Pameran Literasi di Balik Jeruji: Rilis Media


Pameran ini diagendakan beragam aktifitas terkait literasi mulai dari bedah buku, pidato kebudayaan pustaka bergerak, lapak baca, pameran karya lukis, poster, buku, komik, dan lain sebagainya. Semua aktifitas ini akan dilanjutkan sebagai habitus baru di Lapas untuk mewujudkan mimpi pegiatnya yaitu Menuju Lapas Percontohan Sadar Literasi

”Dengan mencintai buku dan segala jenis literasi lainnya penduduk sebuah negara akan terbiasa berimajinasi dan memprediksi banyak hal”. Demikian kata wali kota Surabaya Tri Rismaharini, seperti dikutip KOMPAS Klasika dalam rubrik Rumah Pengetahuan, Senin, 19 Maret 2018, di sebuah artikel berjudul, ”Literasi, Literasi, Literasi”. Apa yang dikatakan oleh Bu Risma tersebut senafas dengan apa yang diperjuangkan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Narkotika Yogyakarta yang tergabung di dalam Komunitas Pecinta Buku Lapas atau disebut KOPIKU PAS.

Dalam peringatan Hari Dharma Karyadhika pada bulan Oktober 2017 yang lalu Menteri Hukum dan HAM RI menyampaikan pidato yang membesarkan hati. Dalam pidato tersebut beliau menegaskan pentingnya menumbuhkan budaya literasi di kalangan warga binaan pemasyarakatan. Tidak berlebihan jika hal tersebut dipahami sebagai acuan bagi arah program pembinaan untuk seluruh lapas di Indonesia. Menteri Hukum dan HAM juga menekankan untuk menyediakan fasilitas perpustakaan dilingkungan lapas yang memadai dan juga wadah untuk menyalurkan aktifitas dan kreatifitas membaca dan menulis. Fenomena yang terjadi setelah gencarnya kampanye war of drug adalah banyak warga negara yang berlatar belakang pelajar dan mahasiswa yang berpotensi dalam bidang tulis-menulis (literasi) menjadi penghuni lapas narkotika. Terobosan dalam wacana remisi dari aktifitas literasi di lapas menjadi salah satu harapan bagi warga binaan.

Bagi banyak orang penjara boleh jadi adalah “jalan buntu”, “kubangan kehinaan”, atau seperti yang dikatakan dalam sebuah syair dalam lagu dangdut, “tembok derita”; Penjara adalah tempat di mana rasa marah, dendam, dan perasaan terhina bertumpuk-tumpuk berjejalan menjadi satu. Bagi banyak orang tentu sulit untuk membayangkan bahwa energi kreatifitas dapat menggeliat dan hidup di dalam penjara. Tetapi di sisi yang lain, terutama bagi yang mengalami, penjara dapat disikapi sebagai tempat untuk menempa diri, melatih kesabaran, memupuk ketabahan, merajut harapan, cita-cita dan impian.

Di Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, hal yang disebut belakangan tersebut ternyata dapat terjadi di tempat kami. Bermula dari sekelompok WBP, warga binaan pemasyarakatan, yang merindukan aktifitas yang tidak saja dapat memberikan penghiburan atau pun sekedar untuk menghabiskan waktu melewati masa pemidanaan yang panjang, tetapi aktifitas yang dapat menjadi “ruang” bagi energi kreatifitas sekaligus dapat bermanfaat untuk menjalani hidup yang bermakna – kendati berada di dalam penjara. Mereka ini bertemu setiap hari minggu pagi di wihara Lapas. Sekelompok WBP tersebut kemudian memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas literasi yang diberi nama “KOPIKU”, komunitas pecinta buku. Dari mereka ini lah kegiatan pemeran literasi bertema, “Tinta di Balik Jeruji; Menulis Mimpi” ini tercetus.
Kami yang tergabung di dalam KOPIKU berharap, dengan tumbuhnya budaya literasi di Lapas Narkotika Yogyakarta pada khususnya, dan di lapas seluruh Indonesia pada umumnya, akan dapat membantu dan melengkapi arah program dalam system pembinaan bagi WBP. Karena literasi, kami yakini, berhubungan erat dan tak terpisahkan dengan logika dan rasio manusia, maka harapannya hal tersebut dapat mendorong WBP untuk bersikap rasional terhadap segala perkembangan yang terjadi – tidak reaktif dan emosional – dan lebih jauh, dapat mengembangkan diri demi hidup yang lebih berarti.

Kami bahkan bermimpi agar dengan kegiatan ini Lapas Narkotika Yogyakarta dapat menjadi Lapas Percontohan Literasi di tingkat nasional, sehingga Kemenkumham RI, Menkumham RI, serta semua pihak yang bercita-cita menumbuhkan budaya literasi di Indonesia dapat memberikan perhatian dan bantuan bagi tumbuhnya budaya literasi di Lapas Narkotika Yogyakarta; Agar WBP dapat menikmati fasilitas perpustakaan yang lebih memadai; Agar karya-karya literasi WBP dapat dicetak dan diterbitkan; Dan agar perpustakaan Lapas Narkotika Yogyakarta dapat memiliki koleksi buku bermutu yang lebih banyak lagi. Inilah salah satu motivasi kami untuk menyelenggarakan pameran literasi pada tanggal 3-5 Mei 2018 di dalam Lapas yang beralamat di Jalan Kaliurang KM 17 yaitu di Lapas Narkotika Klas II A Yogyakarta. Pada kegiatan ini, panitia mengharapkan kedatangan Nirwan Arsuka, Pendiri Pustaka Bergerak Indonesia untuk memberikan dukungan bagi masa depan gerakan literasi di Lapas.

Terakhir, dalam rilis ini kami juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Erwedi Supriyatno, Kepala Lapas Narkotika Klas II A Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan ruang tumbuh luar biasa bagi warga lapas, kepada Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), Rumah Baca Komunitas, Serikat Taman Pustaka, Komunitas Kutub, Forum Taman Bacaan Masyarakat, Taman Baca Temon, dan banyak pihak yang tidak tersebutkan satu-persatu di rilis ini yang telah memberikan dukungan sangat besar bagi rencana kegiatan ini. Seiring perkembangan persiapan kegiatan ini akan kami update berbagai kelompok, individu, relawan, yang turut mengambil bagian dalam kegiatan ini. Semoga kegiatan ini mendapatkan kemudahan dan kelancaran.
Yogyakarta, 7 April 2018

CP. Ibu Furi (+62 822-4357-0008)/ David (081357180841 )


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *