga pasien menyampaikan ketakutan yang dirasakannya dan berhak pula menanyakan pada dokter, bidan atau perawat yang menanganinya tentang tindakan yang akan dilakukan padanya. Subhanallah, ini kan kemajuan luar biasa. Saya, tentu saja, menyambut baik perkembangan ini. Dengan itu saya merasakan bahwa kita berhak dan bertanggung jawab atas badan dan tubuh kita sendiri. Ini kan kemerdekaan yang sesungguhnya. Bahwa Tuhan Allah benar-benar menciptakan manusia tidak sia-sia. Bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam. Bahwa kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perbuatan kita.

Setidaknya dari dua fenomena di atas, saya sedang memikirkan pelayanan prima dalam hal mengaji, membaca Al-Qur’an. Dulu sewaktu saya mengaji, saya dikirim Ibu ke seorang kiai di kampung. Kepada beliaulah kami harus belajar membaca Al-Qur’an. Waktu itu sih saya senang-senang saja. Berangkat habis dhuhur, menyusuri rel kereta api bersama kakak perempuan saya yang selisih 2 tahun usianya, datang ya menyapu masjid dulu, sempat bercengkrama dengan teman-teman, kadang bu nyai mengeluarkan kacang godhog untuk kami makan bersama, kami bersihkan kembali, berwudlu dan siap mengaji. Saat pak kyai sudah hadir, kami sudah dalam posisi duduk melingkar siap menyimak pelajaran. Satu persatu kami membacakan Al-Qur’an, kyai akan membenarkan bacaan bila ada kesalahan. Kami semua yang ada dalam lingkaran itu, ikut menyimak bacaan teman. Kyai tidak perlu menyuruh kami diam karena setiap kami butuh mendengarkan koreksian yang disampaikan kyai. Begitulah cara belajar kami saat itu.

Kini jaman telah berubah. Entah siapa sebenarnya yang utama harus bertanggung jawab terhadap hal ini. Yang jelas, saya sudah menghabiskan waktu saya selama ini untuk coba memahami keadaan dan mencoba ikut berperan dalam perubahan itu. Mengaji di masjid dan mushalla, anak-anak enggan, gurunya pun mulai jarang yang mau turun lapangan. Alasannya klasik: tidak dibayar. Bagi saya pribadi yang praktisi, bukan itu persoalannya.

Mengaji di sekolah negeri, alasan klasiknya: jam agama terbatas. Bagi saya yang praktisi, bukan itu persoalannya. Mengaji di sekolah Muhammadiyah, saya kira juga mengalami persoalan serupa. Mengaji mempersiapkan lulusannya berakhlakul karimah, diasramakan, ada pembinaan, ada kuliah keislaman, ada perkaderan, ada ujian akhir kompetensi keislaman, kok bacaan Al-Qur’an belum kelar juga? Saya praktisi. Saya sedang memikirkannya.

Saya hanya tahu bahwa Islam membenarkan ”berlomba – lomba dalam kebaikan”. Pelayanan prima itu adalah perbaikan sistem dan mutu layanan, agar pelanggan merasa nyaman dan tercerahkan. Perwujudan persaingan atau berlomba dalam kebaikan itu dapat berupa pemberian mutu barang atau jasa lebih baik, pelayanan kepada pelanggan yang lebih ramah dan mudah, pelayanan purna jual yang lebih terjamin.

Ada banyak metode cepat belajar membaca Al-Qur’an. Saya kira, tidak perlu dipertentangkan metode satu dengan metode lainnya. Toh penemunya dulu ketika memikirkan hal itu, beliau-beliau tidak sedang berlawanan dan bermusuhan. Yang saya yakini, beliau-beliau menemukan ide itu karena keinginannya untuk membantu mereka-mereka yang sangat membutuhkan. Itu saja. Dan setiap metode akan menemukan pembacanya, pelanggannya. Permasalahannya kini, adakah kesediaan kita untuk duduk satu meja membicarakan bersama, perbaikan mutu semacam apa yang hendak kita berikan kepada pelanggan. Bagaimanakah metode cepat membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan kita para pengelola, dengan ketersediaan dana yang kita miliki dan ketersediaan sumber daya manusia yang ada? Nashrun minallah wa fathun qarib.[]