Pada Dasarnya, Muhammadiyah itu Gerakan Ilmu


Oleh: Ahmad Muttaqin Alim*

Kyai Dahlan adalah pembelajar yang ulet, ngangsu kaweruh dari para ulama di Nusantara maupun di Tanah Arab, baik bertemu langsung maupun membaca kitab-kitab dan majalah. Kemudian, baik sebelum dan sesudah mendirikan Muhammadiyah, aktivitas Kyai Dahlan adalah mengajar, menyebarkan ilmu kepada masyarakat di Kauman dan Yogyakarta. Yang masyhur adalah mengajar tafsir al-Ma’un dan al-Ashr, mengoreksi arah kiblat dan melakukan amal sosial. Mengajar adalah penyebaran ilmu, mengoreksi arah kiblat dan amal sosial adalah aplikasi ilmu. Inilah model awal gerakan ilmu Kyai Dahlan.

“Gerakan ilmu” Kyai Dahlan tampak juga pada fatwa-fatwa beliau ketika ditanya tentang amal-amal keagamaan yang dirasa memberatkan oleh si penanya. Kyai Dahlan menjelaskan bahwa apa yang ditanyakan itu tidak harus dilaksanakam karena tidak dicontohkan oleh Nabi, jadi tidak apa-apa bila tidak dilakukan, jangan sampai memberatkan.

Kenapa itu saya sebut sebagai gerakan ilmu? Karena prinsip ilmu adalah menelisik, konfirmasi, verifikasi dan mengungkapkan kebenaran. Ini sesuai dengan prinsip penelusuran adillah syar’iyyah, misalnya apa yang dikatakan Nabi ya harus dikatakan sebagai perkataan Nabi, yang bukan ya jangan dibilang sebagai perkataan Nabi. Dari prinsip itu lahirlah ilmu hadits, misalnya, yaitu ilmu untuk menemukan dalil yang asli bersumber dari Nabi. Nah ini adalah bentuk purifikasi, pembersihan dari dalil-dalil yang ternyata bukan dari Nabi. Tentu pembersihan ini bukan berarti pembuangan, tapi lebih tepatnya disebut sebagai proporsionalisasi: mana Qur’an, mana hadits, mana qaul ulama, dst.. sehingga bisa bisa dijadikan sebagai landasan sesuai proporsinya.

Jadi, sesungguhnya “purifikasi” yang dilakukan oleh Muhammadiyah selanjutnya itu mengikuti model cara berpikir dan berilmu Kyai Dahlan. Dengan kata lain, purifikasi gerakan Muhammadiyah adalah konsekuensi dari gerakan ilmu Kyai Dahlan. Ini agak berbeda dengan pendapat sementara orang yang mengatakan bahwa purifikasi Kyai Dahlan dan Muhammadiyah itu sama dengan Wahabi. Perlu diulangi, jadi sebenarnya cara berpikir “purifikasi” ala Kyai Dahlan dan Muhammadiyah adalah konsekuensi dari cara berpikir keilmuan ini. Tentu saja zaman Kyai Dahlan belum ada istilah purifikasi, bahkan belum ada istilah TBC. Itu ada jauh setelah Kyai Dahlan Wafat.

Pada saat yang sama berpikir cara keilmuan itu juga memiliki sifat dinamis. Temuan-temuan baru hasil dari berkembangnya ilmu otomatis membuat perubahan dan perkembangan. Maka wajar kiranya bila ada teknis ibadah Muhammadiyah saat ini yang sedikit berbeda dengan Muhammadiyah pada zaman Kyai Dahlan. Ini bukan berarti Muhammadiyah sekarang menyelisihi generasi awal Muhammadiyah seperti dituduhkan sementara orang, tapi justru karena kegiatan penelusuran sumber-sumber hukum yang dilakukan secara intens (yang kemudian dirumuskan sebagai “tarjih”, menemukan dalil-dalil “baru” yang lebih sahih) itu mengikuti semangat keilmuan Kyai Dahlan. Inilah yang disebut sebagai dinamisasi pemikiran keagamaan Muhammadiyah, disamping ada terma “dinamisasi” yang disematkan pada amal sosial Muhammadiyah.

***
Selain mengajar, Kyai Dahlan juga belajar. Beliau belajar ilmu organisasi dari berbagai pihak seperti Sarekat Islam dan Boedi Oetomo. Dari situ Kyai Dahlan lalu mengamalkan ilmu manajemen organisasi, lalu lahirlah Muhammadiyah. Dengan lahirnya Muhammadiyah, gerakan Kyai Dahlan makin berkembang. Tiang pancang dang tonggak keilmuan banyak berdiri. Di tahun 1918 Berdirilah Madrasah Mu’allimin sebagai realisasi gerakan pendidikan dan keilmuan dan terus bergulir dengan lahirnya sekolah-sekolah “modern” lain yang mengajarkan “ilmu-ilmu orang kafir”. Tak berhenti sampai di situ, gerakan ilmu Muhammadiyah melahirkan perguruan-perguruan tinggi di seluruh penjuru tanah air. Pada tahun 1919, Muhammadiyah mengirimkan bantuan kepada masyarakat terdampak erupsi Gunung Kelud. Kami menyebutnya ini adalah tonggal awal ilmu manajemen bencana dalam Muhammadiyah.

Pada saat yang beriringan, berdiri poliklinik Muhammadiyah pada 1923, cikal bakal ratusan rumah sakit Muhammadiyah. Banyak yang membaca berdirinya rumah sakit Muhammadiyah itu sekadar merupakan bentuk amal sosial muamalah. Bagi saya, selain sebagai amal sosial, rumah sakit sebenarnya adalah realisasi dari gerakan ilmu. Bagaimana tidak, teknik pengobatan di rumah sakit itu menggunakan metode ilmiah. Dan, yang sangat penting, pendirian rumah sakit-rumah sakit itu mengubah cara berpikir masyarakat kala itu dalam memandang penyakit dari cara pandang magis (tahayyul & khurafat) menjadi cara pandang ilmiah. Ada revolusi pengetahuan di situ!

***
Semangat berilmu Kyai Dahlan dan Muhammadiyah sangat kuat, bahkan mengalahkan segala kekhawatiran “kebablasan”. Sebagai contoh, Kyai Dahlan sangat suka berdiskusi dan mendengar ceramah. Kyai Dahlan pernah mengundang dan memberi kesempatan pada Kyai Misbach, tokoh komunis itu, untuk memberi ceramah tentang kondisi politik Nusantara; Kyai Dahlan pernah mengundang tokoh perempuan dari SDV – SI merah, Woro Sastroatmojo dari Kepanjen, untuk berpidato, memberi contoh cara berpidato yang baik kepada para perempuan Muhammadiyah, tanpa takut kebablasan berubah menjadi komunis. Pada kesempatan lain, Kyai Dahlan pernah dialog langsung membahas masalah-masalah sosial dengan pastur-pastur di Gereja Van Lich Muntilan; Bahkan di kemudian hari, Muhammadiyah mengundang tokoh Ahmadiyah dari India untuk berceramah dalam Kongres Tahunan.

Mengapa Kyai Dahlan dan Muhammadiyah bisa seberani itu? Ini karena prinsip “hati suci” dan etika welas asih yang dipegang kuat-kuat. Selama niatnya bersih dan penuh welas asih, tanpa nafsu mementingkan diri sendiri, murni mencari kebenaran dan hatinya selalu connected dengan Allah sehingga ucapan dan perbuatannya jujur dan tanpa keculasan, maka tak akan ada keraguan dan ketakutan dalam terus mencari ilmu dan kebenaran.

Jadi kalau ada generasi sekarang yang amat takut membuka diri dalam mencari ilmu dan kebenaran, berdialog dengan orang-orang yang berbeda pandangan, mungkin perlu belajar lebih dalam dari Kyai Dahlan dan Muhammadiyah. Akhirul-kalam, bagi kader dan aktivis Muhammadiyah, mari terus lestarikan gerakan ilmu dalam tubuh Muhammadiyah.

*Essais


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *