Pelajar 4.0, Ramalan-Ramalan Post-Wacana dan Gelombang Kesadaran Bertindak Benar


David Efendi
Ketua Serikat Taman Pustaka |pustakamu.id |@pekerjaliterasi

Genderang perang revolusi Industri sudah bergaung, ekspansi ultra kapitalisme dan liberalisme yang membonceng revolusi industri generasi empat (4.0) menjadi kekuatan adi-manusiawi yang tak dapat dibendung-bendung atau dicegah-cegah. Semua bertempur, semua melawan semua sebagaimana postulat Thomas Hobbes—di era banjir informasi + disrupsi, hukum berkomunikasi menjadi musnah, orderless, lawless, truthless, dan satu-satunya yang dianggap berharga adalah seberapa kemampuan menjaul data yang dapat dijadikan symbol kekuasaan kapital. Kebenaran, doktrin negara, dan mahkluk bernama negara atau identitas nasionalisme menjadi arfefak sejarah orang-orang yang hidup di 4.0 ini.

Masyarakat wacana sebagai praktik dealektika filsafat dan kebenaran berakhir tepat pada kemunculan gelombang baru Internet of Thing. Ekspansi atau inovasi apa pun harus diikuti dengan penguasaan terhadap sumber-sumber daya yang terbatas. Tak ada inovasi tanpa capaian ‘kapital’ sehingga masyarakat bergerak menjadi masyarakat yang ultra kapitalistik, sekaligus era bergantinya agama-agama langit sebagai praktik ritual privat menjadi agama-agama baru yang saban hari ditinggalkan dan saban hari dimasuki.

Kesulitan yang teramat berat adalah bahwa konsumsi digital itu segmented berbasis Usia. Ada benarnya ada tidak, tetapi banyak tidaknya sebab keberadaan open akses dan terbukanya platform sosial media menjadikan siapa saja dapat berperan seperti siapa saja yang dikehendaki. Bukan hanya kepribadian double atau triple, bahkan kepribadian dan kekayaan intelektual sebagai software yang bisa diinstall dan uninstall kapan maunya dilakukan. Artificial intelligence menjadikan ‘segala yang tak mungkin menjadi mungkin, dan semua yang pasti menjadi tak pasti di hadapan pengadilan disrupsi (disruption). Dalam kontek disrupsi, urusan manusia dapat ditandai dengan setidaknya tiga hal on deman service, immediacy, dan disitermediasi dan juga sebagai penyempurnaan dari variable utama revolusi indurti 4.0 itu sendiri yaitu ditandai dengan digitization, computing power, data anaytis.

Demikian kompleksitas manusia menjadikan isu-isu kelas dunia apakah terdistrsbusikan secara merata di dunia manusia? Keragaman Bahasa serta kepemilikian capital dan sumber daya manusia memaksa orang-orang ntuk mengerem perilaku berhulu rusak super dahsyat. Karena tulisan ini akan memantik diskusi, maka saya usahakan membuat lembaran tulisan untuk mengeksplorasi wacana lama atau baru, identifikasi ramalan=ramalan beserta ketakutan/ancaman, dana pa agenda global untuk mengutamakan manusia di tengah tragedy kerusakan keberadaban manusia saat ini. Setidaknya ada empat isu atau wacana yang dapat dianalisis secara mendalam terkait hubungannya dengan dunia milenial atau kepelajaran/pelajar milenial. Pertama, wacana-wacana dan ramalan tentang agama sebagai sumber konflik dan sumber dialog. Agama dan politik serta pasar yang telah menjadi komuditas hidup di berbagai belahan bumi laiknya setali tiga uang. Proses sekularisasi dalam beberapa hal tak terlalu berhasil dalam konteks Islam, sebagai contoh yang debatable. Kedua, kesediaan membangun alat perdamaian dan praktik hidup di tengah masyarakat majemuk. Ketiga, isu-isu ekologi yang dapat dipayungi dengan populernya gerakan lintas negara untuk mengantisipasi dampak buruk bagi kehdiupan dan keamanan manusia (antroposentris). Ada juga yang menjadikan isu keamanan ekologi sebagai program prioritas—walau dengan beragam kendala soal ambisi dan egoisme kelas negara maju. Ada yang merasa hebat di dalam perjanjian dan kurang ‘dialogis’. Superioritas negara adidaya (Amerika dan sekutu) yang juga menyebabkan ketegangan politik ekologi berkepanjangan. Keempat, pembangunan literasi di era revolusi industri 4.0.

