Pak A.R. Fachruddin Sang Penyejuk Umat*


Oleh : Roynaldy Saputro
( Pegiat Pusjal Kudus )

Hari ini, saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan salah satu buku karya Bapak Sukriyanto AR. Buku tersebut berjudul Biografi Pak AR, K.H. Abdur Rozaq Fachruddin cetakan Suara Muhammadiyah. Sungguh kesempatan berharga karena saya memang belum pernah menyelami beberapa pemikiran beliau. Mengingat saya tidak pernah berjumpa beliau, maka dari buku ini lah harapan saya untuk bertemu dengan sedikit pribadi beliau.

Ada banyak cara mengenal pemimpin. Sata mengenal A.R Fachruddin dengan membuat satu statemen: “Jika Sang Pencerah adalah K.H. Ahmad Dahlan Dan Sang Kyai adalah K.H. Hasyim Ashari maka Sang penyejuk adalah K.H. Abdur Rozaq Fachruddin.”

Menurut saya nama A.R. Fachruddin tentu tidaklah asing di masyarakat, apalagi dikalangan warga muhammadiyah. Beberapa waktu lalu sepenggal kisah dakwah beliau di filmkan. Ya, beliau memang Kyai yang cukup populer untuk umat muslim. Ke populeran beliau karena pernah secara rutin mengisi pengajian di stasiun TVRI, yogyakarta. Untuk warga muhammadiyah sendiri, beliau dikenal sebagai ketua umum PP muhammadiyah era orde baru. Beliau menjadi ketua PP Muhammadiyah pada tahun 1968 menggantikan K.H. Fakih Usman yang meninggal dunia. Beliau menahkodai muhammadiyah selama 22 tahun. Dan pada muktamar Yogyakarta beliau meminta untuk tidak dipilih dan selesailah kepemimpinan beliau pada tahun 1990.

Selain daripada itu, laki-laki kelahiran yogyakarta 14 Februari 1916 M ini juga pernah di angkat menjadi dewan pertimbangan agung Republik Indonesia pada tahun 1988. Sehingga semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia. Beliau wafat pada 17 Maret 1995.

Teladan dan penyejuk

“Orang Islam itu harus nderek sama gusti Allah SWT. Manusia harus menyadari kalau ia diciptakan oleh Allah SWT maka kesempatan itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Orang islam tidak boleh sombong, mudah marah dan kemaki, keminter dan rumangsa pinter. Sebagai muslim tatakramanya harus jelas. Tatakrama dengan Allah SWT juga tatakrama dg manusia”.
Di atas adalah perkataan beliau saat diwawancarai wartawan bernas pada tahun 1995. Menurut saya jawaban tersebut adalah nasihat kepada umat Islam dalam bersosial masyarakat dan dalam menghadapi kondisi yang sulit. Umat Islam diharuskan tetap rendah hati bagaimanapun keadaan yang dialami. Mencontoh Nabi SAW yang tetap tenang dengan apapun kondisi. Sederhana dan tidak berlebih-lebihan serta merasa cukup ( qanaah ). Sedangkan Kondisi yang sulit karena pada saat itu pemerintah memang membatasi hak bicara dalam berpendapat. Sikap beliau yang menjadi oase ditengah gurun pasir memang dinantikan dan disegani masyarakat. Hal itu dikarenakan metode beliau dalam berdakwah mampu diterima masyarakat dan mampu membaur bersama masyarakat. Begitupula tingkah lakunya yang mampu di contoh oleh masyarakat. Beliau dikenal dengan wajahnya yg teduh, murah senyum, sikap yang sederhana dan tulus serta dakwahnya yang damai, komunikatif, kaya dengan humor-humor segar, sehat dan edukatif. Dan yang terpenting beliau dicintai umatnya karena beliau juga mencintai umatnya.

Walaupun beliau adalah orang yang sejuk tetapi ketika ada yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kebaikan maka akan beliau lawan. Salah satunya lewat kalimat berikut : ” pokoknya saya tidak mau menjilat, kalau pemerintah salah ya harus kita ingatkan. Caranya, langsung bertemu dengan baik – baik, bicara baik-baik, tidak perlu demonstrasi. Amalkan saja perintah Al-Qur’an; Tawashau bi al haqq, tawashau bi ash shabr”.
Mungkin dari perkataan beliau menjadikan sikap muhammadiyah terhadap penerintah juga tegas dan mandiri. Tidak berharap apapun dari pemerintah. Hal ini tentu mengingatkan kita pada candaan presiden Joko Widodo dalam memberikan sambutan di agenda peresmian pendirian museum muhammadiyah di yogyakarta beberapa waktu lalu, beliau berstatement ” uang 300 Milyar darimana? ” . Hal inilah yang di contohkan, uang 300 M tidak berasal dari pemerintah, akan tetapi murni dari internal muhammadiyah.

Saran dalam memasuki muhammadiyah

Tentu sebagai ketua, beliau sering menasehati warganya untuk amar ma’ruf nahi munkar. Tak terkecuali menasehati bagi orang-orang yang ingin masuk muhammadiyah. Beliau menyampaikan 7 pesan bagi orang-orang yang ingin masuk muhammadiyah, atau boleh menjadi refleksi utk warga muhammadiyah sekarang ini. Pesan beliau adalah :
1. Pelajari dulu muhammadiyah
2. Pelajari asas dan tujuaannya
3. Pelajari khittahnya
4. Pelajarilah anggaran dasarnya
5. Pelajarilah anggran rumah tangganya
6. Pelajarilah kepribadiannya
7. Dan janganlah masuk muhammadiyah karena terpaksa.

Analogi perkembangan buah kelapa

sekarang perbedaan dan pengelompokan pemikiran umat menjadi suatu hal yang dirisaukan dalam beragama. Ada yang saling menyalahkan dan tidak mau bergaul atau untuk saling membenarkan. Tetapi dengan dakwah beliau. Beliau mempunyai pandangan lain dengan kondisi umat islam pada jamannya. Sebelumnya di era dulu masyarakat islam jawa dibagi menjadi 3 golongan menurut Cliffort Geertz yaitu abangan ( tingkat keagamaannya lemah dan cair), santri ( tingkat agamnya kental), dan priyayi (status sosialnya tinggi).
Tapi menurut pak A.R Fachruddin sendiri lebih sejuk dengan analogi perkembangan buah kelapa untuk melihat tingkat kualitas umat islam di Indonesia. Pengelompokan menurut pak AR Fachruddin adalah :
1. Manggar ( bunga kelapa )
Adalah perumpamaan dan gambaran atau simbolisasi dari mereka yang tingkar keimanannya masih pemula dan tingkat pemahammanya masih sangat dangkal.
2. Bluluk
Adalah bentuk awal dari buah kelapa, tapi masih kecil dan belum tampak tempurungnya. Bluluk menggambarkan atau simbol tethadap mereka yang sudah mengaku muslim, pengetahuan agamanya masih sedikit dan mengamalkan sebagian kecil sekali dari ajaran islam. Sudah melakukan sholat, puasa dan ke masjid tpi masih ikut-ikutan.
3. Cengkir
Adalah buah kelapa yang masih muda dan sudah ada dagingnya walaupun sangat lembut seperti jelly, dan sudah ada airnya. Cengkir merupakan simbolisasi terhadap mereka yang telah mengaku muslim yang pengetahuan dan pengamalan agamanya sudah lebih baik. Sudah sering sholat, puasa di bulan romadhon, zakat bahkan tidak sedkit yang sudah haji dan umroh.
4. Degan
Adalah buah kelapa yang dagingnya sudah agak tebal tapi masih lembut airnya sudah banyak. Degan menjadi simbolisasi untuk muslim yang pengetahuan dan amalan agamanya cukup luas. Ibadahnya sudah konsisten , sudah melakukan sedekah, wakaf. Dan memperkuat hablun minallah dan hablun minnanas.
5. Kopyor
Adalah kelapa yang rusak atau sakit. Kopyor adalah simbol untuk orang yang keyakinannya kacau, keislamannya kacau dan ibadahnya kacau.

Itulah beberapa hal yang bisa saya sampaikan. Untuk bisa berkenalan dan mendalami pemikiran beliau, pembaca bisa membaca buku biografi pak AR karya pak sukriyanto, dan buku soal jawab yang ringan-ringan yang dicetak ulang oleh suara muhammadiyah. Dan memang karya asli dari beliau alm. Kumpulan dari tanya jawab beliau ketika mengisi distasiun TVRI.

*judul terinspirasi dari H. M Muchlas Abror yang terdapat dalam buku biografi pak AR Fachrudin


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *