Pancasila dan Instrumen Dekolonisasi


Oleh Roynaldy Saputro

“Maka prinsip kita harus : apakah kita mau indonesia merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh ibu pertiwi yang cukup memberi sandang pangan kepadanya? Mana yang kita pilih saudara-saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau badan perwakilan rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, dinegara- negara eropah ada badan perwakilan, ada parlementaire democratie. Tetapi, tidakkah di eropa justru kaum kapitalis merajalela? Di amerika ada suatu badan perwakilan rakyat, dan tidakkah di amerika kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya ialah karena badan-badan perwakilan rakyat yang diadakan disana itu sekedar menurut resepnya fransche revolutie saja, semata – mata tidak ada sociale rechts vaardigheid – tak ada keadilan sosial, tidak ada economische democratie sama sekali”

Diatas adalah pidato bung karno, presiden pertama kita.
Pidato bung karno tersebut bertujuan untuk mengingatkan kepada masyarakat bahwa era kolonisasi sudah selesai. Dan untuk bertransisi ke cita-cita indonesia sendiri,sudah seharusnya warisan2 kolonial diberangus tanpa ampun. Untuk memberangus warisan-warisan kolonial saya memakai istilah dekolonisasi. Dimana dekolonisasi adalah perbuatan untuk mereduksi dan meruntuhkan sistem kolonisasi itu sendiri atau lebih singkatnya menghapus daerah jajahan.
Lantas kenapa harus di ucapkan bung karno tentang semangat dekolonisasi?
Tentu khlayak umum tahu, bahwa penjajahan yang berada di indonesia sudah sangat lama. Kolonial dan antek2nya terus mengeksplor sumber daya manusia indonesia dan sumber daya alam indonesia demi kepentingan kolonial. Kapitalis2 beruduyun berinvestasi segala macam bidang perekonomian yang ada di indonesia. Tentara, pegawai, dan pemwnerintahan barat berduyun-duyun menuju ke indonesia. Mereka menindas kehidupan masyarakat dg tersistem. Sampai pernah disebutkan oleh pramodya ananta toer bahwa penindasan yang dilakukan kolonial hampir disegala bidang kehidupan. Maka tidak salah ketika waktu itu memang masyarakat kita menjadi budak di negeri sendiri. pajak tinggi, tanah diambil, jiwa di adili, dan pikiran di kerdili. Kolonial menciptakan suatu pola kehidupan baru bagi masyrakat indonesia. Pola kehidupan yang mengajarkan tentang pemikiran yang terbelakang dan hegemoni kolonial dalam perekonomian dan bidang-bidang lain.
Dengan kondisi yang mengerikan tersebutlah ketika awal-awal kemerdekaan soekarno mengisi transisi tersebut dengan semangat dekolonisasi pemikiran liberal kapitalistik dan aset yang menjadi warisan barat di indonesia.
Salah satu hal yang dilakukan soekarno adalah dng menasionalisasi aset seluruh pabrik yang ada di indonesia tersebut. Dan memfungsikan pancasila sebagai dekolonisasi pemikiran liberal-kapitalistik. Kenapa pancasila? Karena pancasila mengajarkan nilai2 yang kontra diksi dengan nilai – nilai liberal kapitalistik. Salah satunya adalah point keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia yang mereduksi kepentingan kelompok liberal kapitalistik. Kepentingan kelompok liberal kapitalistik digambarkan jelas oleh soekarno dengan keberadaan badan perwakilan rakyat di eropah maupun amerika tetapi kapitalis masih tumbuh subur. Pertanyaan nya kenapa bisa seperti itu? Dalam teori nya mark di buku das capital, sebenarnya kapitalis akan sangat tumbuh subur jika berkongsi ke dalam negara. Berkongsinya bisa lewat jln konstitutional maupun intervensi2 kepentingan melalui kelompok tertentu. Hal itulah yg di sadari oleh soekarno sehingga tindakan beliau dalam menghilangkan warisan kolonial adalah dng mereduksi pemikiran kolonial yang tertanam di masyarakat indonesia dg menggunakan pancasila dan menasionalisasi aset2 kolonial yang berada di indonesia guna dikelola negara.

Dalam proses transisi tersebut, peran golongan islam sangatlah besar. Hal ini dibuktikan dengan bergabungnya golongan islam dalam golongan kebangsaan. Golongan kebangsaan inilah yang merumuskan dasar negara. Dan golongan islam yang diwakili tokoh ki bagus hadikusumo sepakat dg perubahan piagam jakarta ke rumusan pancasila yang dipembukaan UUD. Dari sikap itulah sebenarnya semangat dekolonisasi dalam golongan islam sudah muncul. Saat itulah kenapa tidak ada perdebatan mngenai pancasila. Pancasila sudah di anggap final. Dianggap final karena fungsi pancasila memang untuk tujuan dekolonisasi. Dan tujuan itu yang disepakati untuk mereduksi warisan2 kolonial.

Hal ini di kuatkan pula dengan kutipan dari M. Natsir. Dalam pidatonya tentang pancasila di depan the pakistan institute of world affair ( 1952 ).”Pakistan adalah negara islam. Hal itu pasti, baik oleh kenyataan pebduduknya maupun oleh gerak gerik haluan negaranya. Dan saya nyatakan indonesia adalah negara islam oleh kenyataan islam diakui sebagai agama dan anutan jiwa bangsa indonesia, meskipun tidak disebutkan dalam konstitusi bahwa islam itu adalah agama negara. Indonesia tidak memisahkan agama dari negara. Dengan tegaz indonesia menyatakan percaya kepada tuhan yang maha esa yang menjadi tiang pertama pancasila”.Begitulah bunyi M. Natsir, sungguh pernyataan yang menyejukkan pikiran. Hal itu terlihat terbalik dg sekarang spirit dekolonisasi dalam pancasila mulai luntur.

Menghilangnya spirit dekolonisasi dari pancasila sangat disayangkan. Karena setelah soekarno tidak memimpin, semangat itu hilang. Apalagi dengan dibukanya investasi besar2an dalam membangun infrastruktur negara. Hal itu juga bisa dilihat sekarang ini. Pancasila hanya sekedar slogan dg tidak diiringinya semangat dekolonisasi. Pancasila terjebak dalam kontestasi ideologi, menjadi alat hegemoni kekuasaan, dan ditafsirkan identik dengan nasionalisme-kultural semata. Seolah-olah ada semacam perekdusian semngat dekolonisasi dalam pancasila dan dijadikan hanya sebagai identitas kultural dan menepikan posisinya sebagai instrumen dekolonisasi. Secara nyata, negara belum bisa membawa semangat dan apa yang dimaksud oleh soekarno. Hal ini juga secara terang-terangan dikritisi oleh prof. Aidul fitriciada dalam naskah pidato pengukuhannya sebagai guru besar.

Tentu menjadi refleksi sejarah yang sangat penting, karena presiden pertama kita memang mencita-citakan negara kita berdikari. Dan itu bisa dilihat dari sikap2 beliau dalam dunia internasional. Yang menjadi pertanyaan sekarang, mampukah kita sekarang membawa semangat pancasila dalam mendekolonisasi neolib dan neo kolonial sekarang ini?

*penulis adalah pegiat perpusjal Kudus, terinspirasi dari naskah pidato pengukuhan guru besar prof. Dr. Aidul Fitriciadan Azhari S.H., M.Hum. beberapa bulan yang lalu