5 menit waktu baca

Pandemi dan Kesadaran Kritis di Era Post Realitas (Bagian 2)

Oleh: Agusliadi

Pada tulisan bagian 1, telah sampai pada pembahasan bagaimana menumbuhkan kesadaran kritis ditumbuhkan. Dan pada bagian kedua ini fokus bagaimana kesadaran kritis tersebut dikontekstualisasikan.

Sebagaimana judul tulisan ini, atau tema diskusi online tersebut kesadaran kritis yang yang tumbuh atau telah tumbuh dalam diri mahasiswa dikontekstualisasikan dalam dua konteks. Kontes pertama yaitu era post realitas dan konteks kedua yaitu di tengah menghadapi pandemi covid-19 ini.

Untuk mengkontesktualisasikan dalam post realitas maka yang perlu dipahami terlebih dahulu adalah apa yang disebut dengan post realitas. Secara sederhana post realitas adalah sesuatu yang melampaui (post) realitas yang sesungguhnya. Memahami perspektif Yasraf Amir Piliang dalam beberapa karyanya post realitas ini bisa bermuara pada dua hal yang disebut simulacra dan hyperrealitas.

Sebelumnya menjelas lebih dalam tentang simulacra dan hyperrealitas alangkah baiknya ketika kita berupaya memahami terlebih dahulu tentang situasi dan kondisi dan pandangan yang menjadi spirit dan prakondisi sehingga keduanya lahir menjadi spektrum kehidupan

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi mutakhir telah menggiring suatu kondisi kehidupan ke apa yang disebut dengan revolusi industri 4.0 dengan berbagai pilarnya, diantaranya: artificial intellegent (kecerdasan buatan), big data, algoritma dan Internet of Things (IoT) yang merupkan high-tech.

Selain daripada itu perkembangan ini, revolusi industri 4.0 yang dalam pandangan Yasraf Amir Piliang menyebutnya pasca industri, telah menjadi sebuah keniscayaan bahwa ruang dan waktu lebh banyak ditaklukkan melalui kekuatan elektromagnetik atau perangkat digital. Dan ini pula telah menggeser atau melakukan transformasi kehidupan dari kehidupan ekspansif ke kehidupan inersia.

Kehidupan ekspansif secara sederhana bisa dipahami suatu kondisi kehidupan yang dalam memperoleh informasi terutama untuk mengkonfirmasi kebenaran informasi merujuk langsung kepada sumber yang valid atau berupaya mencari tahu dimana tempat kejadian perkaranya (TKP). Sedangkan kehidupan inersia, dimaan diri bagaikan pusat orbit yang dikelilingi jagat informasi, dalam mencari atau menemukan kebenarannya informasi tidak langsung mendatangi TKP tetapi hanya bermodalkan informasi lain yang juga beredar yang belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Baca juga:  Demokratisasi Air: Paradigma Ekologis Air untuk Semua

Di tengah perkembangan kehidupan dan wacana politik ekonomi kapitalisme globa hari ini, terjadi perubahan tanpa kecuali perubahan sosial yang menyertai kemajuan ekonomi. Tanpa kecuali dalam relasi konsumsi terjadi perkembangan berbagai gaya hidup sebagai fungsi dari differensiasi sosial. Tanpa kecuali dewasa ini konsumerisme mendominasi sikap dan perilaku kehidupan kita.

Konsumerisme secara sederhana dipahami bahwa yang dikonsumsi tidak lagi sekedar objek, tetapi juga makna –makna sosial yang tersembunyi dibaliknya. Konsumerisme menyamakan realitas dengan tanda –tanda dan membentuk sebuah mindset lebih baik kemasan daripada isi.

Dalam relasi kekuasaan, tidak lagi hanya menggunakan logika pengetahuan sebagai yang disampaikan oleh Michael Foucault dengan knowledge/power tetapi termasuk logika kecepatan seperti yang disampaikan oleh Virilio speed/power. Minimal beberapa kondisi dan pandangan di atas yang menjadi spirit dan prakondisi lahirnya simulacra dan hyperrealitas yang dalam pandangannya merupakan muara atau dua cabang dari kondisi yang disebut post (melampaui) realitas.

Simulacra atau pemahaman dasarnya dari kata simulasi adalah sebuah hasil rekayasa teknologi mutakhir yang mendesain sebuah representasi realitas yang hampir sama dengan realitas sesungguhnya dan bahkan seringkali representasi ini yang dinilai sebagai realitas sesungguhnya. Simulacra sesungguhnya adalah realitas/dunia yang tidak asli/palsu.

Dalam kehidupan hari ini kita cenderung pada apa yang disebut dengan simulacra karena manusia hari ini telah mengalami apa yang disebut dengan kehidupan inersia, selain daripada itu
dampak dari konsumerisme, kehidupan hari ini lebih mengutamakan tanda, bahkan tanda disamakan dengan realitas itu sendiri. Selain daripada itu lebih mengutamakan kemasan daripada isi.

Tanda dalam ilmu semiotika adalah sesuatu yang membentuk atau mengandung makna. Menjelaskan atau merepresentasikan konsep tentang : Penanda, yaitu bentuk atau media tanda seperti bunyi atau gambar. Dan petanda, yaitu makna. Dalam konteks simulacra kesadaran kritis sangat dibutuhkan karena dalam konteks kehidupan ini, manusia akan lebih mengutamakan penanda daripada petanda. Simbol lebih utama daripada sebuah makna. Dan terkesan representasi dan/atau citraan lebih dinilai sebagai realitas daripada realitas itu sendiri. Hyperrealitas tidak jauh berbeda dengan simulacra atau disebut realitas semua yang menjadi seolah – olah ada. Akibat hyperrealitas realitas fakta yang sesungguhnya kehilangan makna objektifnya.

Baca juga:  Bagaimana Seorang Muslim menyambut Ramadhan, Bulan Literasi?

Baik hyperrealitas maupun simulacra telah melahirkan kepalsuan dalam dunia. Bahkan di dalamnya kebohongan (hoax) diproduksi dan direproduksi. Maka disinilah kesadaran kritis sangat dibutuhkan agar mampu membedakan yang mana kebenaran/kebohongan dan asli/palsu.

Hyperrealitas dan simulacra ini turut berkontribusi menjadikan pandemi covid19 memiliki jelajah yang luar dan meningkatkan tensi kepanikan, termasuk mempertajam perbedaan perspektif dalam tindakan sebagai upaya preventif dari covid19. Selain daripada tumbuh subur narasi –narasi yang terkesan kurang bijak di tengah pandemi, dimana rasa empati, kolaborasi, konsistensi dan komitme kolektif sulit terwujud karena diduga ditengarai oleh sebuah konspirasi.

Selain daripada itu di tengah pandemic dan dalam situasi kehidupan yang hyperrealitas ada beberapa karakter yang cenderung nampak, jika meminjam perspektif Bernando J. Sujibto, maka karakter –karakter yang dimaksud dan itu bermuara pada hal negative adalah, kecenderungan melawan legalitas, otoritatif, grand narration dan fakta – fakta empiris.

Karakter negatif lainnya, terkesan kesadaran kritis kalah oleh luapan emosi dan opini. Ada kecenderungan untuk mengedepankan resistensi dan chaos. Dan kondisi yang lebih parah resistensi dan chaos hanya diangap sebagai permainan dan making fun.

Telah terang benderang, mengapa kesadaran kritis dibutuhkan, agar ada kebersamaan, kesatuan sikap dalam merespon dan melawan sebuah wabah, bukan sebaliknya, yang justru terjadi, manusia terkontaminasi dengan hoax.

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa kesadaran kritis berbanding lurus dengan spirit literasi. Literasi secara sederhana bisa dipahami sebagai sebuah kemampuan membaca dan menulis dan keterampilan lainnya yang digunakan dalam menemukan solusi atas setiap problematika kehidupan.

Agar kesadaran kritis tumbuh terutama bagi mahasiswa maka sangat direkomendasikan agar mahasiswa dalam hal membaca jangan hanya membaca informasi –informasi singkat di media sosial. Mahasiswa harus membiasakan dan meningkatkan minat bacanya terhadap buku konvensional dengan berbagai tema –tema yang relevan dalam kehidupan.

Baca juga:  Covid-19 sebagai Sahabat Lingkungan

Dan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari membaca, harus mampu diintegrasi –interkoneksikan antara yang satu dengan yang lainnya. Harus punya pemahaman dasar bagaimaka tentang logika, bagaimana tentang filsafat terutama tentang filsafat ilmu. Tanpa kecuali perlu memahami psikologi dan semiotika agar informasi yang luar biasa banyaknya beredar di media sosial bisa ditemukan yang mana patut dipercaya/tidak.

Seorang mahasiswa harus punya kemampuan dan memiliki alat konfirmasi salah satu bisanya media mainstream tertentu terpercaya untuk menemukan kebenaran sebuah informasi. Selain daripada itu, mahasiswa harus punya patron intelektual yang mumpuni sebagai sosok untuk meminta pandangan dan mengkonfirmasi sebuah kebenaran dari informasi yang diterima.

Mahasiswa sebaiknya mempunya kemampuan membaca secara filosofis dan ideologis tentang sesuatu yang nampak dalam realitas kehidupan tanpa kecuali yang mewarnai diskursus. Mahasiswa harus pula menyadari untuk memanfaatkan secara maksimal media sosial, untuk membangun narasi –narasi yang mencerahkan di dunia virtual. Agar bisa mengcounter narasi negatif yang menyesatkan dan menyesakkan.

Sebagai bentuk manifestasi dari kesadaran kritis, Mahasiswa harus menjadi jihadis cyber di dunia maya, memiliki empati digital. Apa itu empati digital? Adalah sebuah kemampuan kognitif dan emosional untuk menjadi reflektif dan bertanggungjawab secara sosial saat menggunakan media sosial.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...