Pegiat Literasi Tidak Mati, Tapi Berlipat Ganda


Oleh : Fikri Fadh*
Deskripsi buku
Judul : The Spirit Of Dauzan (Gagasan dan Aksi Pegiat Literasi Muhammadiyah)
Penulis : Anggota Serikat Taman Pustaka
Editor : David Efendi, Arief Budiman Ch.
Penerbit : Titah Surga dan Serikat Taman Pustaka
Jumlah halaman : 356
Cetakan   : I/ Mei 2018
ISBN : 978-602-4981-24-2
Saya membaca buku ini tidak sekali duduk. Membaca pelan setiap judul dan bab. Membayangkan bagaimana rasanya menjadi pegiat literasi. Menulis resensinya pun, saya tidak mau sembarangan. Ini berurusan dengan puluhan kepala yang gotong-royong menulis. Berbeda halnya dengan meresensi buku penulis tunggal. Buku gotong-royong (baca : antologi) lebih berwarna bahasanya, isinya dan tidak terduga apa kita dapatkan saat membacanya.
“Isi celana memang itu-itu saja. Tapi isi kepala, ada-ada saja.” Entah itu kalimat siapa. Yang jelas isi kepala pegiat literasi pasti ada-ada saja. Kreatif, penuh kisah, penuh ide dan penuh harapan untuk masa depan.
Menemukan Data Sederhana
Menurut catatan saya, terdapat 60 penulis. Dari jumlah tersebut, 50 orang laki-laki, dan 10 orang perempuan. Kenapa saya menggunakan pembagian gender dalam mengklasifikasi? Alasan sederhananya adalah, saya ingin mengetahui, berapa perempuan pegiat literasi dan berapa yang menulis.
Saya selalu mendorong perempuan pegiat literasi untuk menulis. Ini adalah penilaian rasa. Perempuan yang menulis, biasanya menggunakan hati. Saya menyarankan, jika membaca tulisan perempuan, siapkan hatimu. Siapkan juga jiwamu. Perempuan yang diam saja, bisa bikin laki-laki bingung. Apalagi perempuan yang menulis. Wahai laki-laki, siapkan hatimu.
Kita sudahi soal hati. Kita kembali ke buku ini. Jika dilihat dari kota asal pegiat literasi yang menulis dalam antologi ini, berasal dari 21 kabupaten/kota. Dominan masih dari Yogyakarta (mencakup 4 kabupaten dan 1 kota). Tapi begini, dari 19 tulisan pegiat literasi dari Yogyakarta, tidak semuanya orang Yogya. Di Yogya mereka adalah perantau ulung, yang menebus rindu dengan kampung halaman melalui tulisan.
Saya tidak bermaksud dikotomi daerah lho ya. . . Tapi ini menjadi data penting, tentang pesebaran pegiat literasi yang menulis. Dari klasifikasi sederhana tersebut, bisa menjadi acuan dalam membuat agenda kegiatan literasi. Selain membaca dan mengurus rumah baca, alangkah baiknya, pegiat literasi mengabadikan perjuangannya dalam tulisan. Untuk foto sambil bergaya jari huruf “L”, biar jadi lampirannya.
Tentang Buku The Spirit Of Dauzan
Buku ini terbagi menjadi empat bab ditambah satu epilog. Diawali dari prolog pada bab pertama. Dalam bab dua, kumpulan tulisan cerita pegiat literasi. Kemudian gagasan-gagasan pada bab selanjutnya. Soal gagasan saya tidak mau membahasnya. Tapi untuk bab kedua, yang berisi tentang aksi-aksi nyata para pegiat literasi, membuat saya berkaca-kaca dalam membacanya.
Cerita tentang pegiat literasi begitu berwarna. Ada yang dari Solo, Yogya, Tegal, Metro Lampung, Jember, Boyolali, Lamongan, Malang, Surabaya, Ponorogo, Depok, Bogor, Tulung Agung, Gresik, Bandung, Banjarnegara, Purwokerto, Wonosobo. Hingga daerah yang tidak saya duga. Polewali Mandar. Merinding saya bacanya.
Hal itu membuktikan, bahwa dimanapun dan siapapun bisa menjadi pegiat literasi, yang menulis. Tentang siapa Mbah Dauzan Farouk, sudah ada dalam buku ini. Ayo beli, dan jadi pegiat literasi.
“. . . siapa saja dapat menjadi penggerak literasi.”
—————————————————————————-
*Esais Muhammadiyah, Founder Komunitas Literasi Janasoe

1 Comment

Leave a Reply to NURKHALISA AGUSTIN Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *