5 menit waktu baca

Pandemi dan Kesadaran Kritis di Era Post Realitas (Bagian 1)

Oleh: Agusliadi

Judul tulisan ini merupakan tema diskusi online yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah dan saya diamanahi sebagai narasumber. Agar substansi bahasan yang ada bisa dipahami oleh termasuk yang tidak ikut serta dalam diskusi tersebut, maka saya merasa bahwa penting untuk saya tuliskan untuk selanjutnya diterbitkan di media online.

Berdasarkan judul di atas, minimal pembaca akan memahami seperti apa gambaran yang dimaksud kesadaran kritis dan harus dimiliki seorang mahasiswa. Setelah itu bagaimana kesadaran kritis Mahasiswa dikontekstualisasikan ke dalam era post realitas dan dalam situasi menghadapi pandemi, covid-19 yang sedang mengguncang tatanan kehidupan hari ini.

Mahasiswa secara etimologi adalah maha yang berarti ter/paling dan siswa adalah pelajar. Sedangkan secara terminologi Mahasiswa adalah orang yang terdaftar pada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang terdaftar pada semester berjalan dan sadar akan hak dan kewajibannya. Pada diri Mahasiswa melekat identitas sebagai kaum intelektual, insan cendekia. Dan bahkan mahasiswa sebagai generasi muda yang memiliki posisi strategis adalah sebagai mercusuar peradaban.

Selain daripada itu Mahasiswa memiliki karakter ideal sebagai agent of change, agent of analysis dan social of control. Selain daripada itu berdasarkan tipelogynya ada mahasiswa bisa dikategorisasikan sebagai mahasiwa yang kritis, organisatoris, akademisi, hedonis, oportunis dan apatis.

Tulisan ini sedang tidak bermaksud untuk menguraikan secara rinci tentang tipelogy mahasiswa tersebut. Mahasiswa meskipun memiliki identitas dan karakter ideal sebagaimana disebutkan di atas, tetapi kita juga menjumpai adanya mahasiswa yang tidak menyadari tentang realitas kehidupannya. Tidak menyadari apa yang sedang terjadi, terlambat menyadari dan lebih parah ada yang salah membaca realitas kehidupan.

Baca juga:  Sekolah Bagi Generasi Z

Dalam fabel, cerita tentang binatang, terdapat sebuah cerita yangmenggambar sikap yang tidak menyadari dan atau terlambat menyadari realitas akhirnya berakhir dengan kebinasaan. Suatu hari seekor katak terjatuh kedalam panci yang berisi air yang akan direbus. Karakter katak yang senang air, akhirnya katak itu gembira sekali, tetapi katak tidak mengetahui bahwa air itu adalah air yang akan direbus. Singkat cerita air itu direbus sampai mendidih dan apalah daya karena katak terlambat menyadari perubahan sekitarnya, maka dirinya binasa dalam air tersebut.

Selain itu ada dongeng tentang pangeran muda dan nenek sihir. Cerita ini saya kutip dan meringkasnya dari buku Hipersemiotika karya Yasraf Amir Piliang (2003). Pangeran muda diculik oleh si nenek sihir dan disembunyikan di atas sebuah menara yang tidak memakai pintu, hanya terdapat jendela yang bertali besi. Singkat cerita untuk bermaksud mendapatkan pertolongan sang pengeran muda membenturkan mahkotanya ke terali besi.

Benturan mahkota itu, menghasilkan suara yang sangat merdu dan terdengar oleh penduduk desa yang tidak jauh dari lokasi keberadaan menara tersebut. Namun yang ditangkap oleh penduduk desa, hanyalah suara merdu padahal dibalik itu, realitas sesungguhnya adalah ada seorang pangeran yang sedang membutuhkan pertolongan. Dongeng ini adalah contoh tentang kesalahan kita dalam membaca realitas kehidupan.

Tidak sedikit mahasiswa yang mengalami seperti fabel katak di atas termasuk dongeng penduduk desa yang menangkap suara merdu dari benturan mahkota sang pangeran di balik terali besi pada menara. Kondisi ini dan dialami oleh mahasiswa termasuk dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Termasuk tatanan kehidupan yang hari dikenal dengan post realitas tanpa kecuali di tengah pandemic yang melanda.

Baca juga:  Media Penerang Umat, Kreasi Pelajar Muallimaat

Salah satu yang menyebabkan sehingga kondisi sikap dan karakter yang seperti digambarkan di atas dialami oleh mahasiswa karena hilangnya kesadaran dan termasuk kesadaran kritis yang ada dalam dirinya. Kesadaran secara sederhana bisa dipahami sebagai bentuk kesiagaan, pemahaman, perasaan, orientasi termasuk refleksi atas sikap dan tindakan yan dilakukannya.

Ketika ada mahasiswa yang apatis, oportunis dan hedonis, bisa jadi karena hilangnya kesadaran itu atau dalam ilmu pengembangan diri bagi mengistilahkan hilangnya konsep diri tentang dirinya sebagai mahasiswa. Terkait kesadaran, kesadaran utama yang perlu dimiliki, sebagaimana saya pahami dari Asratilah adalah narasi ada, tentang ada atau keberadaan.

Apalah artinya sesuatu atau semua yang melekat pada diri jika kita tidak menyadari tentang keberadaannya. Identitas dan karakter ideal mahasiswa tidak memberikan arti dan manfaat ketika tidak menyadari keberadaannya.

Selain daripada itu berdasarkan penggolongan kesadaran manusia oleh freire (Mansour Fakih, 2001) terbagi atas tiga yaitu, magical consciousness (kesadaran magic), naival consciousness (kesadaran naïf) dan critical consciousness (kesadaran kritis). Di antara ketiga kesadaran ini, yang harus dimiliki dan/atau ditumbuhkan dalam diri mahasiswa adalah critical consciousness (kesadaran kritis).

Bagaiaman memahami secara sederhana bentuk, ketiga kesadaran tersebut di atas, sebagaimana penggolongan dari Paulo Freire. Magical consciousness (kesadaran magic) yaitu adalah sebuah kesadaran yang memandang bahwa apa yang terjadi pada diri maupun dalam kehidupan, itu merupakan takdir yang tidak bisa dihindari.

Bentuk kesadaran ini akan senantiasa bersikap pasrah terhadap keadaan yang ada. Naival consciousness (kesadaran naïf) adalah jika terjadi sesuatu pada diri maka cenderung langsung menyalahkan subjeknya, personnya. Sedangkan critical consciousness (kesadaran kritis) adalah kesadaran yang ketika terjadi sesuatu tidak serta merta menyimpulkan bahwa ini adalah takdir dan termasuk menyalahkan subjeknya, melainkan berupaya memahami relasi dan struktur yang mempengaruhi.

Baca juga:  Perihal Literasi dan Keselamatan Bangsa

Dalam ilmu pengembangan diri, kesadaran kritis ini relevan dengan sebutan empati yang melampaui sikap simpati. Jika simpati hanya berupaya membenarkan sebuah problem secara teoritik. Empati bukan hanya membenarkan sebuah problem secara teoritik tetapi berupaya berdasarkan pemahaman yang ada untuk menemukan solusi dalam wujud tindakan nyata.

Menumbuhkan kesadaran kritis dalam diri mahasiswa tentunya, bukan merupakan perkara yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Bukan pekerjaan satu hari. Upaya menumbuhkan kesadaran kritis harus dibarengi dengan spirit literasi yang mumpuni. Spirit literasi akan berbanding lurus dan berkorelasi positif dengan tumbuhnya kesadaran kritis dalam diri mahasiswa.

Upaya menumbuhkan kesadaran kritis bukan hanya melalui peningkatan spirit literasi tetapi segala sikap dan perilaku yang memungkin mengarah pada pencapaian tersebut harus menjadi habitus dalam diri kita. Seorang aktivis IMM Makassar (maaf lupa namanya) secara mudah pernah menjelaskan apa yang disebut dengan habitus sebagaimana perspektif Pierre Bourdieu.

Internalisasi eksterior yaitu sebuah proses menyerap realitas eksternal ke dalam diri untuk selanjutnya dilakukan eksternalisasi interior untuk selanjutnya diwujudkan dalam bentuk tindakan. Inilah yang secera sedernaha disebut habitus. Menyerap berarti memahami secara mendalam.

Komentar Facebook Sobat Taman Pustaka
Kuy, berbagi...