Agama sebagai komoditas isu glokal

Agama bukan hanya bahan bakar isu lokal tapi juga global. Situasi kausalitas ini disebut dengan glokal (global dan lokal). Lokalitas dapat menjadi isu global dan sebaliknya. Ada rezim penguasa Informasi yang manjadi determinan bagaimana isu bekerja: eskalasi dan daya viral yang terjadi.

Agama/politik menjadi isu asimetrik yang menjadi arus besar anti kebenaran. Sentimen agama sebagai tindakan rasional yang kemudian menjadi medan perang netizen dan di banyak situasi telah memicu perang kenyataan.

Dalam hal perang informasi agama juga sering diperalat sebagai sumber persoalan atau modal rekonsiliasi, yang berefek simpati dan atau anti pati. Dengan pemahaman dan waktu terbatas pula agama diposisikan bluur alias abu abu untuk kepentingan pemenangan wacana. Agama didefinisikan secara relatif, dikonflikkan dengan ambisi material tanpa pernah usai. Inilah penyebab lunturnya otoritas teologi dan legitimasi kebenaran. Tak ada kejatuhan peradaban paling buruk ketimbang merosotnya nilai kebenaran yang diikuti musnahnya iman terhadap pengetahuan scientifik (natural dan sosial science). Jelaslah, ini menjadi musabab tercerainya hati dan akal, agama dan pengetahuan. Agama tanpa ilmu dan ilmu tanpa agama sebagai masyarakat tanpa peradaban?atau peradaban yang pincang dan buta.

Hebatnya persekusi terhadap agama, kebenaran, dan pengetahuan obyektif adalah karnafal penghancuran sehari hari, banalitas yang diimani oleh banyak orang baik di dunia online ataupun offline, di dunia realitas dan hiperealitas. Satu kisah panjang penistaan iman yang dilumrahkan. Anak anak muda bagian besar dari situasi ini, dan sebagian justru hijrah memperkuat keberagamaan yang compang camping, doyong doyong. Muslim mileneal yang sadar akan malapateka isu isu global yang bersekongkol dengan disrupsi informasi dan degitimasi di beragam bidang kehidupan.

Wacana wacana anti kebenaran luas diobrolkan dan diviralkan di sosial media seperti hak asasi manusia dinodai agama, islamophobia, islam yang anti demokrasi, agama yang anti pengetahuan, doktrin, instabilitas dunia islam, syiah versus suni, iran vs sekutu Amerika, Israil dan palestina, minoritas, dan juga sampai persoalan poligami, politik, kekerasan terhadap perempuan, dan sebagainya. Banyak dentuman isu itu mengarah pada pelemahan agama tertentu dan menancapkan tiyang superioritas negara/agama atas agama lainnya. Berkelindan isu ini dengan upaya berebut monopoli kuasa kapital. Negara mayoritas islam di negara yang ekonomi babak belur menderita kerusakan dan derita paling parah di tengah rezim informasi 4.0.

perdamaian dan anti perdamaian

Banyak yang cinta damai, tapi perang juga terus tak ada henti. Banyak orang menyukai dialog, tetapi yang anti dialog juga banyak. Negara adikuasa, kalau mau dialog maunya menang dan menguntungkan pihaknya. Itu selalu terjadi.

Agenda perdamaian yang dipamerkan para bromocora politik global seperti elite elite negara Barat dan sekutu, amerika dan true believersnya terbukti tak efektif dan kontraproduktif. Kanal kanal berita yang obyektif sirna dan diganti dengan fatamorgana isu dan visualisasi yang disinformasi. Bangsa bangsa dan manusia yang berhasrat menyimak kebenaran tak kuasa mendapatinya. Sangat buram memang, janji janji perdamaian dibajak oleh viralitas informasi anti kebenaran. Derita negara seperti palestina ditutupi dengan terorisme global, kejahatan HAM, nuklir Iran, dan ancaman rezim anti demokrasi yang nyaris ini adalah propaganda negara adikuasa yang ultra chauvimisme.

Kaum muda seperti pelajar dan generasi now paling banyak menderita akibat kebobrokan rezim perdamaian semu di dunia global ini. Kaum muda dan pelajar juga paling dirugikan dari ekspansi budaya pop, konsumtifisme, pergaulan bebas, akses pengetahuan neolib, dan masih banyak lagi. Kenyataanya, Revolusi industri informasi 4.0 jelas bukan hanya meminggirkan makna kebenaran dan perdamaian, tetapi juga membunuh banyak masa depan dan harapan kaum terpelajar yang masih belia. Semua ini harus dapat diatasi dengan seksama dan serius.

menyelamatkan ekologi

Keselamatan ekologi atau lingkungan hidup adalah keselamatan ummat manusia, makluk hidup dan ekosistem Kehidupannya. Tanpa ekologi yang aman bagi kehidupan, tak ada kehidupan yang adil dan beradab.

Global warming dan perubahan iklim adalah isu global yang sangat diketahui banyak orang. Namun, ada kesulitan tersendiri bagi banyak orang di negara negara di bawah angin untuk mengidentifikasi masalah masalah aktual dan lokal terkait perubahan iklim. Bahkan, banyak yang abai dan menganggap perubahan iklim sebagai sesuatu yang jauh dan bukan sekarang. Saya akan beri beberapa situasi di perkotaan dan banyak sudut Indonesia yang sedang terancam keamanan ekologinya tetapi banyak orang berpengalaman dan berpengetahuan masih gagal paham.

Problem ekologi jangan juga hanya menjadi ketakutan negara maju lalu memaksa negara miskin melakukan hal hal yang ditujukan untuk keamanan ekologi global sementara eksploitasi ekonomi dan kesejahteraan sungguh timpang. Negara industri memiliki daya rusak terbesar, namun kontribusi penyelamatan lingkungan hidup ala kadarnya. Di sinilah agenda dialog dan kebersamaan mewujudkan kedaulatan lingkungan serasa tak adil dan penuh kekonyolan.

Dengan smartphone banyak hal bisa diupayakan generasi 4.0. Duta duta ekologi dari kaum milenial sebagai keniscayaan, suara suaranya yang poliponik harus viral untuk menunjukkan bahwa alam raya adalah amanah bukan arena senggama kapitalisme yang merusak apa saja. Sungguhlah, kapitalisme itu seperti sentuhan raja Midas dalam versi lainnya: apa yang dijamah ekonomi kapitalistik akan hancur lebur termasuk planet dan apa apa yang jadi isinya. Makanya, kaum pelajar dan gerakan anti penghancuran ekologi haruslah menjadi gelombang lintas negara untuk menanggulangi ambisi pertumbuhan yang anti keseimbangan ekologi.

pembangunan semesta literasi

Tak dapat disangkal lagi bahwa pengetahuan yang mendalam, diinternalisasi dalam habitus learning society, atau lembaga pendidikan adalah kunci sekaligus pusaka peradaban manusia. Dari situlah proses pencarian kebenaran, inspirasi bertindak benar, dan dialektika kehidupan dapat disemai, dibentuk, diciptakan dalam kekuatan akal-nurani yang saling kompatibel. Instalasi akal waras hanya bisa dipahat melalaui tradisi logika, penalaran dan sistematika berfikir yang integralistik. Tak ada cara lebih hebat mencegah kehancuran total peradaban manusia selain dengan pembangunan literasi pengetahuan, yaityu upaya keras kepala menjadikan pengetahuan sebagai kompas, menjadikan setiap pikiran tindakan dibina dan dipandu oleh pengetahuan. Dan jika iman seseorang dapat lebih mengarahkan keberpihakan seseorang untuk berbuat,berkata dan berani bertindak benar maka itu adalah keimanan dan keberagamaan yang patut diapresiasi.

Agama dan perilaku orang beriman yang mencerminkan karakter damai, adil, berilmu, dan berpihak pada apapun upaya memperbaiki dan mempertahankan ekosistem kehidupan seluruh alam raya adalah agama yang benar. Sebaliknya, agama yang memberontak kebenaran dan akal sehat serta kebaikan ekosistem hidup jagad raya adalah agama yang layak ditinggalkan.

Pelajar dengan kecerdasan jamak dan kekuatan digital informasi pasti bisa berfikir, berbicara, bertindak yang pro terhadap kehidupan dan kebenaran, bukan sebaliknya. Bravo pelajar, pembelajar, bravo pengetahuan, dan jayalah gerakan literasi se jagat raya. Dengan jalan itulah, upaya hidup dan prosesi mati akan mulia bersama peran peran pemuliaan pengetahuan. Wallahu ‘alam

Pesisir Barat Lampung, 6 Juli 2018


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *